
Teman? Batin Sena.
Sena berpikir sejenak? Teman mana yang akan ia undang. Semua temannya menghilang entah ke mana dan hanya tersisa beberapa orang saja. Devan memagut bibir Sena lagi ketika wanita itu melamun, lagi-lagi Sena sangat terkejut namun tak bisa menolaknya. Jujur saja, janda mana yang tidak akan tergoda oleh duda 36 tahun itu? Sena sangat beruntung bisa mendapatkan Devan. Devan melepaskan pagutannya, ia mengelap bibir Sena yang basah menggunakan tisu.
"Pedas sekali bibirmu," ucap Devan.
Devan melirik mangkuk bakso aci yang tergeletak di atas meja. Dia tertawa kecil, rupanya ciuman rasa bakso aci. Devan mengusap kepala Sena lalu masuk ke ruangannya sendiri. Jantung Sena sangat dag dig dug seakan mau meledak. Devan sudah dapat membuat hatinya berdebar dengan kencang.
Sena lupa ada berkas yang harus ditanda tangani oleh Devan, ia lekas masuk ke ruangannya yang hanya berbatasan dinding kaca lalu menyerahkannya. Devan baru saja duduk di kursinya lalu tersenyum memandang wajah Sena, setelah Sena meletakan berkas itu lalu ia ingin kembali ke ruangannya namun di cegah oleh Devan.
"Jika aku bukan seorang direktur, apa kau tetap mau menerimaku?" tanya Devan.
"Apa aku terlihat matre?" tanya Sena kembali.
Devan menggeleng. Bukan masalah matre atau tidaknya namun Devan bukanlah pemilik perusahaan, dia hanya memimpin saja dan mungkin suatu saat ia akan tergeser oleh anak dari rekan sang papa.
"Mungkin orang lain akan memandangku matre, mantan suamiku adalah seorang dosen lalu calon suami keduaku adalah seorang pemimpin perusahaan. Banyak sekali yang menganggap aku begitu bahkan aku tidak punya teman dekat untuk aku undang ke acara pernikahanku. Teman-temanku dulu menganggapku upik abu, remahan kripik yang bisa dibuang kapan saja."
Devan menatap lekat wajah Sena, ia juga tahu jika Sena tak memiliki teman dekat kecuali Ningsih dan Gladis. Sena tak pernah pergi bersama teman-temannya seperti wanita kebanyakan pada umumnya. Dia lebih suka menyendiri di kamar kost sambil menonton gosip di TV yang tidak jelas.
"Untuk teman-temanmu undang saja yang masih ada di kontak ponselmu. Jika memang tidak ingin mengundang mereka maka jangan dipaksakan!" ucap Devan.
Sena mengangguk, dia segera keluar dari ruangan Devan. Dia kembali bekerja sambil memakan bakso aci yang belum sempat ia habiskan. Devan memperhatikan calon istrinya, ia serba bingung, tidak memberi jatah undangan pada Sena maka pasti Sena akan tersinggung dan bila memberi pun juga membuat Sena tambah tersinggung.
Devan kembali bekerja, di sela-sela pekerjaannya, ia mendapat pesan dari guru Kia. Kia pingsan saat acara gladi bersih sebelum tampil malam nanti. Devan sangat panik, ia lekas keluar dan menemui Sena dulu.
"Sena, aku akan ke sekolahan Kia. Dia pingsan. Jika ada yang mencariku bilang saja sedang keluar," ucap Devan.
"Kia pingsan?"
__ADS_1
Devan mengangguk, dia sudah tidak ada waktu lagi untuk menjawab pertanyaan Sena. Dia pun bergegas keluar dari ruangan dan menuju ke sekolahan. Sena pun juga ikut panik namun dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya. Dia hanya bisa menunggu kabar dari Devan.
***
Devan mengusap pipi Kia, Kia kini berada di UKS dan sudah ditangani oleh dokter yang kebetulan ada di sana. Devan sangat khawatir dengan putrinya itu, ia sudah merawatnya dari bayi bahkan ketika Winda malah asyik memadu kasih dengan pria lain.
"Mama..." Kia memanggil Mamanya sambil membuka mata.
"Kia, kenapa tadi tidak bilang jika sedang sakit?" tanya Devan menatap Kia yang pucat pasi.
"Mama gak mau datang padahal ini pentas pertamaku." Kia mulai meneteskan air mata. Nampak kekecewaan begitu tergambar.
Devan sudah mengabari mantan istrinya untuk datang dan Winda mengatakan akan datang dengan kekasih barunya. Devan mencoba menelpon lagi, siapa tahu Kia hanya salah paham. Jelas-jelas Winda sudah mengatakan jika akan datang. Tak berselang lama kemudian, Winda mengangkatnya. Devan keluar dari UKS.
"Winda, kau datang 'kan sore ini ke pentas Kia?" tanya Devan.
"Tidak bisa, Van. Aku harus bertemu rekan bisnisku. Ini sangat penting," jawab Winda.
Winda mendengus kesal. "Huh... suruh Sena datang! Kia 'kan menganggap kekasihmu itu ibunya. Bahkan Kia selalu membandingkan aku dengan Sena dan mengatakan jika Sena jauh lebih baik dan selalu perhatian daripada aku. Sakit Van digituin anak sendiri."
Devan menghela nafas panjang. Winda memang kurang perhatian dengan Kia bahkan kini jarang menemui putri kandungnya sendiri. Namun Kia tetap ingin sang Mama di acara pentasnya. Devan meminta untuk kali ini saja datang karena walau bagaimanapun Winda adalah ibu kandung Askia.
"Win, apa susahnya datang? Kia hanya tampil tak sampai 10 menit, setelah itu kau bisa pulang," pinta Devan memelas.
"Eh, lo kok nyebelin sih, Van? Gue bilang gak mau ya gak mau. Gue ada kontrak kerja sama desainer Jerman. Lo bisa videokan jika Kia tampil lalu kirim pada gue. Mudah 'kan?"
Devan langsung mematikan ponselnya. Ibu macam apa yang mementingkan pekerjaan dari pada putrinya sendiri. Wanita itu memang tidak waras. Devan tak tahu apa lagi yang harus dikatakan pada Kia. Kia pasti sangat sedih sekali jika tahu Winda benar-benar tak datang.
Sore menjelang malam tiba.
__ADS_1
Sena sudah berganti pakaian untuk melihat Kia tampil untuk pertama kalinya. Kia sudah mempersiapkan penampilannya sejak berbulan-bulan yang lalu.
Setelah memakai lipstik, Sena menuju ke parkiran untuk mengambil sepeda motornya.
Dia lekas memainkan gas motornya lalu menuju ke sekolahan Kia.
Sena mengendarai dengan kecepatan kencang karena tidak mau terlambat menonton. Devan sudah mengabari jika Kia mau tampil asalkan Sena datang. Tentu saja Sena akan datang demi calon putrinya namun siapa sangka dia malah terpelanting saat melewati jalan yang berpasir.
BRAAAAK..
"Akh..." Sena memegangi lengannya yang terkena gesekan aspal.
Tidak ada orang di sekitar sana, ia tidak ingin terlambat segera berdiri dengan kaki yang pincang lalu kembali mengendarai motornya tanpa memperhatikan lukanya.
Sesampainya di sana.
Devan menunggu di depan gerbang. Dia melihat motor Sena mendekat sambil tersenyum.
"Kia sudah tampil?" tanya Sena.
"Sebentar lagi dia tampil," jawab Devan.
Sena memarkirkan motornya, untung saja dia langsung memakai jaket saat baru jatuh tadi sehingga Devan tak akan tahu luka di lengannya.
Mereka lalu masuk ke aula, sekolah ini memang mengadakan pertunjukan setiap setahun sekali namun baru kali ini Kia mendapat jatah untuk tampil.
Sena mencoba berjalan seperti biasanya padahal kakinya sangat sakit sekali dan lengannya perih akibat gesekan dengan jaket.
Mereka mencari tempat duduk dan duduk bersebelahan. Tangan Devan menggenggam tangan Sena.
__ADS_1
"Terima kasih sudah datang demi Kia."