Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 76 : Romantis


__ADS_3

Regan menyuruh masuk anak didiknya ke dalam rumah, Bram tidak ada di rumah karena harus keluar kota. Malam ini dia tidak sendirian karena ada mereka. Mereka menyiapkan panggangan serta yang perempuan membuat minuman. Hanya ini yang mereka bisa perbuat sebagai kenangan untuk Regan. Regan tentunya sangat terharu saat melihat anak didiknya ternyata tak sepenuhnya membencinya. Regan pikir mereka tak menyukainya. 


"Pak, pikirkan lagi ke Eropanya! Pak Regan bisa kembali ke kampus dan mengajar kami lagi. Tidak ada Pak Regan terasa sangat hampa," ucap salah satu dari mereka. 


"Saya tidak bisa kembali ke sana karena suatu alasan yang tidak kalian ketahui," jawab Regan.


Dia akan sangat malu saat anak didiknya mengetahui perbuatannya yang mesum di kampus dengan salah satu dosen baru di sana. Regan ingin menutup semua masalalu dengan meninggalkan kampus itu. 


"Pak, kenapa tiba-tiba bercerai dengan Kak Sena?"


Deg...


Mereka langsung memelototi temannya yang melontarkan pertanyaan maut itu. Regan tersenyum kecil. "Dia memang pantas meninggalkan saya karena saya menduakannya. Jujur saja, saya tidak bisa setia dengannya."


Mereka saling menatap heran, mereka tahu apa maksud Regan. Ya, semua itu terjadi karena perselingkuhan, bumbu pahit pernikahan. Bukannya jijik justru Regan mendapatkan respon yang baik dari anak-anak didiknya karena sudah mau mengakui kesalahan walau harusnya Regan tak harus menceritakannya. 


"Setia itu memang mahal sekali, kalian juga harus setia dengan pasangan masing-masing. Saya memang sangat salah, saya mengakuinya." Dada Regan terasa sangat sesak. Mereka paham apa yang tengah beliau alami. 


"Jadi ini alasan Pak Regan ke Eropa?" 


"Ya, saya ingin lari dari kenyataan walau sangat sulit sekali."


Tak sedikitpun yang mengeluarkan air mata kesedihan. Mungkin ini yang terbaik bagi sang dosen untuk melupakan masa lalunya. Mereka lalu memberikan kenang-kenangan untuk Regan, sebuah jam tangan mahal yang dibeli secara patungan dan tertulis nama Regan. Regan terharu sekali, ternyata anak didiknya sangat menyayanginya. 


"Ini mahal sekali, kalian kenapa harus beli ini?" 


"Kami patungan, Pak. Tidak apa, ini hadiah dari kami." 


Regan sangat berterima kasih sekali, ia sampai meneteskan air mata. Ternyata masih banyak yang sayang dengannya dan berharap ia tak jadi pergi ke Eropa. Namun keputusannya sudah bulat karena terlalu banyak kenangan menyakitkan di sini. Mereka lalu melanjutkan acara mereka, memanggang sosis dan sebagainya. Regan memotret setiap momen malam ini, walau tidak semua anak didiknya datang dan hanya belasan saja namun dia sudah sangat senang. Regan berjanji akan datang kembali dengan keadaan yang sudah jauh lebih baik. 


**


Sena terlelap dipelukan Devan, ia sangat mengantuk sekali setelah menikmati makan malam yang romantis. Devan juga mendapat telpon dengan Kia, putrinya sudah sangat merindukannya. Devan dan Sena akan berangkat bulan madu ke Bali besok siang, sayang sekali Sena harus menstruasi. Setelah Sena terlelap, ia lekas mengerjakan pekerjaannya yang  memang tak bisa ditinggal lama. Sembari menatap laptopnya, ia mendengar suara dengkuran kecil dari Sena.  Dia tersenyum kecil, ia lekas mencium tipis bibir seksi itu. 

__ADS_1


Cup...


Devan lalu mencoba fokus pada pekerjaannya lagi sampai suatu ketika sebuah notifikasi dari ponselnya datang.


Kling...


Kia : Apa dedek bayi sudah jadi?"


Devan : Sayang, tak semudah itu. Sabar ya...


Kia : Papa sedang apa?


Devan : Ini mau tidur. Kau juga harus tidur.


Kia : Pah, Mama mengajakku tinggal bersamanya dan katanya Papa bukanlah Papa kandungku. 


Devan : Jangan pernah dengar ucapan Mamamu! Dia hanya ingin kau menjauh dari Papa.


Devan mengambilkan air putih, ia memberikan pada Sena. Tangannya memegang kening sang istri yang panas. Devan terkejut saat mengetahui istrinya demam.


"Kok tiba-tiba sakit? Biar aku panggilkan dokter."


Sena menggeleng, ia meminta handuk kompres dan obat penurun panas saja. Dia kecapekan karena main beberapa ronde sampai dirinya sakit. Sena tak pernah melakukan sampai beronde-ronde dengan mantan suaminya.


Devan sebagai suaminya langsung sigap, dia mengambilkan handuk dan obat demam yang selalu dia siapkan.


Dia memberikannya pada Sena dan tak lupa mengompres keningnya.


"Aku punya asma, aku gampang sakit jika kelelahan."


"Maafkan, aku! Aku tidak tahu hal itu. Lain kali aku tidak akan membuatmu kelelahan lagi."


Sena tersenyum, setelah dikompres ia mencoba untuk tidur namun suara ketikan laptop milik Devan semakin tak bisa membuatnya tidur.

__ADS_1


"Sayang?" ucap Sena.


"Ya?" jawab Devan.


"Berisik."


Devan mengernyitkan dahi, ia paham dan lekas menutup laptopnya. Sena merasa senang lalu menarik Devan untuk berbaring di sebelahnya.


"Begini dong, aku butuh guling," gumam Sena sembari memeluk Devan.


Devan mengusap rambutnya dan menciumi pipinya. Dia sudah membuat istrinya sakit di hari pertama menikah. Bagaimana untuk hari-hari selanjutnya? Huh... Mungkin saja Sena tak bisa berdiri lagi karena ulah nakalnya.


"Dengan Kak Re aku tak pernah seperti ini. Aku tak pernah memeluknya seperti guling karena kami berbeda kamar," ucap Sena.


"Oh ya? Jadi jika hasratmu tak terpenuhi lalu bagaimana?" tanya Devan penasaran.


"Pertanyaan macam apa itu? Aku wanita yang tak selalu butuh nafkah batin karena juga waktu itu masih polos tidak tahu apa-apa," gerutu Sena.


Devan tertawa kecil, ia sangat gemas dengan sang istri yang mengerucutkan bibirnya. Devan semakin memeluknya dengan erat, sama halnya dengan Sena, Devan sendiripun juga tak pernah memeluk mantan istrinya seperti ini. Winda selalu sibuk dengan pria lain bahkan pernah terang-terangan datang ke pesta membawa pria lain. Mungkin Devan memang bodoh namun dia masih mempertahankan rumah tangganya karena Kia. Walau Kia bukan anak kandungnya namun hanya Kia yang bisa tahu perasaannya. Devan sadar jika tak bisa mempunyai keturunan makanya dia memperjuangkan hak asuh Kia ke pengadilan yang sempat jatuh pada Winda.


Mereka berpelukan dengan erat sambil mengingat masa lalu yang menyakitkan. Namun, kini mereka sudah memiliki satu sama lain dan saling melengkapi.


"Kini hanya ada aku dan kau, mereka sudah memilih jalan masing-masing," gumam Devan. "Satu hal yang belum terwujud sampai sekarang adalah aku ingin berdansa dengan istriku menggunakan lagu favoritku," sambungnya.


Sena langsung terduduk. "Ayo kita lakukan!"


"Kau masih sakit."


Sena menarik tubuh Devan untuk berdiri. Dia menaruh tangan Devan pada pinggulnya lalu tangan Sena bergelayut manja pada lehernya.


"Oh ya, kurang lagu romantisnya," ucap Sena.


Devan langsung memagut bibir Sena dalam-dalam tanpa memberikan kesempatan untuk berbicara. Bukannya berdansa, mereka malah berciuman. Devan sangat menikmati momen kebersamaan ini. Dia sungguh bahagia.

__ADS_1


__ADS_2