
Keesokan harinya.
Sena mengenakan kebaya warna senada dengan Devan, saat keluar dari salah satu kamar rumah Devan, ia menjadi pusat perhatian anggota keluarga yang lain. Saat akan turun, Sena menatap kearah seseorang yang sangat dirindukannya yaitu sang Bapak. Beliau tersenyum saat melihat Sena menikah untuk kedua kalinya dan menemukan pasangan yang tepat.
Seusai prosesi akad nikah, kini Devan dan Sena sudah berada di dalam mobil. Akad nikah tadi adalah akad nikah kedua bagi Sena dan Devan dengan berbeda pasangan. Mereka berharap ini yang terakhir kalinya dan mereka bisa hidup bahagia menjadi pasangan suami istri. Sena masih saja syok saat melihat sang Bapak bisa bebas dari penjara, ia lalu memandang Devan yang fokus ke depan.
"Bukannya seharusnya kita melakukan akad di kantor polisi mengingat Bapak tidak bisa keluar?" tanya Sena.
"Oh itu, memang sengaja aku keluarkan beliau. Kau ingin Bapak bebas 'kan?"
"Semudah itu?" Sena sangat heran sekali.
"Ada uang apapun bisa dilakukan."
Sena merasa sangat bersyukur bisa memiliki suami yang sangat baik, dia menggenggam tangan Devan lalu mereka bertatapan. Di dalam mobil pengantin itu, Devan dengan yakin memagut bibir Sena. Sena menutup matanya menikmati setiap permainan bibir sang suami. Mereka lagi-lagi tak memperdulikan Anjas yang sedang menyetir di depan mereka. Sungguh, malang sekali nasib jomblo sepertinya.
Lidah Devan mulai masuk ke bibir Sena, ia memagut habis setiap benda kenyal tersebut. Sena yang tak bisa bernafas lalu tidak enak dengan Anjas segera melepaskan ciumannya. Mata Devan masih menderu seolah ingin melahap Sena habis-habis.
"Malam masih lama, Bos."
Devan tersenyum kecil, ia kembali menatap ke depan. Pipi Sena memerah dan bibirnya merasa sangat basah akibat kecupan manja dari sang suami. Sesampainya di gedung tempat resepsi mereka melakukan acara, Devan dan Sena keluar dan disambut anggota keluarga yang sudah datang terlebih dahulu. Devan dan Sena bergandengan tangan layaknya pengantin baru pada umumnya. Mereka menuju ke panggung pelaminan yang didekor sedemikian rupa. Devan dengan sigap membantu Sena untuk menaiki tangga. Mereka membuat semua orang yang ada di sana baper sebaper bapernya.
Setelah diatas pelaminan, mereka duduk dan siap menyalami para tamu undangan yang hanya 200 orang saja dan semua itu adalah kerabat dekat saja. Devan tidak mau menggelar acara meriah karena ia sadar akan banyak cibiran karena mereka baru saja bercerai dari pasangan masing-masing. Para tamu berdatangan menyalami mereka, sorot kebahagiaan memang tergambar jelas pada wajah mereka. Satu persatu mereka salami sampai tamu yang tak kalah penting datang yaitu Regan.
Regan membawa seikat bunga lalu menyerahkannya pada Sena. Sena menerimanya dan berterima kasih.
"Selamat," ucap Regan sangat pelan.
"Iya," jawab Sena tak kalah pelan.
Devan merasakan jika mereka sangat canggung lalu segera mencairkan suasana. "Oh ya Regan, terima kasih sudah datang ke sini. Jika ingin makan, makanlah!"
Regan tersenyum pada Devan. "Terima kasih. Tolong jaga Sena dengan baik! Jangan menduakan dia!"
"Aku tahu, kau juga harus bisa move on. Kau berhak bahagia."
__ADS_1
Regan memeluk Devan, ia sudah mengikhlaskan Sena dengan Devan walau sebenarnya sangat sulit. Setelah selesai, Regan turun dari panggung pelaminan. Sena menatap punggung mantan suaminya yang sekarang jauh lebih kalem tersebut. Ada rasa kasian namun bagaimana lagi? Sena sendiri jauh lebih kasian jika harus hidup bersama Regan.
"Nana, mau makan? Biar aku ambilkan?" tanya Devan.
"Eh... aku tidak lapar. Aku ingin minum es itu saja," jawab Sena.
Devan lekas menyuruh orang lain untuk mengambilkannya, sementara tatapan Sena masih tertuju pada Regan yang tengah mengobrol dengan orang lain.
"Sena, tadi malam aku bermimpi kau meninggal," ucap Devan.
Sena sangat terkejut sontak mencubit Devan dengan kesal, Devan sangat kesakitan, ini adalah cubitan pertama dari sang istri tercinta.
"Aduh... ini benar, Sayang. Tadi malam aku bermimpi kau meninggal namun dengan Regan."
Sena tidak ingin melanjutkan pembahasan ini karena terlalu sensitif, dia tidak ingin mati secepat itu walau hanya dalam mimpi.
"Kau sudah mencubit suamimu sendiri, nanti malam akan aku balas."
Bulu kuduk Sena berdiri, dia merinding seketika mendapat acaman dari suami barunya. Mereka memang tak sabar untuk melakukan penyatuan apalagi sudah berbulan-bulan mereka tidak mendapatkan itu setelah bercerai. Normal, semua itu adalah hal lumrah bagi orang dewasa, apalagi sudah pernah menikah. Namun sebagai orang yang baik mereka tidak akan melakukan itu di luar pernikahan.
"Bahagia selalu, Sena."
"Terima kasih, Pah."
Bram juga memeluk Devan, tak menyangka jika orang yang ada disekitarnya merupakan jodoh dari Sena.
"Pak Devan, tolong jaga Sena! Bahagiakan dia!" ucap Bram.
"Pasti Pak Bram."
Bram menghela nafas panjang lalu menjelaskan jika Regan akan segera berangkat ke Eropa untuk melanjutkan studynya. Regan tidak mau direhabilitasi lebih lama lagi karena dia merasa tidak gila dan hanya sering pusing saja.
"Apapun yang terbaik untuk Regan maka kami akan mendoakan," ucap Devan.
"Terima kasih doanya."
__ADS_1
Bram lekas turun karena tamu lain ingin bergantian menyalami mereka. Untung saja tamu tidak banyak membuat Sena dan Devan tak terlalu kelelahan. Setelah puas menyalami para tamu, Sena dan Devan bisa duduk. Kia datang membawa minuman untuk mereka.
"Ciee... pengantin baru," ejek Kia.
Devan mengacak rambut Kia membuat Kia sangat kesal. Bocah SD itu kini meminta dipangku oleh Devan dan Devan dengan senang hati memangkunya.
"Mama gak datang ya, Pah?" ucap Kia sangat kecewa.
"Tidak usah memikirkan Mamamu, kini kau sudah punya Mama baru," jawab Devan.
"Kalau adik baru?"
"Nanti malam."
Mereka tertawa berdua membuat Sena merasa geli sendiri. Dia tak menyangka setelah menikah akan langsung menjadi seorang ibu bagi bocah SD itu.
***
Malam pertama pun tiba.
Devan dan Sena menginap di hotel supaya tidak ada yang menganggu waktu sakral mereka. Sena memakai baju handuk karena sehabis mandi, ia tak lupa memakai krim malam sebelum tidur. Devan datang, ia baru saja mengurus admistrasi ke pihak hotel. Pemandangan segar ada di depan matanya, ia mendekati Sena lalu memeluknya dari belakang.
"Kak Devan? Ngapain?"
Devan memagut bibir manis Sena, Sena pun mengikuti setiap permainan dari Devan. Devan sangat kecanduan bibir mungil itu seolah ingin lagi dan lagi. Sambil berciuman, Devan mengangkat tubuh ramping Sena dan membawanya di atas ranjang penuh taburan bunga. Devan berada diatas tubuh Sena dengan masih memainkan lidahnya. Hawa panas semakin menyiksa bagi mereka berdua. Tangan Devan yang nakal melepas handuk kimono yang dipakai sang istri, dia juga melepas pakaiannya sendiri. Mereka kehabisan nafas lalu melepaskan ciuman mereka, mata Devan sudah menggambarkan ingin segera melahap Sena. Sena mengangguk lalu mereka melakukan penyatuan supaya semakin mempererat pernikahan mereka.
***
Tamatnya masih lama ya... jangan suruh buru-buru untuk tamat ,nanti saya tak ada kerjaan. Hehe... Untuk REGAN akan ada judul baru, dia menemukan pasangan yang baru yaitu mahasiswinya lagi. Saya lagi terdosen-dosen makanya bikin kisah dosen dan mahasiswinya lebih detail dengan dibumbui komedi dan tingkat kebaperan yang tinggi. Di tunggu ya! :)
Mampir karya saya yang lain jika berkenan.
__ADS_1