Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 59 : Devan & Regan 2


__ADS_3

Devan mendorong Regan dengan kasar, dibawah air hujan mereka saling berdebat menentukan yang terbaik untuk Sena. Devan mengepalkan tangannya seolah guratan emosi tergambar di sana. Mandul? Devan bukannya mandul namun kondisi spermanya lemah sehingga selalu gagal membuahi sel telur.


"Aku memang sulit mempunyai keturunan namun aku masih bisa melakukan terapi dan cara lain supaya aku bisa mempunyai anak. Namun, bagaimana denganmu? Orang yang sekalinya berselingkuh akan tetap selamanya berselingkuh dan satu lagi, kau masih tak paham apa kesalahanmu," jawab Devan dengan bijaksana.


"Sejak kuliah aku memang tak pernah menyukaimu. Kau selalu sok hebat dalam segala hal bahkan kau sempat merebut Zara dariku dan sekarang kau ingin merebut mantan. istriku?" tanya Regan.


Devan tersungging tipis. "Kau salah paham tentangku dan Zara. Kau selalu mengandalkan emosimu dalam menyikapi suatu hal."


"Kau dan Alden sama-sama brengsek. Kalian tidak ada bedanya yang menyukai mantan temannya sendiri," teriak Regan.


Sena yang tidak ingin mereka melanjutkan perdebatan segera keluar menerjang hujan lebat di malam itu. Sena yang dari mobil tak mendengar apa perkataan mereka. Semakin mendekati mereka, Sena semakin jelas apa yang mereka bicarakan dengan serius.


"Asal kau tahu, Devan! Anakmu itu adalah anak dari Alden. Kau mandul dan selamanya akan mandul, jadi mulai sekarang jangan berharap menikahi Sena lagi," ucap Regan.


BUAAAK...


Sena memukul keras pada wajah Regan sampai hidung mancung Regan mengeluarkan darah. Sena sangat geram dengan ucapan pria gila itu yang makin lama semakin keterlaluan. Regan memang sakit jiwa dan layak masuk rumah sakit jiwa.


Devan sedari tadi hanya diam, hatinya sangat terluka dengan ucapan mantan sahabatnya itu.


"Kau itu sok sempurna! Ngaca kau! Sialan! Gila kau!" bentak Sena.


Devan yang tersadar dari lamunannya segera menarik Sena untuk masuk ke mobil. Regan hanya terdiam sambil mengepalkan tangannya menatap mereka berdua.


Kemarahannya Sena sangat tak terbantahkan lagi mengingat mantan suaminya begitu keterlaluan.


Devan membuka pintu mobil untuk Sena, lalu ia ikut masuk.


Devan menyetir mobilnya meninggalkan tempat itu sedangkan Sena masih menatap Regan dengan penuh amarah dari dalam mobil.


Devan masih terdiam sambil fokus menatap jalanan yang tergenang air hujan.


"Aku dan Regan bersahabat dekat saat kuliah." Devan tiba-tiba mengatakan semua itu. "Ada satu lagi, namanya Alden dan dia ayah biologis Kia."


Devan menepikan mobilnya, ia lalu menceritakan apa yang terjadi antara mereka bertiga ditambah satu wanita lagi yang juga sahabat mereka bernama Zara.


"Kami berempat sewaktu kuliah sangat dekat namun lambat laun ada kesalahpahaman antara aku dan Regan. Regan menyukai Zara dan suatu ketika ia salah paham denganku. Hubunganku dan Regan mulai retak, kami menjauh dan tidak saling kenal. Aku juga tidak tahu jika Regan masih dekat Zara setelah Regan menikah denganmu. Di mulai saat itu, aku hanya dekat dengan Alden, aku selalu curhat masalah Winda dengannya bahkan setelah menikah. Ketika Winda bercerai dengan suaminya dulu, aku mendekati Winda lagi dan menikahinya namun rupanya Alden lah penyebab rusaknya rumah tangga Winda dengan suaminya dulu bahkan merusak rumah tanggaku juga dengan Winda," jelas Devan panjang lebar.

__ADS_1


Sena masih diam, ia tak menyangka dulu kedua pria itu bersahabat karib namun kini seolah menjadi musuh dan masalah utamanya adalah wanita.


"Kak, aku sungguh bingung dengan ceritamu."


Devan tersenyum kecil, ia mencubit pipi Sena, ia baru menyadari jika tubuh mereka basah kuyup. Devan mengambil jaket yang ada di belakang kursinya lalu mengelap rambut Sena menggunakan jaket itu.


"Itu hanya cerita masa lalu. Tak perlu dikhawatirkan," ucap Devan.


"Ternyata pertemanan itu memang toxic. Kalian saling mengkhianati." Sena menyimpulkan seperti itu.


Devan menghela nafas panjang, ia melepas kaosnya lalu mengelap tubuhnya yang basah menggunakan jaket. Tubuh Devan sangat putih dan berotot mengingatkan dengan tubuh Regan.


"Sebenarnya teman dekat itu adalah musuh nyata kita. Dia tahu segala hal tentang diri kita dan sewaktu-waktu menggunakan kelemahan kita sebagai alat untuk menyerang," ucap Devan.


Setelah tubuhnya sudah mengering, ia lekas melajukan mobilnya untuk mengantar Sena ke kost. Sena masih memikirkan ucapan Devan tadi saat menceritakan pertemanannya dengan Regan. Sena tak tahu hal itu sama sekali karena mereka terlihat jelas tidak saling mengenal.


"Terus sahabat kalian satu lagi di mana?" tanya Sena.


"Alden? Pria itu sudah tak berhubungan lagi dengan Winda. Aku juga tak ingin tahu kabarnya, yang jelas selagi dia tak mengusik Kia maka aku tetap akan diam," jawan Devan.


Pertemanan pria memang memusingkan. Jika mereka ngambek maka marahnya melebihi pertemanan wanita.


***


Bram masih sibuk mengurus berkas perceraian Regan dengan Maya. Sedangkan Regan melamun tidak jelas di kamarnya.


"Regan, kau harus menandatangani ini."


Regan menandatangi surat itu tanpa membacanya. Bram seolah sangat kesal dengan tingkah laku Regan.


"Nanti kita harus menjenguk Maya juga."


Regan tak menggubris ucapan sang Papa, entah apa yang dipikirkannya membuat tersenyum sendiri. Bram mengambil obat dan air putih untuk putranya itu, ia kini seolah mengurus anak kecil.


"Pihak Oxford menelpon dan Papa mengatakan jika kau tidak akan mengambil beasiswa itu."


Regan lagi-lagi tak menjawab membuat Bram semakin kasian dengannya.

__ADS_1


"Minum obatmu! Papa tunggu di mobil, hari ini kita akan ke kantor polisi."


***


Sena mencari berkas untuk ia lampirkan dalam akad pernikahannya. Semua ia persiapkan dengan fotocopynya. Dia masih setia dengan Devan walaupun sudah tahu calon suaminya mengalami masalah dalam memiliki keturunan.


"Ah... ini sudah semua dan tinggal berunding memilih tanggal yang tepat," gumam Sena.


Pintu kamar kostnya terketuk, ia tahu jika itu adalah Devan yang pagi-pagi menjemputnya untuk datang ke kantor polisi memberi kesaksian mengenai Regan.


"Morning," ucap Devan.


"Morning too," jawab Sena.


Devan membawakan nasi bungkus untuk dimakan bersama-sama. Pernikahan mereka semakin dekat maka masalah pun juga akan semakin banyak. Sena mengambil piring lalu mereka makan di teras. Devan suka sekali dengan nasi bungkus semenjak berpacaran dengan Sena.


"Kia sudah berangkat sekolah?" tanya Sena.


"Iya, jangan lupa tanggal 8 ke sekolahannya untuk melihat Kia pentas," jawab Devan.


Sena mengangguk. Devan melihat sebulir nasi yang ada di pipi Sena segera ia ambil. Devan tidak sabar untuk menikahi Sena.


"Nana, aku memutuskan untuk mulai terapi dan konsultasi dengan dokter supaya setelah kita menikah lekas mempunyai anak. Oh ya, kistamu sudah diangkat 'kan?"


Sena mengangguk. Mereka memiliki masalah yang sama namun tak membuat mereka menyerah begitu saja.


Devan meletakan piringnya, ia mendekati wajah Sena sedekat mungkin.


CUP...


"Aku mencintaimu," ucap Devan membuat jantung Sena berdebar.


****


Author : Semakin bertambahnya bab maka semakin saya berpikir, apakah cerita ini masih masuk dalam kategori berbagi cinta seperti tema Lomba kali ini?


Tema cerita adalah poligami namun sudah terselesaikan di awal yang membuat kalian emosi jiwa. Apakah cerita poligami di awal terlalu pendek? Apakah penyiksaan Sena sangat kurang saat melihat Regan dan Maya masih menjadi suami istri?

__ADS_1


Cerita ini memang memiliki alur yang cepat dan alurnya pun maju mundur. Tapi sepertinya kurang ******* kisah poligaminya 'kan?


__ADS_2