
Keesokan harinya.
Bram datang untuk menjenguk Sena, ia membawa makanan dan buah-buahan. Bram belum tahu jika cucu pertamanya sudah tiada dan dia juga belum tahu jika Regan adalah penyebabnya. Bram masuk, ia melihat Sena sedang terlelap sementara Regan berada di sampingnya.
"Papa?"
"Ssstt.... biarkan Sena istirahat!"
Bram memberikan sarapan untuk Regan, ia juga menyuruh Regan untuk segera ke kampus namun Regan beralasan akan datang siang hari. Bram menatap Sena yang tertidur pulas, ia tak tega dengan dua wanita yang menderita akibat ulah putranya. Andai saja Regan bisa memilih satu wanita saja pasti tidak akan seperti ini.
"Sena dan Maya, keduanya tidak memiliki orang tua. Kau sangat berdosa sekali telah mempermainkan mereka," ucap Bram.
Regan hanya diam sembari menyantap nasi kuning favoritnya, Bram sangat heran dengan putranya, dia seolah tak merasa bersalah sedikitpun.
"Lebih baik kau antar Maya dulu ke rekanmu itu dan suruh rekanmu menikahinya. Sena akan Papa jaga sebentar, Sena sedang mengandung anakmu, lebih baik perjuangkan saja Sena."
Regan terhenti dari suapannya, sang Papa belum tahu jika Sena keguguran, beliau pasti marah besar jika tahu hal itu. Tangannya meletakkan makanannya di atas meja, ia mendekati sang Papa dan meminta maaf yang sebesar-besarnya. Bram masih terdiam saat melihat Regan mulai menitikan air matanya.
"Ada hal yang harus aku sampaikan mengenai cucu Papa."
Bram sudah mendapat firasat yang buruk mengenai cucunya, Regan menjelaskan kejadian sebenarnya membuat Bram sangat murka. Tangannya langsung memukul wajah Regan sampai tersungkur di lantai. Bram sudah mewanti-wanti supaya tidak menyakiti Sena lagi namun sepertinya Regan melakukan kesalahan yang sangat fatal. Sena langsung terbangun mendengar kegaduhan, Regan menerimanya karena dia merasa bersalah.
"Pria tidak pecus sepertimu tidak layak menjadi seorang suami bahkan seorang ayah. Sekarang pergilah urus Maya! Selesaikan masalahmu dengan Maya! Jangan menemui Sena jika urusanmu dengan Maya belum usai," ucap Bram.
Sena baru pertama kali melihat Papa mertuanya marah besar, Sena pun juga takut. Regan pasrah, ia mengikuti apa kata sang Papa sebelum pukulan melayang lagi tepat di wajahnya. Sena menatap kepergian Regan lalu Bram menggenggam tangannya.
"Maafkan Regan! Dia sudah terlalu banyak menyakitimu. Dia masih kekanakan karena selalu kami manja."
Sena mengangguk, Bram memeluknya dengan erat. Sena menerima pelukan itu, pelukan yang dia rindukan dari sesosok ayah. Tangis Sena pun pecah saat memeluk Bram, ia tak menganggap Bram sebagai mertuanya namun menganggap seperti ayahnya sendiri. Terkadang Sena merasa risih ketika mendapat perhatian lebih dari Bram namun dia sadar jika Bram tulus menyayanginya sebagai seorang anak perempuan.
"Aku tidak bisa melindungi cucu Papa, maafkan aku! Aku ibu yang payah," ucap Sena.
"Bukan salahmu! Jangan merasa sedih! Semua akan baik-baik saja. Harusnya Papa yang meminta maaf karena menghasilkan anak kurang ajar seperti Regan," jawab Bram.
__ADS_1
Bram melepaskan pelukannya, dia mengelap air mata Sena. Bram sangat menyayangi Sena bukan tanpa alasan. Mendiang Ibu Sena adalah sahabatnya dulu namun mereka sudah putus kontak setelah sekian lama. Itu sebabnya Bram sangat menyayangi Sena seperti putrinya sendiri, Bram begitu terpukul saat mengetahui sahabatnya itu sudah tiada.
"Kau anak yang kuat seperti Ibu mu."
"Maksud Papa apa?"
***
Regan menuju ke rumah Maya, pipinya lebam akibat pukulan dari sang Papa. Regan tak marah dengan beliau justru berterima kasih karena sudah menyadarkannya.
Sesampainya di rumah Maya, Regan melihat Maya sedang memasak walau tangannya terluka. Melihat kondisi Maya pun, ia menjadi tak tega.
"Regan? Kok pulang cepat? Aku memasak sup rumput laut untuk Sena, katanya sangat bagus untuk seorang wanita yang baru saja keguguran," ucap Maya.
"Maya, ganti bajumu! Kita akan ke Abi untuk meminta pertanggung jawabannya."
Deg...
Siapa yang tidak terkejut dengan ucapan Regan? Maya pun langsung menolak, ia tak ingin bertemu dengan pria brengsek itu.
Regan tak menggubris, ia langsung segera membawa Maya masuk mobil. Dia tak ingin menunda-nunda lagi dan segera menyelesaikan semuanya. Maya terus saja meminta menghentikan mobilnya namun sayang sekali jika Regan sudah bertekad mencari Abimanyu.
"Regan, aku hanya ingin menikah kembali denganmu."
"Aku tidak bisa, Maya. Aku ingin kembali pada Sena. Aku ingin meminta maaf pada Sena karena terus menyakitinya."
Tangisan Maya semakin kencang membuat Regan mencari tempat untuk memperhentikan mobilnya. Regan memperhatikan perut Maya, di sana bukan anaknya melainkan anak dari rekannya. Dulu Regan sangat bodoh karena selalu mempercayai ucapan Maya namun kali ini dia tak bisa dibodohi lagi.
"Dulu kau bilang cinta padaku namun apa? Sekarang semuanya sudah terlihat jelas," ucap Maya.
"Dulu aku mengatakan itu karena tidak tahu jika anak yang kau kandung ternyata bukan anakku. Iya, aku sempat mencintaimu namun semuanya hancur karena kebohonganmu sendiri," jelas Regan.
Maya menggenggam tangannya, Regan langsung menepisnya. Dia tak ingin termakan omongan Maya lagi. Regan pun sekarang melakukan mobilnya menuju kota sebelah.
__ADS_1
Sesampainya di kota sebelah. Regan mencari alamat yang tertera di kertas, sebuah rumah di perkampungan ia sambangi dan menemukan rumah dari Abimanyu. Maya menunggu di mobil sementara Regan masuk ke halaman rumah itu.
Tok... tok... tok....
Pintu terbuka yang ternyata adalah Abimanyu sendiri.
"Regan?"
"Kak Abi, bisa kita bicara sebentar?"
Abi keluar lalu menutup pintunya. Dia tak memperbolehkan Regan masuk ke dalam rumahnya.
"Ada apa datang ke sini? Tahu alamatku dari mana?" tanya Abi.
"Ini tentang Maya. Dia sedang mengandung anakmu," ucap Regan tanpa basa-basi.
Abi menelan ludahnya kasar, ia menatap Maya yang ada di dalam mobil lalu kembali menatap Regan.
"Anakku? Jangan sembarangan!"
Regan mengirim video ke nomor Abimanyu, pria itu lekas melihatnya dan membelalakan mata. Dari mana Regan mendapat semua itu bahkan Abimanyu sendiri tidak mempunyainya.
"Apa hubunganmu dengan Maya?" tanya Abimanyu pada Regan.
"Gara-gara kau, aku harus berpisah dengan istri sahku," jawab Regan membuat Abimanyu bingung.
Abimanyu tak mempedulikan Regan, ia lekas masuk ke dalam rumah namun bahunya langsung di tarik oleh Regan. Abimanyu yang kesal langsung memukul Regan, Regan pun membalasnya. Terjadi perkelahian membuat Maya keluar dari mobil, ia melerai mereka berdua.
"Jelaskan Maya jika anak yang dikandunganmu adalah anak dari orang keparat ini," ucap Regan.
Abimanyu menatap Maya dengan tajam, Maya hanya bisa memainkan jemarinya.
"Jawab!" bentak Regan.
__ADS_1
"Benar, ini anak dari Kak Abimanyu," jawab Maya ketakutan.
Regan menatap Abimanyu dengan tatapan tajam. "Sudah jelaskan! Kau harus menikahinya. Aku akan memanggil Paman dari Maya untuk menjadi wali dan aku menjadi saksi pernikahan kalian."