Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 92 : Hamil?


__ADS_3

Arya masuk ke rumah, beberapa detik kemudian dia keluar dari rumahnya. Di tangannya terdapat senapan yang siap menembak Bram. Regan keluar dari dalam mobilnya, ia menarik sang papa untuk pulang saja. Bram setuju, ia tidak ingin mati konyol di sini namun sebelum pulang, ia mencium bibir Raisa sekali lagi lalu lari masuk ke mobilnya sambil menjulurkan lidah pada Arya seolah mengejeknya. Arya sangat kesal sekali sedangkan Raisa masuk ke dalam untuk mengambil sesuatu setelah itu ia menghentikan mobil Bram.


"Tunggu!"


Bram membuka kaca mobilnya.


"Ini untuk eheeem... Mas Bram." Nampaknya Raisa sangat malu menyebutnya dengan sebutan Mas.


Regan yang mendengarnya hanya bisa merasa merinding.


"Terima kasih, maaf. Acara lamarannya jadi seperti ini. Aku tidak tahu jika kau anaknya Arya."


Raisa mengangguk, ia mencium pipi Bram sekali lagi lalu masuk ke rumah. Dirinya sudah tidak memperdulikan Arya yang sedari tadi memelototinya dengan tajam, Raisa sudah umur 35 tahun, dia tak ingin di kekang lagi dalam hal percintaan. Bram meninggalkan mobilnya dan segera pulang. Sambil menyetir mobil dia terus membayangkan saat dirinya berciuman tadi.


"Regan, soal tadi tolong lupakan!"


"Yang mana?"


"Saat kami berciuman. Papa khilaf sekali."


Regan tertawa kecil. "Khilaf apa doyan?"


"Seperti kau tidak merasakan saja. Kau juga harus menikah lagi, Re. Sena sudah bahagia dengan suami barunya. Untuk apa terus menyalahkan diri sendiri? Bukan kau saja yang merasa bersalah pada Sena namun Papa juga salah dengannya."


Regan hanya terdiam, ia hanya ingin ketenangan saja untuk hari ini. Tak dapat dipungkiri lagi jika dirinya memang sangat menyesali perbuatannya. Andai saja jika dirinya menganggap Sena sebagai istrinya pasti Sena dan sang mama masih tetap ada di sisinya sampai sekarang. Bram melajukan mobilnya dengan kencang, saat ini dia terus memikirkan cara mencuri hati calon mertuanya itu. Sampai suatu ketika Bram dan Regan melintasi toko bunga milik Sena, Regan memperhatikan seorang perempuan dengan penutup wajah mondar-mandir di sana dan sangat mencurigakan.


"Pah, bisa kita berhenti di ujung jalan?" tanya Regan.


Bram mengangguk, setelah mobil berhenti, mereka mengintip dari dalam mobil. Jalanan sudah sangat sepi sekali dan hanya beberapa kendaraan saja yang lewat.


"Regan, apa itu Maya?" tanya Bram.


"Kurang tahu, Pah. Namun, wanita itu sangat mencurigakan," jawab Regan.


Regan memandang wanita itu dengan lekat, ia memang yakin jika itu adalah Maya. Wanita itu mengeluarkan beberapa jerigen yang berisi air lalu menyiramkannya pada sekitar toko bunga itu. Regan dan Bram keluar dari mobil, mereka mengendap-endap untuk menghampiri wanita itu Semakin dekat, mereka semakin yakin jika wanita itu adalah Maya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" tanya Regan.


Wanita itu sangat terkejut sekali, dia berlari namun Regan mampu mengejarnya sedangkan Bram memastikan jika air di jerigen itu adalah bensin. Regan membawa wanita itu ke depan toko bunga lalu melepas penutup matanya.


"Maya? Apa yang kau lakukan?" tanya Bram sangat terkejut.


"Masih saja menganggu Sena? Apa maumu? Berapa uang yang kau inginkan?" ucap Regan sangat murka.


Maya hanya bisa menunduk, Regan menyeretnya untuk masuk ke mobil. Bram menahan Regan untuk kasar pada Maya.


"Pah, aku ingin membawanya ke kantor polisi. Aku sudah muak sekali jika Maya terus berulah."


Maya memasang wajah memelasnya pada Bram, Bram sebenarnya juga tidak tega namun sepertinya kali ini dia tak bisa banyak menolong. Regan membawa masuk Maya dan semua bukti ke dalam mobil. Maya hanya bisa menangis sedih.


Setelah sampai di dalam mobil. Bram lekas menyetir ke kantor polisi terdekat.


"Maya, kenapa kau sudah hidup enak dan damai masih saja menganggu Sena?" tanya Bram.


"Aku butuh uang," jawab Maya.


''Harusnya kau bisa belajar dari kesalahan masa lalu, bukannya menambah kesalahan yang sama. kau masih iri dengan Sena? Kenapa kau harus iri?''


Maya mulai meneteskan air mata, Bram yang memperhatikan dari kaca spion atas hanya bisa terheran dengan sikap Maya yang tak berubah sama sekali. Maya takut saat dia harus dibawa ke kantor polisi, maka dari itu dia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dia bisa melakukan itu.


"Aku sebenarnya disuruh oleh Alden. Aku dibayar dengan berapapun yang aku mau," ucap Maya yang tentunya membuat mereka sangat terkejut sekali.


**


Keesokan harinya.


Sena merasakan pusing yang menyiksa, dia berusaha ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Serafina masih terlelap bersama Devan, mereka semalam tidur bersama dengan Serafina berada di tengah.


"Hueek..." Sena merasakan mual yang menyiksa.


Dia memuntahkan cairan bening saja karena dari semalam dia tidak nafsu makan.

__ADS_1


"Hueeek..."


Devan mendengar suara itu lekas ke kamar mandi. Dia heran sekali karena Sena jarang seperti ini. Saat sudah masuk ke kamar mandi dia melihat Sena susah pingsan. Devan sangat khawatir sekali lalu segera membawa Sena ke atas tempat tidur. Devan menelpon dokter, ia takut jika Sena terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Sambil menunggu dokter, Devan mengambil air kompres untuk mengompres Sena. Terlihat Serafina juga ikut terbangun.


"Sera sudah bangun? Tunggu ya! Mama sedang sakit," ucap Devan.


Tangan Serafina seolah meminta gendong, Devan yang tidak tega lekas menggendongnya. Tak lama berselang, sang dokter datang. Beliau memeriksa keadaan Sena yang masih belum sadar. Devan berdoa supaya Sena tidak terjadi hal yang serius.


"Pak Devan, anda ingat terakhir Bu Sena menstruasi?"


"Ehm... tanggal 25 bulan kemarin."


Beliau mengangguk, ia lalu menghitung usia kandungan Sena. Usia kehamilan? Ya, Sena pada akhirnya hamil juga.


"Selamat Pak Devan, Bu Sena sedang hamil 3 minggu."


DEG...


Devan tentu saja sangat kaget sekali, dia memastikan tidak salah dengar. "Apa? Sena hamil? Benarkah?"


"Benar, Pak Devan. Untuk pemeriksaan lebih lanjut bisa datang langsung ke rumah sakit. Saat ini kondisi Bu Sena juga tidak sehat mungkin karena efek kehamilannya saat ini."


Devan merasa sangat terharu sekali, dia menciumi pipi Serafina. Kedatangan Serafina memang membawa keberuntungan. Devan lalu mengantarkan dokter tersebut sampai teras, setelah beliau keluar, Devan berjingkrak-jingkrak membuat para pembantu heran.


"Sena hamil. Istriku hamil," teriak Devan.


Para pembantu itu bersorak ikut merasakan kebahagiaan. Mereka mengucapkan selamat pada Devan.


"Selamat Pak Devan, kami ikut senang."


"Terima kasih. Tolong masak lebih banyak hari ini karena aku akan mengundang semua keluargaku untuk makan-makan."


"Baik, Pak Devan."

__ADS_1


Devan memandang Serafina yang ada digendongannya. "Sera, baru sehari datang kau sudah membawa keberuntungan bagi kami."


__ADS_2