
2 tahun kemudian.
Devan menyiapkan acara pesta ulang tahun untuk si kembar tiga secara meriah di rumah. Angga, Brian, Casey sudah genap 2 tahun tepat hari ini. Para kerabat dan tetangga datang untuk menghadiri pesta tersebut. Saat Devan berada di kamarnya tiba-tiba seseorang masuk menggunakan seragam SMP-nya, siapa lagi jika bukan Askia.
"Papa... ku pikir aku terlambat."
"Bentar lagi acara akan di mulai kok."
Kia tersenyum kecil, dia duduk di samping sang Papa yang sedang memainkan ponselnya. Kia menyenggol tangannya, Devan pun menoleh.
"Aku bawa pacarku datang ke sini," ucap Kia.
Devan mengernyitkan dahinya, Askia kini sudah menjadi gadis remaja yang sudah paham akan artinya cinta. Devan tetap mengawasi Kia supaya tidak masuk dalam pergaulan yang salah.
"Boleh, teman-temanmu suruh datang semua juga tak masalah, biar mereka tahu kau punya adik kembar tiga yang menggemaskan."
Kia memeluk Devan, ia sangat menyayangi Devan walau bukan ayah kandungnya sedangkan ayah kandungnya sedang mendekam di penjara untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya. Devan lalu mengajak Kia untuk segera turun dan ternyata para undangan sudah datang. Ketiga anak kembarnya sudah mengenakan pakaian yang sama, mereka sangat imut sekali. Itulah perjuangan Devan untuk mendapatkan anak kandung setelah banyak yang menghinanya jika tak akan memiliki keturunan dari darah dagingnya sendiri.
Sedangkan Sena sedang mendandani Serafina yang duduk di kursi rodanya. Setelah kejadian mati suri, Serafina mengalami peningkatan dalam kesembuhan yang signifikan, dia sudah mulai bisa duduk sendiri bahkan sudah pandai mengobrol dengan orang lain. Sena merawatnya dengan tulus dan sepenuh hati. Devan mendekati mereka lalu mencium pucuk kepala Sena.
"Orang-orang sudah datang, Mas Devan sambut mereka deh!"
Devan mengangguk, dia mengelus kepala si bule Serafina. Serafina tersenyum manis, ia meminta gendong pada Devan, Devan dengan sigap menggendongnya sambil menyapa para tamu. Sena merangkul Askia lalu mengajaknya untuk mencoba gaun yang sudah disiapkan oleh Sena.
"Ini gaun untukmu, bagus gak?" tanya Sena pada Askia.
Askia mencobanya, ia sangat senang sekali menggunakan gaun tersebut. Sangat anggun dipakainya.
"Mah, aku juga bawa pacarku ke sini, Papa juga sudah ngijinin."
"Oke, ajak dia makan dulu. Pasti kalian lapar."
"Siap, Bos!"
__ADS_1
Askia berlari keluar dan menghampiri kekasihnya yang sedang menunggu di sana, Sena menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia sangat senang sekali ketika Askia tumbuh dengan baik bahkan dia harus jauh dari mama kandungnya yang tinggal di Singapura. Sena kini menghampiri ketiga anaknya yang sudah siap untuk melakukan acara tiup lilin. Mereka nampak sangat bahagia sekali.
"Sayang, kalian tumbuh dengan sangat cepat sekali. Mama sangat sayang dengan kalian."
Acara pun segera dimulai, anak-anak panti asuhan juga sudah datang dengan ibu panti. Acara dimulai dengan sambutan dari Devan yang mengucapkan banyak terima kasih karena mereka sudah mau hadir dalam acara kali ini. Setelah itu menyanyikan lagu selamat ulang tahun pada si kembar 3 dan meniup lilin.
Si kembar meniup lilin dengan sangat semangat sekali, Devan dan Sena tentu saja membantu mereka meniup lilin. Lilin pun sudah padam, mereka bertepuk tangan dan membuat suasana semakin meriah. Sekarang waktunya untuk memotong kue, Sena dan Devan membantu mereka untuk memotong kue. Potongan pertama untuk si kembar 3 dan potongan kedua untuk Sena dan Devan. Sena sangat senang sekali ketika ketiga putranya merasa bahagia.
Acara itu dilakukan sangat meriah, para tamu juga disediakan makanan dan minuman yang sangat lezat. Si kembar tentunya banyak mendapatkan hadiah dari para tamu undangan yang datang. Devan dan Sena sangat pandai membuat acara begitu meriah.
Kini giliran untuk sesi foto, Devan mengajak anak-anaknya untuk berdiri di depannya lalu ia merangkul Sena di depannya. Mereka berfoto banyak gaya apalagi Serafina sudah bisa tertawa.
Dari kejauhan, Regan tersenyum kecil. Dia bahagia melihat mantan istrinya juga sangat bahagia.
Sena tak sengaja menatap Regan, mereka berpandangan sampai Regan mencoba untuk mendekatinya.
"Hallo si kembar," ucap Regan.
Devan merangkulnya, ia sangat senang sekali melihat sahabatnya datang ke acaranya.
Si kembar sangat senang, mereka tak sabar untuk membukanya. Devan lalu mengajak Regan untuk makan sembari mengobrol, sedangkan Sena mengurus si kembar.
"Anak-anakmu cepat besar sekali," ucap Regan.
"Iya, tak terasa juga aku punya 5 orang anak. Aku merasa sangat tua sekali," jawab Devan.
Mereka mengobrol ke sana kemari sampai acara selesai. Para tamu juga sudah pulang dan kini menyisakan orang terdekat saja. Sena menghampiri mereka, ia memberikan beberapa makanan untuk Regan untuk dibawa pulang. Regan menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
"Jangan lupa dimakan di rumah!" pinta Sena.
"Terima kasih."
Tak berselang lama, Regan pulang. Dia sudah sangat lega ketika orang yang dia sakiti sudah bahagia dengan sahabatnya.
__ADS_1
Sena masuk ke kamar bersama anak-anak, mereka tak sabar untuk membuka kado dari para undangan yang datang. Si kembar senang sekali sampai berjingkrak-jingkrak.
"Mama, tadi pacarku ganteng gak? Dia kakak kelasku," ucap Kia sambil membuka kado.
"Ehm... ganteng kok tapi pacaran sewajarnya aja ya. Jangan yang aneh-aneh!"
Kia mengangguk. Serafina hanya melihat saja, ia duduk di kursi roda dan sepertinya mengantuk.
"Mama, aku bawa Sera ke kamar sebelah ya. Dia sepertinya mengantuk."
"Iya, buatkan susu juga."
Devan datang, ia melihat si kembar yang mulai mengantuk juga. Mungkin karena merasa kelelahan. Sena yang sadar lekas menidurkannya dan Devan menyimpan semua kadonya. Devan ikut terbaring di sebelah mereka, ia menatap Sena yang sepertinya sangat kelelahan karena menyiapkan pesta itu hampir semuanya sendirian.
"Terima kasih untuk hari ini, Sena."
"Aku juga sangat berterima kasih pada Mas Devan."
"Lihatlah! Anak-anak sudah mulai tidur! Mereka pasti sangat kelelahan."
Sena menyelimuti si kembar 3 itu, anak kecil seperti mereka memang gampang sekali terlelap.
"Sena, terima kasih sudah menjadi ibu yang baik untuk mereka. I love you."
Devan menarik tubuh Sena untuk berada di atas tubuhnya. Mereka berciuman dengan mesra, pagutan demi pagutan mereka lalukan sampai suatu ketika Devan melepaskan ciuman itu.
"Bolehkah aku memintanya?"
"Tapi ini masih sore."
Sena lalu mengangguk, sudah seminggu mereka tidak melakukannya.
Mereka melakukan penyatuan sampai terbawa suasana yang sangat panas.
__ADS_1
Terima kasih sudah memberi kebahagaiaan untukku, Mas Devan. Aku tak menyangka akan sebahagia ini. Pernikahan pertamaku memang gagal bahkan menyisakan luka yang sangat dalam namun semua itu sudah terlewati sampai aku menikah denganmu. Banyak hal yang aku bisa ambil hikmahnya dalam kejadian itu yaitu kesabaran akan berbuah manis suatu saat nanti. Batin Sena.