Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 2: Hati yang kau lukai


__ADS_3

“Itu... emh... aku dimarahin bos  jadinya disuruh pulang karena aku tidak tahu mau apa di rumah, maka aku di sini saja.” Sena terpaksa berbohong, dia tak ingin sang bapak khawatir dengan keadaannya.


Sena membantu bapak untuk menambal ban pelanggan yang membutuhkan jasa mereka, dari pekerjaan itulah sang bapak bisa membiayai Sena sampai kuliah. Sena adalah anak piatu, dia tak mempunyai ibu sejak SMA.


Dia menjadi mandiri dan sering mengambil kerja sambilan semasa sekolahnya.


Pribadinya sangat kuat namun siapa sangka jika nasib pernikahannya seperti ini.


Sena mencoba untuk kuat, dia tak mau gegabah untuk mengambil keputusan apalagi


ini menyangkut nasib rumah tangganya.


Tak terasa waktu jam makan siang datang juga,


pelanggan hari ini cukup banyak membuat Sena kelelahan. Bapak mengajaknya makan


dengan bekal yang Sena masak tadi. Mereka makan bersama-sama dengan lahap


sampai habis.


“Na, sudah ada tanda-tanda hamil?” tanya bapak.


Pertanyaan itu di dapat bukan hanya dari bapak saja melainkan mertuanya juga. Bagaimana dirinya bisa hamil jika sang suami tak


menyentuhnya sama sekali? Sena menggeleng membuat Bapak mengusap rambut


putrinya itu.


“Pak, lagian aku juga masih fokus bekerja. Nanti akan repot jika nantinya ada anak diantara kami.”


“Bapak sarankan jangan ditunda! Nanti akan


menyesal.”


Tidak ditunda pun sudah membuatku menyesal, menyesal telah menikahi pria yang salah.


Suara mobil terparkir membuat aktvitas makan mereka terhenti, Sena menatapnya dengan jengah, pikirannya langsung terbayang kejadian


di kampus tadi pagi. Pria yang tak berhati nurani itu sudah membuatnya sangat


kecewa.


“Sena, suamimu datang.”


Bukan suami, lebih tepatnya calon mantan suami.


Sena tak menggubris, dia mencuci tangannya lalu segera mengambil tas miiknya yang tergelatak di kursi. Regan sudah masuk lalu


menyalami Bapak mertuanya.


“Mau jemput Nana?” tanya Bapak.


“Iya, Pak. Sena, ayo makan siang!”


Sena menatapnya malas, ia sekilas memperhatikan raut wajah sang bapak yang heran dengan reaksi saat bertemu dengan Regan. Tak mau membuat Bapak curiga akhirnya Sena mau ikut dengan Regan. Mereka berpamitan dengan sopan lalu masuk ke mobil Pajero hitam milik pria dingin itu.  Di dalam mobil, Sena memilih mendengarkan lagu lewat ponselnya dan matanya menatap jalanan yang ramai di siang ini.

__ADS_1


“Sena, aku akan membawa Maya untuk tinggal bersama kita malam ini juga.”


Pria yang tak punya hati, bukannya meminta maaf namun malah semakin menyiramkan air


cuka ke luka yang ternganga.


“Terserah Kak Re saja asalkan besok sudah ada surat perceraian kita.”


“Kita tidak akan bercerai.”


Sena menatap lekat Regan, pria itu memang tak


memiliki perasaan. Sena tersenyum kecut, matanya seketika memerah menahan air mata yang sedari tadi seakan mau jatuh. Hatinya terasa tertusuk duri lalu disiram perasan air jeruk nipis. Perih, itu yang dia rasakan. Tak main-main Regan menyakiti perasaannya.


“Kau senang melihat hatiku sakit? Kenapa Kak Re sangat kejam?”


Regan hanya diam, tidak ada suara yang terdengar dari bibirnya yang selalu datar dan tidak pernah tersenyum. Regan bukan hanya


dosen killer bagi Sena, melainkan suami yang tak bisa ia gapai. Pria dingin itu memilih diam saat Sena mulai mengajaknya berdebat.


Ternyata Regan membawanya pulang ke rumah, dari jendela mobil Sena bisa melihat Maya yang tengah berdiri di teras mereka. Mata


Sena melihat koper besar sudah ada di sana. Air mata Sena tumpah, ia langsung turun mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa memperdulikan Maya.


“Na... Sena ...” Maya mencoba mencegahnya namun Sena menepis tangannya.


Wanita 27 tahun itu berlari masuk ke kamar dan


mengunci pintunya, dia menangis tersedu -sedu. Pria jahat itu tak mempunyai hati


Aku kurang apa selama ini? Aku sudah melakukan apa yang diharuskan seorang istri


lakukan. Jika dia tak mencintaiku, kenapa menyiksaku begini? Sakit... sakit sekali.


Tok ... tok ... tok ...


“Sena, ayo kita bicara! Sena, kita sudah menjadi


keluarga. Suamimu juga kini suamiku. Kami memang salah telah melakukan pernikahan tanpa sepengetahuanmu,” ucap Maya.


Tak ada jawaban dari Sena, Maya menghela nafas secara kasar. Regan menarik tangannya dan menyuruh membiarkan Sena yang sedang


syok. Sena hanya butuh waktu yang pas untuk menerima pernikahan mereka.


“Tata barang-barangmu di kamarku, biarkan Sena merenungi semuanya.”


“Regan, apa kita tidak keterlaluan dengannya?”


“Tidak, sedari awal aku memang tidak ingin


menikahinya. Ini resiko yang harus diterima jika menikah tanpa cinta.”


Regan segera kembali ke kampus setelah jam


istirahatnya selesai, sedangkan Maya akan memutuskan untuk mengundurkan diri

__ADS_1


dari kampus itu sebelum kabar pernikahan siri-nya tersebar di kampus. Maya akan


menempati kamar bersama Regan. Lalu Sena bagaimana?


Sedari awal pernikahannya dengan Regan,


pria itu tak mengizinkannya untuk masuk bahkan tinggal di kamarnya.


Sena menangis pilu sambil memukul-mukul dadanya, sudah ribuan air mata ia teteskan sedari awal pernikahan mereka.


Jahat, kau sangat jahat!


Bunda, andai saja kau masih ada pasti pernikahan ini tak akan terjadi.


Sena menangis sampai terlelap, hanya tidur yang bisa membuatnya melupakan fakta yang menyakitkan walau saat ia terbangun akan


mengingatnya lagi. Sementara, ia hanya ingin melupakannya meski hanya sementara.


Malam hari.


Sena terbangun di pukul 7 malam saat Maya mengetuk pintu kamarnya. Sena dengan malas menuju ke kamar mandi tanpa menghiraukan


ketukan pintu tersebut. Sena menyiram air dingin ke seluruh tubuhnya sampai bersih. Seusai mandi, Sena terpaksa keluar dari kamar karena perutnya yang keroncongan.


Di meja makan, Sena melihat pasangan mesum itu sudah duduk bersebelahan. Sena tak menghiraukan mereka dan menuju ke dapur untuk membuat makanannya sendiri.


“Duduklah!” pinta Regan tanpa menatapnya.


Sena terhenti, baru kali ini Regan menyuruhnya untuk duduk bersama di depan meja makan namun sayangnya di sana ada madunya.


“Aku tidak suka mengatakan kalimat yang sama untuk kedua kalinya.” Regan berbicara tanpa ekspresi.


Dada Sena bergemuruh, ingin sekali menyiram air panas pada Regan.


“Ada air panas di atas meja, silahkan siram ke


wajahku jika mau.” Regan bisa membaca ekspresi Sena yang berapi-api.


Sena menarik kursi dengan kasar, dia duduk di


seberang mereka berdua.


“Sayang, bisa ambilkan nasi?”  pinta Regan.


Sena dan Maya refleks mengambil centong nasi, Sena langsung mengalah karena mengingat panggilan ‘Sayang’ bukan untuknya. Dia sadar diri jika yang dimaksud Regan adalah Maya. Sena kembali duduk dan terdiam, ia


melihat tangannya begitu bergetar di bawah meja.


Dia memang menyiksaku. Dia pria yang berperasaan dingin bahkan mati. Aku tidak


menyangka bisa terjebak  pernikahan


dengannya. Regan Anggara, kapan aku bisa meraih cintamu? Apa dengan kemunculan


Kak Maya seolah kode untuk membuatku menyerah untuk bisa menggapai cintanya?

__ADS_1


__ADS_2