
Pov Devan.
Aku lekas menutup telepon ketika Regan memberitahuku jika Alden bersama anak kecil di rumah sakit. Aku menutup laptopku dengan menyerahkan semua pekerjaanku pada bawahan ku. Aku sangat khawatir sekali jika anak kecil yang dimaksud Regan adalah Kia. Memang akhir-akhir ini keadaan Kia memang tidak sehat dan aku mengkhawatirkan hal itu. Aku berlari keluar dari kantor dan masuk ke dalam mobil, kali ini aku menyetir sendiri tanpa seorang sopir. Dalam perjalanan, aku sangat khawatir sekali dengan keadaan putriku apalagi beberapa hari ini aku tidak berkomunikasi dengannya.
Jika terjadi apa-apa dengan Kia. Aku tidak akan memaafkan Winda maupun Alden. Aku menyetir mobil membelah hujan yang mulai turun, dalam pikiranku Kia pasti terjadi sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku mencoba untuk berpikir positif namun apalah daya pikiran jelekku sudah membayang- bayangiku sedari tadi.
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung ke ruangan yang sudah diberitahu oleh Regan. Aku tidak menemukan batang menghitung Alden. Aku tidak menyerah dan terus mencari sampai ketemu. Sudah 10 menit aku berputar-putar untuk mencari keberadaannya dan aku putuskan untuk bertanya pada seorang suster mengenai pasien yang bernama Askia. Suster itu menunjukkan ruangan Kia yang sebenarnya dan aku langsung ke sana ternyata dia sudah dipindah ke ruang ICU
Aku sangat sedih sekali mendengar semua itu dan aku langsung ke sana menuju ke ruangan Kia berada. Sesampainya disana, aku melihat Alden sedang duduk termenung di depan ruangan itu bahkan Alden pun sangat kaget dengan kehadiranku.
Dia menatapku dengan amarah yang tinggi selalu mendorongku untuk pergi dari sana.
"Untuk apa datang kemari? Pergilah!"
Tentu saja aku tidak mau aku harus melihat keadaan dia.
"Ada apa dengan Kia?" tanyaku.
"Bukan urusanmu!"
Aku mengintip dari jendela, Kia memakai beberapa alat yang tak ku ketahui namanya. Aku semakin khawatir sekali dan mencoba bertanya sekali lagi, namun Alden hanya bisa diam membisu dan tidak menjelaskan semuanya satupun padaku.
Aku yang terlanjur emosi langsung memukulnya seketika, Alden yang tidak terima juga membalas pukulan ku. Kami bertengkar didepan ruangan Kia dan beberapa suster melerai kami dan mengancam kami akan diusir dari rumah sakit itu jika membuat kegaduhan lagi.
Aku mengalami hidung yang berdarah, sedangkan Alden mengelap sudut bibirnya yang juga berdarah lalu aku menatap dia lagi, hatiku terasa sakit sekali, jika Kia masuk rumah sakit kenapa Winda tidak memberitahuku? Aku mencoba menelponnya dan langsung menanyakan perihal Kia, namun sepertinya dia juga tidak tahu karena responnya juga sangat kaget sekali. Winda bergegas untuk pulang menemui putrinya sedangkan aku masih menatap tajam pada Alden.
"Apa sih maumu? Kia kenapa? Ada apa dengannya?" tanyaku sekali lagi.
__ADS_1
Dia lagi-lagi hanya terdiam saja sambil terus menghela napas panjang. Aku mendekatinya dan menarik kerah bajunya, dia pun langsung menepis ku dan mendorongku perlahan.
"Dia jatuh dari tangga darurat." Dia tiba-tiba menjawab.
"Apa? Kenapa bisa?"
"Dia berlarian di sana."
Aku tertawa kecil, sungguh alasan yang tak masuk akal. Kia sudah 10 tahun dan sebentar lagi masuk sekolah menengah pertama, dia berlarian? Tak masuk akal sekali apalagi di apartemen itu terdapat lift dan tidak mungkin Kia sampai berada di tangga darurat seorang diri. Alden menatapku dengan malas lalu mengusirku jika aku tidak mempercayainya. Aku tidak akan pergi begitu saja sebelum tahu apa yang terjadi dengan Kia. Aku meminta bantuan pada asistenku untuk menyelidiki semuanya termasuk rekaman CCTV di apartemen tempat tinggal Alden. Aku juga menghubungi Sena jika putri angkatnya kini berada di rumah sakit. Setelah itu aku menemui dokter yang menangani Kia dan mengaku jika aku adalah ayah kandung yang berhak tahu apa yang terjadi pada Kia.
Dokter menjelaskan semuanya jika Kia mengalami gegar otak akibat benturan yang cukup keras. Aku begitu sangat terkejut sekali ketika mendengarnya. Mataku mulai memerah ketika mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
Aku mengusap wajahku kasar. ini memang salahku yang membiarkan dia pergi bersama mereka, seharusnya aku bisa menjaga KIA dengan baik dan kemungkinan tidak akan terjadi seperti ini. Setelah mendapatkan penjelasan dari dokter, aku memutuskan untuk pulang sejenak untuk menjemput Sena. Dalam perjalanan pulang, air mataku terus saja keluar, aku menelpon beberapa orang terdekatku untuk memberitahu keadaan pria yang sebenarnya termasuk kedua orang tuaku yang sangat kaget mendengar semua itu.
Hujan turun dengan derasnya membuat aku menyetir dengan hati-hati, di rumah Sena sedang menunggu dengan cemas. Dia pasti juga sangat mengkhawatirkan putri angkatnya. Ponselku terus bergetar ternyata itu adalah Winda. Aku bertanya dalam hati apakah dia sungguh khawatir dengan keadaan putrinya atau hanya pencitraan saja? Wanita itu memang ular dan pandai berakting. Aku tidak akan pernah percaya dengan kepadanya lagi.
Aku terus menyalahkan diri sendiri, kenapa aku tak mencegah Kia untuk pergi dari rumah dan justru percaya kepada mereka berdua karena mereka adalah orang tua kandungnya. Penyesalan memang selalu ada diakhir, aku mencoba untuk mencari solusi yang terbaik untuk kesembuhan Kia. Jika perlu aku akan membawa Kia ke luar negeri untuk melakukan pengobatan terbaik di sana.
Sesampainya di rumah aku melihat Sena mondar-mandir di teras rumah dalam keadaan khawatir. Aku langsung menghentikan mobilku tepat di depan rumahku sementara itu Sena seolahmendekatiku dan memayungi ku sampai di teras. Mataku sudah sangat memerah, Sena tahu akan kesedihanku, dia lalu menyuruhku untuk masuk ke dalam rumah dan membuatkanku segelas coklat panas. Beberapa menit kemudian, coklat panas itu sudah ada di depanku dan aku langsung meminumnya sedikit demi sedikit. Pikiranku sudah sangat kacau sekali sampai beberapa kali Sena bertanya padaku namun aku tidak meresponnya. Sena menepuk bahuku dan kali ini pertanyaannya sangat pelan seolah tahu keadaanku jika tidak baik-baik saja.
"Kia kenapa, Mas?"
Aku mencoba mengontrol suaraku yang seolah menghilang. Aku menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Kia jika dirinya mengalami gegar otak yang cukup serius. Aku melihat Sena meneteskan air matanya, dia menangis sedih atas kejadian yang menimpa Kia.
"Kenapa Kia bisa jatuh? Apa yang terjadi?" tanya Sena.
Aku menggelengkan kepala karena memang belum tahu penyebab kecelakaan itu terjadi. Asisten ku masih mencari tahu dan jika Alden serta Winda terlibat akan hal itu maka aku tak segan untuk menjebloskannya ke dalam penjara. Aku tak main-main, aku sangat sakit hati sekali dengannya. Apakah Alden benar-benar ayah kandung Kia? Kenapa sikapnya tidak mencerminkan seperti seorang ayah kandungnya?
__ADS_1
Pov Sena.
Kenapa ini harus terjadi pada Kia? Apa yang membuat Kia sampai terjatuh di tangga? Apa ini ada unsur kejahatan dari mereka atau memang murni dari kecelakaan? Aku baru pertama kali ini melihat Mas Devan begitu sangat sedih dan terpukul. Putrinya harus mengalami kecelakaan seperti ini. Aku terus menenangkannya dan menyuruhnya untuk terus berdoa supaya Kia segera diberi keajaiban untuk bisa sembuh. Mas Devan terus mengirim pesan pada seseorang, aku melihatnya jika dia mengirim pesan pada sang asisten.
Wajah Mas Devan seolah menjadi murka dalam beberapa detik saja setelah melihat pesan tersebut. Aku yang kepo juga melihatnya ternyata Mas Devan melihat sebuah rekaman CCTV yang menunjukkan jika Kia dikejar oleh pria bule rekaman itu menunjukkan jika Kia baru saja keluar dari kamar pria itu bahkan pria itu mengejar sampai tangga namun sialnya di dalam tangga darurat tidak ada CCTV. Mas Devan langsung berdiri, dia begitu sangat murah sekali dan lekas menuju suatu tempat yaitu apartemen yang menjadi tempat tinggal Winda dan alden.
"Mas mau ke mana?" tanyaku.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang, Aku ingin ikut namun Serafina tidak ada yang menjaga. Devan menyuruhku untuk di rumah saja karena hujan turun dengan derasnya. Mas Devan berdiri, dia kan masuk ke mobilnya lagi dan aku langsung mencegahnya. Ini masih hujan deras apa dia tidak mau menunggu sebentar, namun Mas Devan sudah terlanjur kalut, dia penasaran sekali kenapa pria bule itu mengejar Kia.
Mas Devan mengecup bibirku sekilas. Dia meyakinkan jika dirinya akan baik-baik saja dalam perjalanan. Dia masih memikirkan aku, Serafina dan bayi di dalam kandungan ku sehingga dia tidak akan berani mengebut dalam menyetir mobil. Doaku selalu menyertaimu Mas Devan. Kau adalah orang yang sangat baik dan pasti Tuhan akan selalu membalas kebaikanmu juga. Semoga saja Tuhan juga memberikan titik terang pada kasus ini dan menyembuhkan Kia secepat mungkin supaya bisa berkumpul dengan kami.
***
Note Author : Wah tak sangka sudah 100 bab aja. Terima kasih yang sudah mau membaca kisah ini sampai detik ini. Aduh.. yang lain meninggalkan cerita ini begitu saja padahal ini gratis dan tak berkoin. Oke, pembaca selalu menang karena terserah mereka mau lanjut baca atau tidak.
Sesuai janjiku, aku akan mengadakan GIVE AWAY di bab 100.
Akan aku ingatkan lagi jika ingin mengikuti Give away memenangkan tas cantik harus follow instagram aku : Marr_mystory
Lalu like semua postinganku dan tinggalkan komentar untuk mempermudah dalam memilih siapa pemenangnya. Ada berapa orang? Hehe.. rahasia...
Oke ngos-ngosan sekali mengetik cerita ini dan aku harus upsdate lagi 5 bab lagi di pf sebelah... alamat ngetik sampe pagi. Semangat untuk diri sendiri :)
Semuanya, selamat tahun baru ya... semoga apa yang belum tersampaikan di tahun 2021 bisa terwujud di tahun 2022.
Amin.
__ADS_1
Cerita ini belum tamat, di tunggu updatenya ya. Terima kasih.