Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 91 : Bramasta


__ADS_3

"Sena, makan dulu yuk!" Devan mengajak istrinya untuk makan namun Sena menolaknya.


"Enggak, Mas! Aku gak nafsu untuk makan."


Sena sedang mengganti popok Serafina, balita gembul itu gampang sekali untuk tidur sehingga Sena tidak usah menidurkannya. Devan menarik tangannya supaya menuju meja makan namun istrinya itu tetap tidak mau. Tak ada pilihan lain, Devan mengambilkan makanan ke kamar dan mereka makan bersama-sama di sana. Mereka duduk di atas lantai, Devan menaruh sate Padang itu di atas piring lalu memberikannya pada Sena.


"Makan dulu! Kau sekarang susah makan. Takut gendut?" tanya Devan.


"Gak tahu juga," jawab Sena.


"Sera bagaimana? Menurutmu dia tidak bandel 'kan?"


"Sera baik, Mas. Dia selalu paham dengan yang aku ucapkan."


Sena mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dia mengunyahnya dengan perlahan namun setelah itu dia tidak mau melanjutkan makan. Devan heran, saat Sena akan naik ke tempat tidur dia menahannya.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Memangnya aku terlihat tidak baik-baik saja, Mas?"


"Bukan begitu, jika kau sakit bilang saja. Jangan ditahan!"


Sena tersenyum kecil, ia sangat senang sekali saat sang suami begitu perhatian kepadanya. Dia sangat beruntung memiliki suami yang baik dan perhatian seperti Devan.


"Aku baik-baik saja, Mas, tapi jujur saja semenjak hadirnya Alden aku menjadi was-was. Dia tipe orang yang licik 'kan? Aku juga kepikiran Kia. Setiap hari dia selalu manja kepadaku namun saat ini rasanya hampa sekali tanpa dia."


Devan menatap Sena dengan lekat, Sena lalu naik ke tempat tidurnya dan menarik selimut sampai dada sedangkan Devan harus memakan dua bungkus sate Padang seorang diri bahkan dirinya yang akhir-akhir ini berat badannya naik karena menghabiskan makanan milik Sena.


Di sisi lain.


Pukul 8 malam keluarga Raisa sudah menunggu kedatangan Bram, harusnya di jam 7 mereka sudah datang namun malah seperti ini. Raisa sudah berdandan cantik dari biasanya, ia khawatir jika Bram tidak jadi datang.


"Mana pria yang akan melamarmu? Dia sudah terlambat 1 jam," ucap Arya, ayah Raisa.


"Yah, sabar! Mungkin dia tersesat, jalan di kampung kita memang nyesatin banyak orang," jawab Raisa.


"Jika Ayah sudah masuk kamar maka artinya Ayah menolak pria yang akan melamarmu."

__ADS_1


Raisa menggigit bibir bawahnya, guru di sekolah menengah atas itu sudah dagdigdug takut jika Bram tidak datang. 15 menit kemudian, mereka tak kunjung datang. Arya sudah berdiri dari kursinya, ia akan melangkah ke kamar.


"Ayah, tunggu sebentar lagi!"


Arya tidak memperdulikan putrinya, ia mulai melangkah ke kamar. Raisa kecewa dengan Bram yang tidak datang sampai sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya. Arya membalikan badan, ia melihat 2 orang pria yang keluar dari dalam mobilnya. Raisa sangat senang, dia mempersilahkan mereka untuk masuk. Bram membawa banyak makanan, ia terlihat tampan kali ini.


Bram menyapa calon mertuanya itu namun Arya menatapnya tajam.


"Bramasta?"


"Kau Arya?"


Arya menggeretakan giginya, ia lalu mengusir Bram. "Pergi!"


"Ayah ada apa?" tanya Raisa.


"Kau ingin melamarkan anakmu untuk anakku? Tidak sudi. Lamaran kalian aku tolak. Silahkan pergi!"


Bram dan Regan tentunya sangat terkejut sekali, sepertinya ada salah paham di sini. Arya mengambil senapan yang terpajang di dinding ruang tamu itu. Beliau mengarahkannya pada mereka. Raisa berusaha menenangkan sang ayah yang sangat emosi sekali.


"Aku sudah tahu sikap anakmu seperti apa. Aku sudah mendengar semuanya. Jangan harap dia bisa menikahi putriku."


Arya semakin murka, ia siap untuk menarik pelatuk senapan miliknya namun Bram masih tetap berdiri di posisinya. Dia tak takut sama sekali, sedangkan Regan sudah keluar duluan karena sakit hati dengan ucapan Arya yang seolah merendahkannya.


"Bramasta Leksmana, kau tak sadar umurmu berapa? Pantasnya kau gendong cucumu," ucap Arya.


"Lalu cucumu mana?" tanya Bram membuat Arya mati gaya.


Arya sendiri pun juga belum punya seorang cucu karena putrinya belum menikah alias menjadi perawan tua.


"Aku datang ke sini secara baik-baik. Aku ingin meminta restumu juga dengan baik-baik."


Arya menurunkan senapannya, Bram menurunkan semua makanan di atas meja. Arya duduk di kursinya lalu mengusap wajahnya kasar. Dia heran kenapa Bram bisa-bisanya akan menikahi Raisa. Bram memang terlihat masih muda namun umur tak bisa dibohongi.


"Beri aku alasan kenapa ingin menikahi putriku?"


"Karena aku menyukainya dan ingin menjalin rumah tangga dengannya."

__ADS_1


Raisa sedari tadi hanya menunduk.


"Nak, apa kau menyukai Bram?"


Raisa mengangguk, dia juga mengaku yang mengejar Bram sendiri saat itu. Arya semakin kesal, bisa-bisanya putri dari ayah mantan tentara melakukan hal seperti itu.


"Kau yakin bisa membahagiakan putriku? Kau sebagai seorang ayah saja tidak bisa mendidik putramu dengan baik. Anak itu adalah cerminan ayahnya," ketus Arya.


Bram terdiam sejenak, ia lalu berdiri menatap tajam Arya. Raisa bisa melihat wajah geramnya.


"Sedari tadi kau menghina anakku? Memang kenapa dengan anakku? Apa merugikanmu? Regan mungkin pernah melakukan kesalahan besar namun sekarang dia sudah berubah," ucap Bram.


Bram menatap Raisa, ia sangat benci untuk mrngatakan hal ini. "Raisa, maaf." Bram keluar dari rumah itu.


Raisa mengikutinya, ia meminta penjelasan dari kata maaf yang diucapkan Bram. Bram terhenti dari langkahnya, ia memang pria yang plin-plan.


"Sedari awal hubunganku dan ayahmu itu tidak baik. Kami berteman sudah lama dan ditambah lagi ayahmu menghina putraku. Aku tidak suka itu," ucap Bram.


"Bahkan kau belum berjuang namun sudah menyerah," jawab Raisa.


Regan menatap mereka dari dalam mobil. Sepertinya akan ada drama yang menarik.


"Bukannya aku menyerah namun..."


Raisa menggenggam tangan Bram, Bram menatap wajah cantik wanita itu.


Cup....


Raisa mencium bibir Bram dengan sekilas, Bram mata gaya dan tidak bisa berkata-kata. Semua ini membuatnya sangat syok dan kaget.


"Aku sudah berdandan cantik-cantik ini namun kau malah membuatku terluka. Aku tahu jika kau tidak mencintaiku."


Raisa akan masuk ke dalam rumah namun Bram menarik tubuhnya lalu menciumnya. Regan sangat kaget dengan keberanian sang papa. Arya yang ada di dalam rumah lekas keluar.


"Kau memang gila, Bram!"


Bram melepaskan ciumannya sedangkan Raisa menjadi sangat malu sendiri. Raisa memeluk erat Bram pertanda dia tak mau berpisah dengan Bram.

__ADS_1


"Restui kami, Yah! Jika tidak kami akan melakukan hal lebih dari ini. Umurku sudah 35 tahun, aku tidak ingin dicap perawan tua terus. Aku malu, aku ingin menikah dengan pria pilihanku sendiri," ucap Raisa.


__ADS_2