Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 101 : Kenapa selalu salahku?


__ADS_3

Pov Author


Regan menemui Alden yang ada di ruang tunggu, dia melihat Alden sangat ketakutan sekali, semua ini memang ulahnya karena secara tidak langsung sudah menjual pada teman  bulenya itu. Jika Devan tahu maka dia tak akan tinggal diam saja dan pasti akan melaporkan pada polisi. 


"Alden?" 


Alden mendongak, ia melihat Regan yang ada di sini juga nampak terkejut sekali. "Kenapa kau di sini?" Apa di dalam adalah Kia?" 


Alden menatap tajam Regan lalu  menyuruhnya untuk pergi. Regan berdecih, ia bersedekap dada lalu bersandar pada tembok.  "Aku sungguh ingin bertanya padamu, apakah Kia itu anak kandungmu? Aku tidak yakin akan hal itu." 


Alden tersenyum sinis, sejak kapan Regan peduli dengan hal itu? Sekali lagi, dia menyuruh Regan untuk pergi sebelum dia memukulinya di tempat ini. Regan hanya menatap malas pada Alden dan mulai melangkah untuk pergi dari sana namun tiba-tiba Alden mengucapkan sesuatu pada Regan yang membuatnya terhenti dari langkahnya. 


"Bagaimana perasaanmu saat istrimu direbut oleh Devan? Pria itu sangat sok baik namun...." 


"Berhentilah memandang kesalahan orang lain karena kita bertiga ini memang salah dan tidak ada yang benar. " Regan pergi dari sana sedangkan Alden hanya tersenyum kecut. 


Devan sedang dalam perjalanan ke rumah sakit, hujan rupanya semakin lebat sehingga membuatnya kesusahan untuk menyetir. Tak ada pilihan lain, dia harus berteduh dulu. Ada sebuah cafe di dekat sana kemudian dia memilih berhenti di sana saja. Setelah mobil terparkir, dia masuk ke dalam cafe yang sepi pengunjung. Dia menarik kursi lalu memesan minuman hangat. Tak berselang lama kemudian, Winda menelponnya lagi.  Devan mengangkatnya dengan malas. 


"Hallo, di rumah sakit mana? Aku sedang OTW," ucap Winda melalui panggilan telepon. 


"Seperti biasanya saat Kia sakit. Alden tidak memberitahumu?"


"Pria sialan itu tidak memberitahuku bahkan ditelpon tidak diangkat."

__ADS_1


"Dan kau beraninya meninggalkan Kia dengan Alden yang tidak jelas itu?"


Winda tak mampu berkata-kata, dia mematikan ponselnya. Devan hanya tersenyum kecut, mempunyai mantan istri yang sama sekali tak pernah membuatnya bahagia. Rasanya cukup menyesal dulu pernah berjuang untuk menikahinya namun semuanya menjadi hancur berkeping-keping karena embel-embel cinta.  Minuman hangat yang dia pesan pun datang, ia meminumnya sembari berkirim pesan pada orang suruhannya. Tak berselang menit kemudian, dia mendapat rekaman CCTV yang lengkap. Memang tak terdengar pembicaraan mereka namun yang jelas Alden membawa Kia ke orang bule tersebut. 


"Aku akan melaporkannya ke polisi jika terbukti Alden melakukan itu pada Kia." 


Devan meminum coklat panas itu sampai habis, matanya menatap luar yang masih hujan namun tak selebat tadi dan ia kembali menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan putrinya. Devan melajukan mobilnya dengan cepat menuju ke rumah sakit dan sesampainya di sana dia menuju ruangan yang merawat Askia. Lagi-lagi Alden menghadangnya. 


"Kenapa datang ke sini lagi?" tanya Alden. 


"Apa aku salah untuk menjenguk putriku?" jawab Devan. 


Devan mendorong Alden lalu akan masuk ke ruangan Kia namun ucapan Alden menghentikan langkahnya. 


"Apa maksudmu mengatakan semua itu?" 


Alden mendekati Devan lalu membisikan sesuatu padanya. "Satu hal yang membuat aku benci padamu itu adalah sok polosmu. Kau seolah paling baik namun nyatanya sama busuknya. Apa yang namanya orang baik akan merebut istri dari sahabatnya?" 


Devan mendorongnya dan menarik kerah Alden. "Kau tak sadar diri? Semua ucapanmu itu adalah dirimu sendiri. Aku dan Sena mulai dekat saat dia sudah bercerai dengan Regan. Regan yang membuangnya sendiri dan aku mengambil lalu merawatnya, apa aku salah? Sedangkan diriku sangat menyayangi Winda dulu dan menjaganya dengan baik namun kau malah mengambilnya dan setelah kau ambil malah kau buang kembali." 


Devan mendorong Alden yang mendongkol sekali dengan ucapannya. Dia lekas masuk ke dalam ruangan putrinya. Dia melihat Kia sudah sadar namun tak sanggup membuka matanya lebar-lebar. Devan menciumi pipinya dengan lembut, ia sangat senang ketika Kia sudah sadarkan diri.


"Papa, Paman Alden jahat sekali. Masak aku mau di jual pada bule itu, aku takut." 

__ADS_1


DEG.... 


Devan sangat terkejut sekali, tubuhnya sangat bergetar hebat, ternyata dugaannya sangat benar. Dengan teganya pria bodoh itu menjual gadis 10 tahun yang tak tahu apa-apa. Kia meraba wajah sang papa, ia tak sanggup untuk membuka matanya. Devan menggenggam tangannya dengan erat. 


"Tapi belum terjadi apa-apa kan?" 


"Belum namun aku sudah jatuh duluan di tangga darurat." 


Kia mencoba untuk membuka matanya namun sayangnya hanya buram yang dilihatnya. "Papa, aku tidak bisa melihat. Semuanya buram." 


Devan tentunya sangat kaget, ia menyetes putrinya dengan jemarinya namun Kia hanya menggelengkan kepalanya. Devan memanggil dokter dengan keadaan panik. Apakah Kia mengalami kebutaan setelah terjatuh? Dokter datang lalu memeriksa Kia, Kia sepertinya baru saja tersadar setelah kedatangan Devan. Devan menunggu di luar namun di sana sudah tidak ada Alden. 


Aku akan melaporkannya pada polisi. Teganya dia melakukan itu pada anaknya sendiri. Batin Devan sangat kesal sekali.


Tak berselang lama, Winda datang. Dia sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Devan tak mau menatapnya seolah sudah sangat muak sekali dengan ulah Winda. 


"Bagaimana dengan keadaan Kia?" 


"Sedang diperiksa oleh dokter." 


Winda duduk, dia sangat khawatir sekali dengan putrinya. Baru kali ini dia seperti itu padahal sebelumya dia tak pernah seperti ini. Devan sesekali mengecek ponselnya, takutnya Sena mengirim pesan padanya jika terjadi apa-apa di rumah. 


"Sampai sekarang pun kau tak pernah meminta maaf padaku atas kesalahanmu dulu," ucap Winda membuat Devan meliriknya. "Tak ada permintaan maaf bahkan saat kita bercerai," sambung Winda. 

__ADS_1


Devan hanya diam tanpa ekspresi, kenapa semua orang membalikan fakta jika dirinya yang bersalah? Devan tak habis pikir dengan hal itu.


__ADS_2