Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 64 : Kiss


__ADS_3

Bram tersenyum tatkala mendengar ucapan Sena yang mau menjenguk Regan. Bram hanya menginginkan itu saja dan tidak lebih. Mungkin saja Regan bisa sembuh secara berkala jika dijenguk oleh Sena. Sena mengambil tisu lalu mengusapkan pada Bram. Bram sangat berterima kasih pada Sena karena masih selalu baik walau keluarganya sudah mengkhianatinya sangat dalam. Untung saja Sena bukan tipe yang pendendam.


"Sena, kau anak yang baik. Terima kasih. Ibumu pasti bangga di sana."


"Papa terlalu memuji. Oh ya, Papa juga harus mencari Mama baru untuk Kak Re dan yang juga bisa menemani Papa."


"Hahahaha... umur Papa sudah tua tak pantas membicarakan wanita baru. Cinta Papa hanya untuk Mama mertuamu." 


Sena tersenyum kecil, Bram masih saja tampan di umurnya yang 50 ke atas. Bram memiliki sejuta pesona yang memikat hati para wanita dan tak kalah seperti anak muda. Setelah beliau keluar dari ruangan Sena. Sena melanjutkan pekerjaannya, ia menikmati suasana ruangan ini karena sebentar lagi dia sudah tidak ada di sini. 


Sore hari. 


Sena sudah terbebas dari pekerjaannya seharian ini, ia lekas menuju ke butik menggunakan motornya. Devan sudah menunggunya di sana. Mereka rencananya akan fitting gaun pengantin. Sena tak menyangka akan sebahagia ini. Dulu saat akan menikah dengan Regan ia merasa sangat tertekan karena menikahi dosen galaknya. 


Sena melajukan motornya dengan cepat menembus jalanan yang padat merayap sore ini. Pegawai dari perusahaan lain juga sama-sama pulang membuat jalanan kian macet. Untuk menghindari kemacetan, Sena memilih jalan alternatif yang cepat sampai ke butik tersebut. 15 menit kemudian ia sampai di depan butik. Devan menghampiri lalu membantu melepaskan helmnya. 


"Capek?" tanya Devan.


"Tidak, pasti kau lebih capek. Oh ya, bagaimana dengan meetingnya?"


"Ya, begitulah. Sesuai rencana." 


Sena masuk ke dalam bersama Devan, ia mengukur tubuhnya untuk menyesuaikan kebaya yang akan dipakainya. Sementara Devan juga mencoba jas setelan yang akan di samakan warnanya dengan kebaya Sena yaitu abu-abu. Pasangan itu sangat antusias sekali bahkan sedari tadi saling melempar senyuman. 


"Kebayanya sangat pas untukmu."


"Benarkah? Jasnya juga sangat keren di tubuhmu." 


Setelah diukur mereka memastikan baju itu yang akan mereka pakai saat akad menikah sementara untuk pesta yang diadakan tidak terlalu banyak mengundang orang, mereka juga sudah menyiapkannya. 


Kini mereka memutuskan untuk pulang namun Devan tidak ingin pulang terlalu cepat karena baru saja bertemu. Devan menyuruh Sena masuk ke mobilnya sementara motor Sena akan ada orang yang akan mengambilnya. Devan ingin sekali mengajak menonton bioskop seperti pasangan pada umumnya. Menikmati kebersamaan berdua memang jarang sekali dilakukan apalagi mereka saling sibuk menyiapkan pernikahan itu. 

__ADS_1


Di dalamm mobil.


Devan menggenggam tangan Sena dengan erat seolah Sena adalah miliknya saja. Devan memang seperti anak kecil namun ini semua ia lakukan  supaya tidak kehilangan orang yang ia sayangi lagi. Mereka menikmati sore ini sambil menikmati yang di dengar di radio. Mereka bersenandung riang dan tetap berpegangan tangan. 


"Sena?"


"Hem?"


"Om Irfan tidak mengizinkan kita untuk mengadopsi bayi kembar itu karena istrinya sudah menginginkannya dulu. Tidak apa-apa 'kan?"


Sena paham. "Iya tidak apa-apa. Lagian kita juga yang aneh bisa-bisanya ingin mengadopsi milik orang lain."


Devan mengusap rambut Sena dengan gemas, ia juga mengecup pipi Sena padahal di depan kemudi ada Anjas yang sedang menyetir membuat jiwa jomblonya meronta-ronta. Kemesraan mereka semakin dekat dan tidak terbantahkan lagi.  


"Bos, ingat anak di rumah!" sindir Anjas.


"Huh, kau iri saja," jawab Devan. 


"Aku merasa menjadi muda kembali."


Sena tersenyum kecil, ia mencium pipi Devan dengan gemas. Di bioskop tersebut hanya ada beberapa orang saja dan mereka leluasa untuk menikmati film dengan pasangan masing-masing. Devan mendekatkan bibirnya pada telinga Sena lalu membisikan kata, "Aku sangat mencintaimu." 


Seusai dari bioskop. 


Devan mengajak Sena untuk minum kopi di sebuah cafe sembari makan malam. Dulu Devan dan Sena sempat berjumpa di cafe itu saat Sena masih menjadi istri Regan. Devan masih teringat saat ponselnya ketinggalan di bilik tempat Sena dan Regan makan malam. Kini mereka datang bersama sebagai sepasang kekasih. 


"Jika kita menikah nanti kau ingin kita tinggal di mana?" tanya Devan.


"Terserah saja deh yang terpenting bersamamu dan Kia," jawab Sena.


Sena memandang menu yang ada di cafe tersebut membuatnya sangat lapar. Sena memesan satu persatu yang dirasa sangat menggoyangkan lidahnya. Devan hanya memesan nasi goreng seafood dan teh manis saja. Dia sedang diet supaya jas yang akan digunakan di pernikahannya tidak kesempitan. 

__ADS_1


"Mau dansa sambil menunggu makanan datang?" tanya Devan.


Sena tentu saja terkejut, berdansa? Dia saja tidak pernah berdansa. Devan berdiri, ia mengulurkan tangannya pada Sena. Sena nampak sangat ragu namun Devan tetap memaksanya untuk berdansa. Mereka sudah berdiri, alunan musik menjadi pengiring mereka untuk berdansa. Mereka sangat antusias sekali bahkan Sena malah sering menginjak kaki Devan.


"Maaf."


"Tak masalah."


Wajah mereka sangat dekat bahkan deru nafas pria 36 tahun itu sangat terasa di tengkuk leher Sena. Sena bisa menghirup aroma maskulin dari calon suaminya itu.


"Kak, terima kasih."


"Terima kasih untuk apa?"


Sena terdiam membuat Devan memandang wajah calon istrinya dengan lekat.


"Harusnya aku yang berterima kasih. Kau telah menerimaku apa adanya," ucap Devan, sorot mata pria itu terlihat sangat sedih.


CUP...


Sena mengecup pipi pria itu dan mencium bibirnya sekilas. "Jangan mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti! Kita masih punya kesempatan untuk punya anak sendiri yang penting terus berusaha."


"Sudah berani mencium bibirku?"


Sena memalingkan wajah karena saking malunya. Dia refleks mencium bibir manis Devan yang membuatnya begitu candu.


Devan mendekati wajah Sena dan bergantian menciumnya, pertamanya hanya menempel namun kali ini kian masuk ke dalam. Lidah mereka kini saling bertemu dan seolah bertengkar menentukan pemenangnya. Ruangan mereka memang tertutup dan akan dilihat oleh orang lain.


Bibir kenyal milik Sena seolah membuat Devan lupa diri, ia lekas melepaskannya lalu memandang wajah Sena yang bersemu merah.


"Maaf, kelepasan," ucap Devan sambil mengusap bibir Sena yang basah.

__ADS_1


Sena mengangguk, ia pun duduk lalu tak berselang lama makanan pun datang. Merek menikmati makan malam dengan tenang walau sering terbayang ciuman tadi.


__ADS_2