
Devan dan Sena pulang ke rumahnya, ia harus mencari berkas yang harus dipersiapkan untuk mengadopsi Serafina. Devan memutuskan untuk segera mandi sedangkan Sena mencari semua berkas itu. Dalam hatinya terbesit rasa senang ia akan memiliki anak yang menggemaskan seperti Serafina namun di sisi lain dia merindukan Askia. Walau bagaimanapun Askia adalah anak pertama mereka yang tertulis di kartu keluarga. Dia juga sangat dekat dengan Sena.
Sena mengambil kunci mobil, ia pun tak berpamitan dengan Devan. Dia ke apartemen Winda untuk menjemput Askia. Untung saja dia tahu di mana Winda tinggal. Sena menyetir sendirian di malam hari bahkan belum mandi sama sekali. Tak bertemu sehari dengan Askia saja ia sangat rindu.
Sesampainya di sana.
Sena menuju ke kamar apartemen Winda, ia mengetuk pintu namun bertemu dengan seorang pria yang sempat membeli bunga di tokonya.
"Eh, Mas yang tadi?"
"Oh, kau yang jual bunga?"
Sena mengangguk, dia sekalian memberikan uang kembalian pada pria yang bernama Alden namun Alden menolaknya mentah-mentah.
"Jangan basa-basi! Apa maumu?" tanya Alden.
Winda lalu datang, ia memakai pakaian yang super seksi sekali. "Sena, kenapa kau datang ke sini?"
"Mana Kia? Dia ada di sini 'kan?"
Winda berdecih, ia mendorong Sena dengan pelan. Sena mengelap bahunya yang di dorong oleh Winda membuat wanita itu sangat kesal sekali seolah Sena jijik dengannya. Alden heran kenapa wanita penjual bunga itu mencari keberadaan Askia?
"Askia tidak ada di sini." Winda menutup pintunya dan Sena masih menggedornya.
"Keluar! Kembalikan Kia! Dia tidak pantas bersamamu," teriak Sena.
Alden masih heran kenapa Sena senekat itu. Winda menjelaskan semuanya jika Sena dalah istri dari Devan dan mantan istri dari Regan. Alden mengernyitkan dahinya, sepertinya ada tontonan yang unik.
"Bisa aku minta nomor wanita tadi?"
Winda menatap tajam, ia berdecih. Dia tak mau memberikannya. Alden tak masalah, dia sudah tahu jika Sena pemiilik toko bunga. Winda menatapnya dengan heran, pasti Alden akan merencanakan sesuatu kali ini. Winda duduk di sofa sembari membenarkan pakaiannya yang melorot.
"Hei, kau segitunya dengan Devan. Tak cukup aku, Kia dan perusahaan yang kau ambil darinya? Tolong hentikan!" ucap Winda.
"Kau diam saja! Katanya mau pergi?" tanya Alden dengan malas.
Winda mengambil tasnya, ia juga nampak mengambil ponselnya. "Jika bukan karena uangmu maka aku malas mengurusimu."
"Dasar wanita j*l*ng! Hahaha..."
__ADS_1
Winda hanya menatapnya jengah, dia lekas pergi ke sana menemui seseorang. Sedangkan Alden mulai mencari nomor kontak Regan, sudah lama sekali dia tak berjumpa dengan teman sefrekuensinya. Saat mencari nomor kontak Regan, ia menemukan media sosialnya. Alden melihatnya lalu menemukan foto pernikahan Regan serta Sena dulu. Alden sangat kepo kenapa kini Sena menjadi istri dari Devan?
Menarik. Batin Alden.
Di sisi lain.
Devan mencari keberadaan Sena, ia kelimpungan dan melihat mobil Sena tidak ada. Devan mencari sampai halaman rumah, ia menoleh ke kanan dan ke kiri namun tidak ada. Tak berselang menit kemudian, Sena datang menggunakan mobilnya. Devan membukakan pagar, ia heran kenapa Sena pergi tanpa berpamitan dengannya.
"Dari mana?"
"Beli martabak."
Devan menghela nafas panjang, dia merangkul Sena untuk masuk ke dalam rumah. Dia juga menyuruh Sena untuk mandi. Sena langsung mandi dengan cepat, sedangkan Devan menyiapkan makan malam termasuk menaruh martabak yang dibeli Sena ke dalam piring.
Setelah mandi, ia melihat Devan berusaha untuk menelpon seseorang namun terdengar helaan nafas yang seolah putus asa. Dia mendekati Devan dan mengambil nasi untuk sang suami tercinta.
"Menelpon siapa?"
"Askia. Dia tak mau mengangkat telpon dariku."
"Makan dulu, Mas!"
"Mas, nanti jam 8 kan ada pertemuan kan? Mas datang?"
"Iya aku datang."
Sena melihat tak ada semangat pada diri Devan, putrinya yang setiap hari manja dengan Devan kini sudah tidak ada di rumah ini.
"Mas, jika memang itu pilihan Kia untuk ikut dengan orang tua kandungnya maka Mas Devan harus ikhlas." Sena mengusap bahu Devan dengan lembut, dia menyandarkan kepalanya pada bahu Devan, tangan Devan mengelus kepalanya. Sungguh, semua ini tak ada akhirnya untuk Sena.
Setelah makan mereka memutuskan untuk ke hotel tempat pertemuan petinggi perusahaan. Mereka akan melakukan rapat dadakan yang dihadiri semua direksi termasuk Alden. Sena berdandan secantik mungkin menemani sang suami tercinta. Devan memandangnya sambil tersenyum.
"Istriku yang paling cantik sekali."
"Jangan gombal deh!"
Devan menciumi leher putih Sena, Sena merasa kegelian lalu lekas mengajak pergi sebelum semakin terlambat.
"Geli, Mas. Sudahlah! Ayo kita berangkat!"
__ADS_1
Devan tersenyum kecil, lantas ia merangkul Sena untuk masuk ke dalam mobilnya. Akhir-akhir ini dia tak menggunakan sopir pribadi, Devan lebih suka menyetir sendiri. Di dalam mobil, ia menyetel lagu sembari menikmati perjalanan.
Sena masih terdiam memikirkan siapa pria yang ada di dalam apartemen Winda. Apakah Alden? Sepertinya iya, Sena mencoba untuk bertanya pada sang suami.
"Wajah Alden seperti apa?" tanya Sena.
"Kenapa tiba-tiba bertanya?"
"Sebelum tadi beli martabak, aku mencari Kia di apartemen Winda namun bertemu dengan pria di dalam apartemen itu."
Devan sangat kaget. Dia seolah marah karena tindakan Sena begitu ceroboh.
"Untuk apa kau ke sana? Jangan berurusan dengan Alden ataupun Winda!"
Sena heran kenapa wajah Devan begitu sangat kesal. Sena baru sadar jika Alden merebut istri Devan. Mungkin membuat Devan trauma jika itu terjadi.
"Mas, aku ingin membawa pulang Kia. Siapa tahu aku yang mengajaknya pulang dia mau."
"Aku akan membujuk Kia sendiri. Walau bagaimanapun Kia sangat dekat denganku dan selalu merengek padaku jika meminta sesuatu. Mungkin mereka mengomporinya untuk membenciku."
Sesampainya di sana. Banyak orang yang sudah datang dan ternyata juga ada Kia. Kia duduk di bawah tangga sendirian sambil memainkan ponselnya. Devan lekas menghampirinya dan saat itu Kia melihatnya.
"Kia, nanti pulang ke rumah Papa, ya?"
Kia memalingkan wajah, ia tak mau memandang Devan.
"Tolong beri alasan kenapa kau marah dengan Papa supaya Papa bisa intropeksi diri."
Air mata Kia mulai menetes, Devan lekas mengelapnya.
"Papa masih menganggapku anak kecil. Umurku sudah 10 tahun dan sebentar lagi aku akan masuk SMP. Papa tak pernah jujur jika aku bukan anak kandung Papa. Aku sangat kecewa sekali."
"Papa minta maaf. Papa memang tak ingin memberitahu itu sampai kapanpun karena tak ingin membuatmu sedih."
"Tapi aku sudah terlanjur sakit hati. Aku mendengar semua itu dari mulut orang lain dan bukan dari Papa."
Lagi-lagi Devan salah, ia tak bermaksud membuat Kia terluka. Dia begitu menyayanginya seperti anak kandung sendiri.
"Kia, mulai sekarang Papa tak akan memaksamu untuk ikut dengan Papa. Kau boleh ikut dengan mereka jika kau mau. Papa memang jahat karena sudah menutupi ini semua," ucap Devan.
__ADS_1
Devan berjalan menjauhi Kia, ia sangat terluka sekali mengatakan hal itu. Tak apa, jika itu membuat Kia bahagia tak masalah.