Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 47 : Kejelasan?


__ADS_3

(Author : Saya ingin menulis apa yang ingin saya tulis.)


**


Regan dan Sena menuju ke rumah sakit. Dalam perjalanan Sena hanya terdiam, dia tak mau menatap Regan sedetik pun.


Sesampainya di rumah sakit. Regan berjalan duluan dengan tergesa-gesa, Sena mengimbangi langkahnya. Mata Sena menatap anggota keluarga Regan sudah berkumpul dan ada Maya juga. Perasaan Sena sudah tidak karuan mengingat ekspresi mereka sedih.


"Kak Re, apa yang terjadi?" tanya Sena.


Regan hanya diam lalu membuka pintu ruangan itu. Nampak Bram sudah menangis sedih di samping tempat tidur sang istri tercinta. Dia menatap Sena, Sena pun melihat Intan sudah begitu pucat dengan air mata yang menetes.


"Mama?" ucap Sena mendekatinya, air mata Sena ikut mengalir.


"Sena, kau orang terakhir yang harus menerima permintaan maaf dari Mama," ucap Intan sangat lemah.


Sena menggelengkan kepala. "Tidak, Mama tidak salah apa-apa."


Intan mengusap pipi Sena, mereka dulu sangat dekat bagaikan ibu dan anak walaupun Regan saat itu belum menganggap Sena sebagai istrinya. Keadaan semakin menyayat hati, Sena terus menangis seolah menyesal pernah ketus dengan beliau karena cemburu dengan kedekatan beliau dan menantu barunya.


"Maafkan Regan juga! Dia anak bodoh, Mama sangat menyesal karena malah mendukung Regan menikah lagi tanpa sepengetahuanmu bahkan dia menyimpan wanita lain dibelakang kalian," sambung Intan, nafasnya mulai terasa berat.


"Aku sudah memaafkan kalian sejak lama namun terkadang bibir ini sulit untuk mengatakannya. Mama harus kuat, aku tetap menantu Mama, maaf jika saat Mama sakit aku tidak bisa menunggu Mama," ucap Sena.


Mama mengangguk, ia merasa lega karena Sena memaafkannya. Sena mencium pipi mama mertuanya, ia sudah menganggap beliau sebagai mamanya sendiri.


"Mama sudah lega, Ma--ma ingin mene--mu-mui cucu mama y--yang te-l-lah lebih dulu pergi."


Sena menggelengkan kepalanya. "Mama jangan bilang begitu!"


Sena mundur perlahan, air matanya semakin tumpah bahkan kakinya tak mampu menopang. Bram menyuruh Regan untuk membawa Sena keluar, ia takut jika Sena malah pingsan.


Regan memapah Sena menuju ke luar, wanita itu sangat sedih.


"Aku belum bisa membuat Mama senang," ucap Sena.

__ADS_1


"Kau sudah memaafkannya membuat Mama senang," jawab Regan.


5 menit berselang, terdengar tangisan dari keluarga besar. Sena dan Regan mendekati mereka, Bram keluar dari ruangan dengan sangat lemas.


"Mama sudah tidak ada," ucap Bram.


Lemas, badan mereka seolah tak bertulang apalagi Sena yang langsung pingsan namun Regan menahan tubuhnya. Regan membawa Sena ke salah satu ruangan. Maya yang melihat mereka sangat cemburu. Maya malah memikirkan Regan dan Sena dari pada Mama mertuanya yang meninggal.


Di sisi lain.


Devan sedang menuju perjalanan ke rumah, ia membayangkan kedekatannya dengan Sena apalagi Sena sempat menggengamnya bahkan ingin menikah dengan Devan. Anjas yang sedang menyetir mobil melirik sang bos dari balik kaca spion.


"Pak Devan, Kak Sena seolah mempermainkanmu. Dia menerbangkanmu namun tiba-tiba menjatuhkanmu saat ada Regan. Pak Devan tidak sadar hanya sebagai pelariannya saja?"


Devan hanya tersenyum tipis. "Menghadapi Sena seperti menghadapi anak kecil. Jika aku tidak bersabar maka jalan lain hanyalah menunggu."


Anjas heran dengan sang bos, sepertinya Devan begitu mencintai Sena dengan tulus namun Sena masih menutup diri dari yang namanya menjalin hubungan lagi.


"Maaf, Pak. Namun ketimbang menunggu yang tidak pasti lebih baik memilih yang pasti saja. Contohnya Nona Davikah, dia lebih segalanya dari Kak Sena."


Devan membuka grup kantornya, ia membaca pesan jika istri dari Bram meninggal dunia. Untung saja Devan tak melarang Sena untuk menemui mama mertuanya.


"Anjas, kita ke rumah Pak Bram sekarang. Istrinya meninggal."


"Baik, Pak."


**


Pemakaman dilakukan malam itu juga, Bram tidak ingin menunggu sampai esok. Dia ingin sang istri tercinta segera dikebumikan. Banyak orang yang berdatangan termasuk orang-orang kantor.


Keadaan Sena sudah membaik bahkan kini sudah membantu membuatkan minuman untuk para tamu sedangkan Maya hanya mengurung diri di kamar dan beralasan sedang tidak enak badan.


"Sena, kau boleh istirahat saja di kamar," ucap Regan.


"Tidak, banyak tamu yang berdatangan setidaknya buatkan mereka minum," jawab Sena sambil mengaduk teh.

__ADS_1


"Kau tadi masih ingat permintaan Mama?"


Sena terdiam sejenak, permintaan terakhir kali ibu mertuanya tidak bisa ia wujudkan begitu saja.


"Maaf, aku tidak bisa," jawab Sena.


"Baiklah. Aku paham, tidak ada kesempatan untukku. Oh ya, aku akan menikahi Maya setelah 7 hari Mama meninggal. Aku akan membawa dia ikut bersamaku ke Eropa. Ku harap kau tidak menyesal."


Regan pergi dari dapur lalu masuk ke kamar di mana ada Maya di dalamnya. Air mata Sena menetes, sudah terbukti jika cinta Regan hanya untuk Maya dan bukan untuknya. Semua ucapan dan perjuangan Regan semuanya palsu. Hanya ucapan kosong yang tidak bermakna.


"Sena? Kok menangis?" ucap Bram dari belakang.


Sena langsung mengelap air matanya. "Ah, iya, teringat Mama."


"Mama sudah tenang di sana. Oh ya, Pak Devan sudah datang. Tolong buatkan minuman, ya!"


Sena mengangguk. Dia lekas membuatkan minuman untuk mereka. Tak mau bersedih karna ini sudah jalan yang ia pilih untuk melepas Regan. Cinta? Cinta itu memang sangat bodoh, disakiti berkali-kali namun seolah baik-baik saja.


Setelah teh telah dibuat, Sena membawanya ke luar. Devan sudah duduk di teras dengan para pegawainya yang lain, mereka turut berbela sungkawa dengan meninggalnya istri Bram yang tiba-tiba.


Devan menatap Sena yang bermata sembab, saat Sena akan masuk ke dalam rumah lagi tiba-tiba Devan menarik tangannya dan mengajaknya masuk ke dalam mobil. Sena mengikutinya tanpa penolakan sambil membawa nampan kosong.


"Aku memang tidak salah pilih, kau wanita yang baik dan sopan. Bahkan setelah keluarga mereka menyakitimu namun kini kau tetap menjadi sosok menantu yang baik," puji Devan.


"Pak Devan terlalu memuji. Ini sudah biasa dilakukan oleh menantu walau sudah tidak ada hubungan dengan putra mereka, menantu tetaplah menantu apalagi dulu beliau pernah baik denganku," jawab Sena.


Devan tersenyum kecil, ia mengusap rambut Sena yang menghalangi wajah ayunya.


"Aku ingin menanyakan suatu hal namun sepertinya saat ini kurang tepat."


Sena melirik Devan dengan serius. "Tanya apa?"


Devan menghela nafas panjang, ia menggenggam tangan Sena dengan erat, matanya mencari sorot cahaya dari mata Sena yang memancar ke arahnya.


"Hubungan kita ini apa? Teman? Sahabat? Atau apa? Aku hanya butuh kejelasan yang pasti. Umurku sudah tidak muda lagi, aku sudah punya anak yang duduk di bangku SD. Bisakah sedikit memberi kejelasan?" tanya Devan.

__ADS_1


__ADS_2