
Sena dan Devan saling memandang, mereka tersenyum kecil tatkala Bram meminta dirangkaikan bunga dan bunga itu untuk seorang wanita, jarang sekali Bram meminta seperti itu kecuali untuk mendiang istrinya yang akan ia bawa dimakanyma. Tanpa pikir panjang Sena berdiri dari kursinya lalu mengajak mertuanya itu untuk memilih bunganya sendiri namun Bram tidak paham bunga seperti apa yang disukai oleh wanita.
Sena membantu memilihkannya, bunga mawar merah sangat cocok untuk Bram.
"Mawar merah?" tanya Sena.
"Terserah saja yang penting cocok untuk wanita."
Sena merangkaikannya, ia memang pandai menebak jika itu untuk seorang wanita namun dia enggan untuk bertanya karena tidak etis.
"Pak Bram, Regan sudah datang, kau tahu?" tanya Devan.
Bram mengernyitkan dahinya. "Datang ke mana?"
"Lah, Papa belum tahu jika Kak Regan sudah pulang dan kini sudaha menuju rumah Papa?"
__ADS_1
Deg...
Bram sangat terkejut sekali, dia menepuk jidatnya membuat Devan dan Sena sangat kebingungan. Bram meminta untuk menyimpan bunga itu untuk nanti sore dan dia akan mengambilnya lagi sepulang bekerja. Bram berlari masuk ke mobilnya namun dia lupa untuk meminta izin pada bosnya untuk meminta jam istirahat tambahan. Bram kembali masuk ke toko bunga Sena, ia menghampiri Devan.
"Pak Devan, aku minta tambahan istirahat 1 jam ya? Suratnya menyusul," ucap Bram sambil terengah-engah.
Devan mengangguk, Bram berlari lagi menuju ke mobilnya. Dia tak ingin Regan sampai tahu jika dia mempersiapkan sesuatu untuk Raisa yang berada di rumahnya. Setelah di dalam mobil, Bram langsung tancap gas tanpa basa-basi lagi dan mengebut. Dalam pikirannya hanya memohon supaya Regan belum sampai rumah.
Di sisi lain, setelah pulang dari penjara. Regan memutuskanj pulang ke rumah sang papa. Semoga saja pintu rumahnya tidak terkunci. Sesampainya di rumah, Regan mencari kunci rumah yang biasanya diselipkan di pot tanaman dan langsung ketemu. Setelah itu dia membuka pintu rumahnya lalu masuk dan menyalakan lampu, betapa terkejutnya saat melihat ruang tamu menjadi tempat makan yang romantis. Banyak balon dan hiasan yang menempel di dinding.
Bram masuk ke rumah dengan terengah-engah, ia menghela nafas panjang saat sudah ketahuan oleh putranya.
"Pah, kok jadi begini?" tanya Regan bingung.
Bram duduk untuk mengatur nafasnya, tubuhnya sudah tua untuk berlarian. Regan meletakan tasnya di atas meja dan ikut duduk disebelahnya. Dia memang sangat heran dengan gelagat sang papa.
__ADS_1
"Pah, kok ada hiasan seperti ini?"
Mau tidak mau Bram harus jujur, ruang tamunya ini dia rubah seromantis mungkin untuk makan malam dengan Raisa dan sekalian untuk melamarnya. Regan sangat terkejut sekali, pada akhirnya Bram menerima cinta Raisa sebelum terlambat.
"Papa ingin mengajaknya menikah karena tetangga membuat gosip tak sedap diantara kami. Raisa juga sering datang ke sini jadi Papa tak enak dengan tetangga," jawab Bram.
"Jadi Papa ingin menikahinya tanpa dasar cinta?"
Bram terdiam sejenak. "Papa berpikir memang butuh pendamping hidup. Papa sangat kesepian di rumah yang besar ini. Mungkin Mama akan marah pada Papa tapi..."
"Aku mendukung keputusan Papa. Menikahlah lagi! Mama dan adik-adikku pasti paham dengan keadaan Papa."
Bram memeluk Regan dengan erat, dia sangat berterima kasih saat putranya mau mendukungnya untuk menikah lagi. Regan melihat semua dekorasi yang Bram siapkan sendirian sebelum berangkat bekerja tadi pagi.
"Raisa tahu akan hal ini?"
__ADS_1
"Belum tahu, Papa ingin beri kejutan untuknya." Bram lalu menunjukan cinci berlian pada Regan yang untuk melamar Raisa.