
Sena menunggu kepulangan sang suami, ia terus memperhatikan mendung yang sedari tadi tak kunjung menghilang. Hujan lebat telah usai dan kini hanya tinggal sisa embun yang masih menempel di dedaunan. Sena melirik Serafina yang masih terlelap, balita normal seperti lainnya harusnya saat ini sedang aktif-aktifnya namun tidak bagi balitanya yang seharian terlelap.
Suara mobil mendekat dan dia bisa melihat jika Devan datang, Sena lekas berlari untuk menyambut sang suami. Sampai di depan teras ia hampir saja terpeleset namun untung saja Devan menahannya.
"Kenapa lari, sayang? Kau sedang hamil, berhati-hatilah!"
"Mas, keadaan Kia bagaimana?"
Devan merangkulnya dan mengajaknya untuk masuk, Devan duduk di sofa sembari menghela nafas panjang. Dia tentunya sangat bingung sekali dengan keadaan ini. Yang pasti semuanya memang salahnya.
"Kia mengalami kebutaan."
Deg...
Sena sangat terkejut sekali, dia terus menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak mempercayai ucapan Devan. Devan mulai menutup wajahya seolah menutupi air matanya, sebagai orang yang sudah membesarkan Kia sejak bayi membuatnya sangat terpukul mengetahui semua fakta itu.
"Ini bukan salah Mas Devan."
"Ini salahku, jika saja aku tidak membiarkannya pergi yang jelas dia tidak akan seperti ini. Alden dengan beraninya menjual Kia pada teman tetangga apartemennya. Kia berusaha untuk lari dan dikejar olehnya namun Kia malah terjatuh di tangga." Devan tak kuasa menahan air matanya.
Sena memeluknya dengan erat serta memberinya semangat, Devan tak salah untuk hal ini. Siapa yang tahu jika Kia akan terjadi seperti ini. Devan menatap Sena, ia memberikan kecupan pada bibir sang istri. Sepertinya memang Devan harus membicarakannya pada Sena sebelum Sena tahu dari orang lain. Percaya atau tidak yang jelas Sena harus tahu akan hal ini.
"Sena, ada hal yang harus aku ceritakan."
Sena mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kau boleh tidak mempercayaiku namun aku sudah mengatakan sejujurnya padamu."
Sena membuka telinganya lebar-lebar entah mengapa dia menjadi sangat berdebar sekali. Jantungnya bergejolak seakan takut jika yang diberitahu oleh Devan adalah sebuah rahasia besar yang dia tak ketahui sebelumnya.
"Saat tahun pertama aku menikah dengan Winda, aku terkena skandal di kantor bersama sekertarisku dulu. Kau belum bekerja di sana dan mungkin masih kuliah. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya namun sepertinya memang harus kuceritakan karena pasti setelah ini Winda atau Alden akan bercerita versi mereka," ucap Devan.
Kala itu, Devan sedang bekerja lembur sampai jam 9 malam dengan sekertarisnya. Sekertarisnya memang seumuran dengannya bahkan masih sangat cantik dibanding Winda. Mereka bekerja secara profesional sampai suatu ketika sang sekertaris yang bernama Lisa memfitnahnya karena sudah mencoba memperkosanya. Lisa berlari keluar dan menghampiri satpam dan mengadu apa yang telah terjadi. Tentu saja saat itu Devan hanya kebingungan, dia tak melakukan apapun pada sekertarisnya itu. Berita itu pun menyebar dengan pesat bahkan sempat masuk di surat kabar. Keluarga Lisa meminta kompensasi yang besar, Devan tak memiliki bukti apapun karena di dalam ruangannya tidak ada kamera pengawas. Devan meminta visum jika dirinya memang sudah memperkosa Lisa, namun sayangnya Lisa tewas karena kecelakaan mobil saat akan menuju rumah sakit. Bukti Devan untuk menolak dirinya melakukan itu seolah terkubur dan hilang, pihak keluarga tak ingin melakukan visum dan tetap meminta kompensasi. Devan membayar sangat banyak akan hal itu dan menyebabkan Winda sangat kecewa dengannya.
"Sebelum ada kejadian itu Winda pun juga sudah nakal, dia sering pergi ke diskotik namun dia malah menyalahkanku jika akulah penyebab dia begitu. Sebab itu juga aku memasang kamera pengawas yang tersembunyi di ruanganku yang bahkan orang lain tidak tahu dan aku mengganti sekertarisku setiap 2 tahun sekali. Aku sangat trauma," ucap Devan dengan tangan yang bergetar.
"Pantas saja saat aku menjadi sekertarismu orang-orang memandang kita aneh, jadi karena itu? Bahkan sampai sekarang mereka tidak percaya jika kau hanya difitnah?"
Devan mengangguk, namun saat Sena menjadi sekertarisnya memang Devan sudah menaruh hati padanya dan maka dari itu ketimbang fitnah terus bermunculan makanya dia menikahi Sena apalagi juga sudah terdengar gosip jika Sena sempat tinggal serumah dengannya padahal hanya untuk menjadi teman Kia saja.
"Tapi orang kantor tahu kejadian dengan sekertarismu dulu?"
Saat bersamaan, terdengar suara tangisan anak kecil. Sena menduga jika itu Serafina. Sena berlari ke atas sedangkan Devan menyusulnya. Sena berteriak saat Serafina ada dipinggir ranjang dan hampir terjatuh.
"Sayang, kenapa bisa sampai sini? Sera takut ya? Maaf, ya?" Sena memeluknya dengan erat dan menciuminya.
Devan mendekatinya, dia ikut mengecup pipi Serafina dengan gemas. Sena menatap Devan yang saat ini mempunyai beban yang banyak, mengurus perusahaan, mengurus Serafina, mengurus istrinya yang tengah hamil dan kini mengurus Kia yang sedang sekarat. Beban Devan memang sangat banyak namun pria itu masih tenang dan tidak mau gegabah.
"Mas, apa lebih baik kita kembalikan Serafina ke panti asuhan lagi?" tanya Sena sangat ragu sekali.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Keadaan Kia seperti itu ditambah lagi kita akan punya bayi sendiri," jawab Sena menunduk.
Devan tahu perasaan Sena saat ini, namun Serafina sudah menjadi anaknya dan tidak mungkin dikembalikan ke panti asuhan lagi.
"Aku tahu pasti kamu akan merasa kerepotan untuk mengurus mereka namun yang jelas aku tidak akan membuatmu kecapekan, aku akan menyewa baby sitter untuk ketiga anak kita."
Sena mengangguk, dia meminta maaf jika sempat berpikiran seperti itu. Devan memeluknya dengan erat, Sena adalah wanitanya yang sangat dia cintai. Mereka dulunya sama-sama tersakiti oleh mantan masing-masing dan kini mereka bersatu untuk saling mengerti satu sama lain. Devan lalu membuatkan susu untuk Serafina setelah itu kembali ke kamar.
"Sena, aku mau mandi ya?"
"Nanti ke rumah sakit lagi?"
Devan terhenti. "Iya, Sena. Aku harus menunggu Kia. Dia tidak ada yang menjaga. Bisa 'kan menjaga Sera sendiri?"
Sena mengangguk paham, dia lekas memberikan susu untuk anaknya itu. Sena teringat dengan pengakuan Devan tadi, kenapa hidup Devan yang sepertinya sangat enak punya banyak masalah yang tak terduga. 10 menit kemudian, Devan keluar hanya dengan menggunakan handuk. Sena tak sempat mengambilkan pakaianannya.
"Sena, tidak ada telpon dari Winda maupun Alden 'kan?'
Sena menggelengkan kepalanya.
"Orang itu kini sedang menggila, jangan diangkat!"
Sena paham, setelah Devan membawa semua perlengkapannya di tas. Dia berpamitan pada mereka termasuk janin yang masih berada dikandungan istrinya itu.
"Sayang, Papa harus menunggu Kak Kia di rumah sakit. Jangan nakal ya! Serafina juga jangan rewel ya! Nanti setelah Kak Kia sembuh kita bisa bermain bersama," ucap Devan dan kini dia menatap Sena. "Sena, aku mohon untuk bersabar sebentar. Aku akan selalu ada bersamamu jika Kia sudah sembuh. Tolong jaga anak-anak kita dengan baik khususnya kehamilanmu. Jika ada apa-apa langsung telpon aku!"
__ADS_1
"Baik, Mas."