
"Papa bilang apa?" tanya Devan.
"Papa merestui kalian. Apa masih kurang jelas?" tanya Antony.
Devan langsung menciumi tangan sang Papa, ia sangat senang sekali saat sang Papa merestuinya. Antony memeluk putranya dengan erat, beliau selalu mendukung apa yang akan Devan lakukan apalagi itu untuk kebahagiaan Devan. Sena ikut bahagia, ia bahkan meneteskan air matanya.
"Kalian harus saling menguatkan dan jangan saling menyakiti!" pinta Antony.
Mereka mengangguk sambil terharu, restu dari orang tua masing-masing sudah mereka dapatkan dan kini hanya tinggal memilih tanggal yang pas saja. Setelah itu mereka makan bersama, Sena sangat diperlakukan dengan baik oleh Sofia maupun Antony. Namun tiba-tiba bayangan masa lalunya terlintas ketika Bram dan Intan juga memperlakukannya dengan baik.
Sekarang Papa Bram bagaimana ya? Dia sedang apa?
"Sena, makanannya enak?" tanya Sofia.
"Enak sekali, Tante," jawab Sena dengan sopan.
Devan menambahkan banyak lauk di piring calon istrinya itu, ia sangat terlihat menunjukan rasa perhatiannya pada Sena. Devan sangat menyayangi wanita itu sampai cepat melupakan masa lalunya dengan Winda. Seusai makan, Sena memutuskan untuk pulang karena hari sudah malam. Devan berencana untuk mengantarnya pulang namun Sena tidak mau karena membawa motor sendiri.
"Sena, hati-hati. Jangan ngebut di jalan!" ucap Antony.
"Baik, Om. Saya permisi dulu. Sampai jumpa, Kia."
"Dada Tante cantik," jawab Kia sambil melambaikan tangannya.
Sena lekas melajukan motornya menembus jalanan yang masih ramai. Dia tersenyum sendiri ketika membayangkan kejadian hari ini. Malam ini sangat terang benderang seolah mengerti keadaannya yang sedang ceria. Cuaca hari ini sedikit dingin, ia memutuskan untuk mencari minuman jahe hangat yang di sekitar sana. Mengingat jahe hangat, ia langsung memikirkan Bram. Sesampainya di depan si penjual, Sena memarkirkan motornya dan memesan 3 jahe hangat.
Di ujung jalan sana, ada Devan yang mengikutinya naik mobil. Devan tidak tenang saat sang istri harus pulang sendirian naik motor. Sebenarnya Sena sudah biasa pulang pergi sendiri namun Devan tetap tidak tenang.
10 menit berselang.
Sena menaiki motornya lalu bergegas meninggalkan tempat itu, Devan mengikutinya lagi. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang mengikuti motor Sena. Tak lama berselang ia menemukan fakta jika calon istrinya pergi ke rumah Bram. Devan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan lalu berjalan sebentar melihat Sena yang masuk ke rumah Bram.
"Papa? Ini aku, Senarita," teriak Sena.
Pintu rumah terbuka, Bram melihat kedatangan Sena lalu menyuruhnya masuk sedangkan masih menunggu di sekitar sana.
__ADS_1
Sena menyerahkan jahe hangatnya pada Bram, ia merasa sangat kasian dengan Bram setelah kehilangan sang istri. Bram mengambil gelas lalu meminum bersama-sama dengan Sena. Bram melihat wajah Sena yang berbinar-binar.
"Ibumu pasti sangat senang sekali melihat putrinya kembali bahagia," ucap Bram.
"Oh ya, Papa belum cerita bagaimana Papa dan Ibuku bisa dekat," tanya Sena penasaran.
"Itu cerita lama."
Sena tersenyum sambil meminum jahe hangat yang dia beli tadi. Suasana rumah ini menjadi sepi setelah kepergian Intan pasti Bram juga merasa kesepian. Pintu kamar Regan terbuka, Sena pun menoleh. Mereka bertatapan cukup lama namun Regan akhirnya menutup pintu kembali. Bram menghela nafas panjang, ia tak tega melihat putranya menjadi seperti itu.
"Maafkan aku, Pah! Gara-gara aku Kak Regan menjadi sepert itu."
Bram menggelengkan kepala, Sena tak bersalah apa-apa justru membuat Regan menyadari kesalahannya. Karena ini sudah malam dan tidak enak dengan para tetangga maka Sena memutuskan untuk pulang saja, ia sudah lega melihat Bram yang baik-baik saja.
"Pah, aku pulang dulu ya. Nanti jika aku akan segera kirim undangan ke Papa."
"Baiklah, Sena. Senang sekali bisa melihatmu bahagia."
Sena mencium tangan Bram, ia lalu segera pergi dari rumah itu. Motor ia lajukan menembus dinginnya malam. Bulan yang tadi terang benderangpun kini mulai tertutup gelapnya awan. Hanya semakin dingin dan menusuk tulang, ia mempercepat laju kendaraannya sampai di suatu jalan yang sepi ia bertemu dengan segerombolan orang yang membawa senjata tajam.
Sena menelan ludah secara kasar, ia sangat ketakutan dan memilih tancap gas saja namun orang-orang itu malah mengejarnya.
Kejar-kejaran pun terjadi bahkan motor Sena dipepet oleh orang-orang tadi. Sena semakin panik saat salah satu orang mengayunkan senjatanya membuat Sena menghindar namun membuatnya oleng dan terjatuh. Sena sudah sangat ketakutan, orang-orang tadi semakin mendekat namun tiba-tiba sebuah kendaraan menghampirinya. Sena menatap kendaraan roda dua itu seolah tidak asing baginya. Ya, motor itu milik Bram. Sebuah motor trail yang sering mangkrak karena Bram jarang menggunakannya.
"Papa Bram?" ucap Sena.
Mobil Devan pun terlihat, dia keluar dan ikut menghajar mereka menggunakan tangan kosong. Pemotor yang menggunakan helm itu terus menakuti orang-orang menggunakan motornya.
Setelah orang-orang jahat itu pergi. Devan mendekati Sena dan tentunya menanyakan keadaannya.
"Kak Dev." Sena memeluk Devan dengan erat.
Sementara pemotor itu membuka helmnya.
"Sudah ku duga jika itu Regan," ucap Devan.
__ADS_1
Regan turun dari motornya lalu bersimpuh di depan Sena. Air matanya tumpah seolah menyesali setiap apa yang dia dulu pernah lakukan.
"Senarita, kembalilah padaku! Aku minta maaf."
Sena dan Devan memandangi pria yang bersimpuh di depannya itu.
"Bangunlah, Kak Re! Ku mohon jangan begini!"
"Beri aku kesempatan untuk memperbaikinya."
Devan menghela nafas panjang, ia menarik Sena untuk masuk ke mobil tanpa harus memperdulikan Regan yang semakin tidak waras itu. Sena mengikuti calon suaminya sambil melirik Regan yang masih bersimpuh di bawah awan yang mendadak mendung dan air hujan yang menetes.
Hujan semakin deras saat Sena dan Devan masuk ke mobil. Sena memandang Regan masih diposisi seperti tadi dan hujan mengguyur tubuhnya yang rapuh.
"Dia pria yang keras kepala sama seperti aku dulu yang memohon pada Winda untuk kembali bersamaku lagi," ucap Devan sambil memandangi Regan.
"Kak Devan pernah begitu?"
Devan mengangguk, ia tersenyum kecil mengingat kebodohannya. Tangan Devan meraih payung yang ada di kursi belakang lalu keluar menggunakan payung tersebut. Dia berjalan menghampiri Regan yang masih terpaku dibawah air hujan.
"Pulanglah! Kau bisa sakit," ucap Devan.
"Kenapa harus kau yang menghampiriku? Kenapa bukan Sena?" tanya Regan.
"Karena pengorbanan Sena lebih banyak untukmu dan dia sudah lelah dengan sikapmu."
Devan melempar payung tepat di depan Regan lalu membantu pria itu untuk berdiri. Setelah Regan benar-benar berdiri, Devan memberinya sebuah pelukan hangat.
"Kau pria yang hebat, Re. Kau seorang dosen hebat serta memiliki pendidikan yang bagus. Sayang sekali jika harus seperti ini hanya untuk wanita yang sudah kau buang," ucap Devan.
"Tolong kembalikan Sena padaku! Apa kau tidak sadar jika tidak akan bisa memberinya kebahagiaan karena kau mandul?"
Devan sangat terkejut dengan pernyataan Regan. Tahu dari mana Regan tentang rahasia itu?
"Tanpa anak pun kami bisa bahagia," jawab Devan.
__ADS_1
"Mustahil! Kau egois jika tetap ingin menikahinya dalam kondisi seperti itu," ucap Regan.