Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 89 : Serafina


__ADS_3

Pagi hari yang cerah, secercah harapan untuk Devan dan Sena, mereka menyiapkan beberapa berkas untuk dibawa ke panti asuhan. Mengadopsi anak tak semudah yang dibayangkan, mereka harus melalui beberapa tahap terutama dalam pengurusan surat-surat penting. Devan masih berkirim pesan pada seseorang di dalam mobil, sedangkan Sena yang ada di sebelahnya merasa sangat kepo. Dia mengintip sebisa mungkin namun sayangnya Devan langsung mengetahuinya.


"Apa? Aku sedang berkirim pesan pada mantan suamimu itu," ucap Devan.


"Mau apa lagi sih menghubungi dia?"


"Kepo.."


Sena mendengus kesal, ia memalingkan wajahnya lalu seolah marah pada Devan. Devan tersenyum, tangannya mencubit pipi Sena.


"Jangan marah! Aku dan Regan memang masih ada urusan."


Sena tetap diam di tempatnya, ia tak memperdulikan ucapan sang suaminya. Devan yang melihatnya merasa sangat geli sekali, dia tahu jika Sena masih sangat trauma dengan Regan. Devan lekas menyimpan ponselnya, dia menarik tubuh Sena untuk mendekat dengannya, saat Sena sudah ada disebelahnya, wanita itu menoleh dan setelah itu Devan mengecup bibirnya dengan sekilas.


Cup...


Sena sangat kaget, dia menatap wajah Devan yang sangat tampan. Siapa yang tidak akan terpikat dengannya? Di umurnya yang ke 37 tahun ini, ia semakin matang dan menantang. Kulitnya putih serta hidungnya yang mancung membuat siapapun terpana.


"Dasar bandel!" ucap Sena sambil malu-malu.


"Kau kan suka yang bandel?"


Sena memalingkan wajahnya, ia tersenyum sendiri dan jantungnya berdegup dengan kencang. Mereka sudah setahun menikah namun rasanya baru kemarin berpacaran. Sesampainya di panti asuhan, anak-anak langsung berlari menghampiri mobil mereka. Sena keluar dari mobil dengan membawa banyak makanan. Anak-anak itu sangat senang sekali. Devan masuk ke dalam, ibu panti langsung mengajak Devan untuk bertemu dengan Serafina. Balita cantik itu tersenyum manis padanya seolah tahu jika itu adalah calon orang tuanya.


"Sera, rindu dengan kami?" tanya Devan sambil mengulurkan tangannya. "Mau gendong?"


Balita tersebut juga mengulurkan kedua tangan mungilnya, Devan dengan cepat segera menggendongnya dengan hati-hati. Semua ini membuatnya sangat senang sekali, ia bisa menggendong putrinya.


"Ibu, semua berkas kami ada di tas itu."


"Baik, Devan. Semoga Serafina bisa menjadi pelita hidup kalian. Kau juga bisa merubah namanya jika mau."


Devan menggelengkan kepalanya. "Tidak, Bu. Pasti orang tua Sera menamai itu ada alasan dan arti khusus. Aku tidak ingin merubahnya."


Devan mengajak balita itu keluar, Sena yang sedang membagi makanan seketika meneteskan air mata tatkala balita mungil itu menatap lembut dengan mata birunya. Sena menghampirinya, ia mengecup Serafina.


"Mas, Sera lucu sekali."

__ADS_1


"Iya, dia menggemaskan sepertimu."


Anak-anak yang lain seketika sedih padahal mereka ingin sekali diadopsi oleh Devan dan Sena. Mereka menundukan kepala membuat Devan langsung memperhatikan mereka.


"Ada apa? Kenapa sedih? Maaf, Om tidak sempat beli mainan," kata Devan sambil menggendong Serafina.


"Kami juga ingin punya Papa dan Mama."


DEG...


Sena dan Devan saling memandang, ia menjadi tidak enak dengan mereka. Seharusnya Sena dan Devan membawa Serafina tidak dihadapan mereka. Sena berjongkok di depan anak-anak itu,


"Kenapa sedih? Kami juga menganggap kalian anak-anak kami buktinya kami selalu datang kemari membawakan makanan dan mainan baru untuk kalian."


"Tapi kami tak diajak pulang."


Ibu panti lekas membawa mereka untuk masuk, setiap ada yang mengadopsi salah satu dari mereka maka mereka akan iri. Wajar saja, mereka juga ingin diadopsi dan mendapat kasih sayang seperti yang lain.


"Kapan-kapan kalian boleh main dan menginap di rumah kami," ucap Devan.


"Benarkah?"


"Mas, setelah ini apa kita mencari dokter khusus untuk Sera?"


"Tentunya, aku akan mencarikan rumah sakit terbaik untuknya."


Devan menciumi pipi balita bule itu, Serafina nampaknya sangat senang naik mobil. Mata bulatnya memandang ke arah luar.


"Kia bagaimana kabarnya? Aku merindukannya." Devan sangat sedih saat mengingat putrinya yang sudah tidak mau menemuinya lagi.


Sudah 10 tahun dia menjaga Askia dengan baik namun pada akhirnya dia malah pergi meninggalkannya.


"Mas tidak menelponnya?"


Devan menggelengkan kepalanya, ia sempat menelpon namun malah Alden yang mengangkatnya. Devan sudah tidak ingin berurusan dengan Alden, pria yang sangat licik sekali.


"Sera makan apa ya, Mas? Aku lupa bertanya pada ibu panti."

__ADS_1


"Dia makan bubur. Sera bahkan belum punya satu pun gigi, tumbuh kembangnya memang sangat lambat."


Sena memperhatikan dengan seksama, Serafina bukan seperti balita pada umumnya namun semoga saja dia bisa sembuh dan seperti anak seusianya.


Di sisi lain.


Regan sedang mengecek tugas mahasiswanya lewat email, dia menumpang wifi di cafe sambil meminum kopi dan beberapa camilan. Wajahnya yang tampan menjadi pusat perhatian. Seorang wanita yang ada di luar terus memperhatikannya. Dia sangat merindukan sosok Regan, pria yang dulu sangat mencintainya walau dirinya hanya istri kedua saja. Siapa lagi jika bukan Maya? Regan tak sengaja menatap jendela lalu melihat Maya yang sedang memandangnya. Maya sangat terkejut sekali, ia mencoba berlari namun sayangnya dia tersandung lalu terjatuh. Regan yang kaget lekas menghampiri lalu membantunya berdiri.


"Maya, kau tidak apa-apa?" tanya Regan.


"Kau mengenaliku?"


Regan membantunya untuk berdiri, ia juga mengambilkan tas yang tergeletak di tanah. "Wajahmu tidak berubah sekali."


Maya menunduk malu, baginya dia sudah tak secantik Sena dan seberuntung Sena yang mendapat suami baru yang kaya raya. Hidup Maya hanya dari belas kasihan orang disekitarnya saja.


"Regan, apa kabar?" tanya Maya.


"Kabar baik. Anakmu mana?"


Maya terdiam. "Bukankah itu anakmu juga bahkan kau dulu mempertahankan anak ini daripada Sena?"


Regan mendengus kesal, lagi-lagi yang dibicarakan adalah masa lalu yang membuatnya menjadi pria terburuk. Regan masuk ke cafe dan membereskan semua barang-barangnya. Maya mengikutinya.


"Regan, aku masih membutuhkanmu, anakku juga masih membutuhkanmu."


Regan menghela nafas panjang, ia tidak ingin mengulang kisah yang sama dengan Maya maupun Sena.


"Carilah pekerjaan! Hidupi anakmu sendiri! Aku sudah tidak bisa membantumu banyak."


Regan keluar sambil menenteng tasnya, Maya tentunya sangat sedih sekali tentang hal ini. Dia ditolak mentah-mentah oleh Regan, pria yang dulu sangat mencintainya.


Ini semua salah Sena, jika dia dulu bukan istri Regan pasti sekarang ini hidup kami sangat bahagia. Ini semua tak adil. Sena kini bahagia namun aku malah terlunta-lunta seperti ini. Batin Maya sambil memandang kepergian Regan.


"Hai, Maya? Apa kabar?"


Maya sangat terkejut tiba-tiba seseorang ada dibelakangnya.

__ADS_1


"Maaf membuatmu kaget, namaku Alden. Orang yang sudah mengeluarkanmu dari penjara." 


__ADS_2