
Regan mengurus semua berkas termasuk surat-surat milik Maya. Tak ada pilihan lain, ia akan segera mengajak Maya ke luar negeri untuk ikut bersamanya. Tentang Sena, sepertinya Regan harus bisa melupakannya. Tak ada harapan lagi untuknya sama sekali. Regan akan membuktikan jika dirinya bisa membuat Sena menyesal karena tidak mau kembali padanya.
"Regan, kau yakin akan menikahi Maya padahal dia tidak mengandung anakmu?" tanya Bram melihat putranya tengah sibuk berkutat dengan kertas penting.
"Papa jangan khawatir! Maya adalah orang yang baik, aku tidak akan salah pilih. Terlepas dulu dia menjebakku namun pada akhirnya aku juga merasa nyaman dengannya dan justru terpikat dengannya," jawab Regan.
Bram mengusap punggung Regan, kini Bram akan merasa kesepian karena Regan juga akan pergi. Sebagai seorang ayah, dia akan mendoakan yang terbaik untuk Regan dana akan mendoakan keputusan Regan sangat benar untuk kembali ke Maya dari pada Sena yang akan membuat Sena semakin terluka akan masa lalu.
"Regan, jika pulang nanti segera bawakan cucu untuk Papa," ucap Bram.
Regan mengangguk, dia memeluk sang Papa dengan erat. Banyak sekali musibah yang diterima mereka. Regan juga menyuruh sang Papa segera untuk mencari pasangan baru dari pada terus sendiri. Bram belum memikirkan semua itu karena Intan adalah belahan jiwanya sampai kapanpun.
Hari demi hari terus berganti, pernikahan Regan dan Maya diselenggarakan di gedung tepat setelah 40 hari meninggalnya sang mama. Regan juga memundurkan jadwal penerbangannya hanya untuk menggelar resepsi besar pernikahannya. Memang banyak cibiran khususnya dari orang terdekat karena Intan baru saja tiada namun putranya malah sudah menggelar pesta pernikahan besar, namun bukan namanya Regan yang tidak keras kepala.
Maya sangat cantik dengan kebaya yang longgar karena perutnya sudah sangat membesar, orang lain mengira jika Regan sudah menghamili Maya duluan saat masih menikah dengan Sena makanya terjadilah sebuah perceraian itu namun lagi-lagi Regan tak ambil pusing dengan omongan mereka.
"Regan, terima kasih sudah mau menerimaku apa adanya walau kau tahu ini bukan anakmu," ucap Maya.
"Tak apa, kau sudah menjadi istriku dan tentunya anak yang ada dikandunganmu adalah anakku juga," jawab Regan.
Regan kembali menyapu ke penjuru ruangan itu, ia seolah mencari seseorang yang sudah dia undang secara langsung. Siapa lagi jika bukan sang mantan istri tercinta? Sena sudah berjanji akan datang dengan senyuman yang mengembang. Regan ingin tahu apakah kesombongan Sena yang akan bahagia melihat pernikahannya akan menjadi kenyataan? Apakah hanyalah bualan Sena saja?
Wanita sombong itu pasti tidak akan datang, dia pasti sedang menangis meratapi penyesalannya karena membiarkanku menikah dengan Maya lagi apalagi secara sah. Batin Regan.
Namun tiba-tiba ada polisi yang datang, mereka menangkap Aura dan juga Maya. Regan sangat terkejut apalagi sang istri ditangkap dengan paksa.
"Ada apa ini?" tanya Regan.
"Maaf, kami dari kepolisian memiliki surat penangkapan untuk Saudari Maya beserta adiknya karena di duga melakukan kasus tabrak lari dengan kesengajaan," ucap salah satu polisi.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Regan.
"Saudari Maya dan Aura menabrak Saudari Senarita sekitar 2 bulan yang lalu menggunakan mobil rental serta plat nomor yang dipalsukan."
DEG!!
Regan sangat terkejut, Maya menangis dan meminta Regan untuk membebaskannya karena dirinya merasa tidak ikut terlibat. Maya tidak tahu jika Aura mempunyai niat tersebut. Namun nasi sudah menjadi bubur, pengantin wanita itu harus ikut ke kantor polisi. Regan hanya terdiam sejenak sambil memandangi Maya yang dipaksa menuju keluar. Mata Regan seketika melihat saat Sena berada dipinggir pintu memperhatikan Maya dan sang adik ditangkap polisi.
Regan menghampirinya lalu menarik Sena membawa ke tempat yang jauh dari keramaian. Sena terus memberontak namun Regan tak memperdulikannya. Dia membawa Sena ke belakang gedung lalu mendorongnya ke tembok.
"Ini pasti rencanamu? Kau bahkan menghancurkan pesta pernikahanku dengan Maya. Apa kau cemburu padaku? Kau tidak rela aku menikahi Maya?" tanya Regan.
"Apa maksudmu?" tanya Sena memegangi bahunya yang terbentur tembok.
Regan mengunci tubuh Sena dengan kedua tangannya, ia mendekati wajah Sena sehingga membuat Sena sangat ketakutan jika tiba-tiba Regan menyerangnya.
"Aku bersumpah jika hidupmu tidak akan bahagia bahkan jika kau menikah dengan orang lain pasti kau akan kembali kepadaku. Aku dan kau tidak bisa terpisahkan semudah itu. "
Regan tersenyum kecut. "Aku tidak akan pernah melakukannya karena aku tidak pernah membunuh anakku. Kau saja yang saat itu teledor karena bisa jatuh dari tangga bahkan aku juga tidak mendorongmu."
BUUGGG...
Regan di pukul dari belakang oleh Devan, baru saja Sena ditinggal ke kamar mandi malah sudah mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari mantan suaminya. Devan mencoba menghajar Regan lagi namun dihalau oleh Sena.
"Sudahlah, orang gila jangan digubris!" pinta Sena.
Devan tetap tidak terima jika kekasihnya diperlakukan seperti itu bahkan menyumpahinya yang tidak-tidak.
"Regan, kau memang punya pikiran seperti sampah. Kau selalu menyalahkan Sena bahkan dia tidak tahu apa-apa," ucap Devan.
__ADS_1
Sena menarik Devan dan meninggalkan Regan secepatnya, Sena sangat takut jika perkelahian terjadi lagi. Sena mengajaknya masuk ke mobil dan lekas pergi dari sana. Mereka memutuskan untuk pulang saja namun Devan sedang tidak ingin pulang ke rumah. Entah mengapa pihak kepolisian baru menangkap Maya dan Aura saat pernikahan Regan dan Maya berlangsung.
Devan menggenggam tangan Sena dengan erat, kini mereka sudah berpacaran satu bulan lebih namun tak ada orang yang tahu kecuali Anjas. Devan juga masih menyembunyikan hubungannya dari Antony dan Sofia. Devan tidak mau membuat orang tuanya terutama sang Papa menghalangi hubungannya.
"Regan adalah orang pendendam. Kita harus hati-hati," ucap Devan.
"Aku lelah dengan semua ini, kenapa dia terus menyalahkanku? Bahkan dia merasa tak bersalah saat membuat janinku keguguran," ucapSena.
"Sena, dia akan terus menyalahkanmu jika dirinya tidak bahagia. Oh ya, ku dengar dia akan segera berangkat ke Eropa setelah tertunda cukup lama namun sepertinya akan tertunda lagi karena Maya akan segera ditahan." Devan menghela nafas panjang lalu melanjutkan ucapannya. "Kau bisa melaporkan Regan ke polisi setelah ini karena telah membuatmu keguguran."
"Pasti..." Sena mengusap air matanya yang membasahi pipi.
Devan langsung menarik tubuh Sena untuk bersandar padanya, dia mengelus dan membelai kepala pacarnya itu. Jika Regan pergi maka mereka bisa menjalin hubungan dengan tenang. Devan memutuskan mengganti acara kondangan menjadi acara ke taman hiburan saja, sebelumnya dia menjemput Kia yang sedang les piano. Setelah menjemput Kia, mereka langsung ke taman hiburan yang buka sejak siang tadi.
"Pah, kenapa bukan dengan Mama?" tanya Kia saat melihat Senam, bocah itu masih membenci Sena tanpa alasan yang jelas.
"Kia kenapa jadi membenci Tante?" tanya Sena sangat sedih.
Kia memalingkan wajah membuat Devan menghela nafas panjang. Putrinya memang sedang mengalami masa kelabilan yang hakiki bahkan juga sering marah pada Devan tanpa sebab.
"Kia, kau tidak boleh begitu. Tidak sopan. Kenapa ketus dengan Tante Sena?" tanya Devan.
Kia mencoba menatap Sena, ia malah meneteskan air matanya. "Tante 'kan janji ingin kasih aku adik tapi buktinya apa? Tante Sena bohong."
"Jadi ini alasanmu marah pada Tante Sena? Tidak ada hal lain?" tanya Devan heran.
Kia mengangguk sambil cemberut.
"Oke baiklah, Papa akan buatkan adik dengan Tante Sena. Mau?"
__ADS_1
Sena sangat terkejut dengan ucapan Devan. "Apa sih, Kak Dev?"