Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 71 : Bunga tidur


__ADS_3

Hari pernikahan pun tiba,  Sena mengenakan kebaya yang sudah dipesannya jauh hari. Dipernikahan keduanya tidak ada sosok seorang ibu yang menemaninya dan tidak ada kerabatnya yang datang. Sena memang tidak punya keluarga selain sang bapak. Dia anak piatu yang malang.  Sofia menepuk bahunya dari belakang, ia tersenyum melihat  calon menantunya yang sangat cantik. Sebentar lagi Sena akan mendapat gelar Nyonya Devan dan menjadi istri terakhir bagi Devan. 


"Cantik sekali, Devan memang pantas mendapatkanmu."


"Mama terlalu memuji."


Sofia mengajak Sena untuk naik ke mobil, Sena menyuruh beliau untuk masuk duluan. Sedangkan Sena masih menatap dirinya di kaca cermin kosnya. Saat bersamaan, Regan mengirimnya pesan.  Sena membacanya dan mengernyitkan dahi.


Regan : Aku tunggu dibelakang kosmu.


Sena : Untuk apa? 


Regan : Aku tunggu sekarang. 


Sena membuka jendela belakang kamar kosnya, ia melihat Regan berdiri di sana. Sena lekas keluar dari kamar kosnya dan menemui Regan di belakang halaman kos. Regan melihat penampilan Sena yang sangat cantik bahkan lebih cantik saat akad menikah mereka dulu. Penyesalan memang ada diakhir  jika di depan namanya kesialan, kesialan bagi Regan karena dulu tidak memperlakukan Sena dengan baik. 


"Ikut aku sebentar," ucap Regan sambil menarik tangan Sena. 


"Mau ke mana? Mertuaku sudah menungguku di mobil," jawab Sena. 


Regan tetap menariknya,  membawa Sena menuju ke dalam mobil. Sena merasa ada yang aneh dengan Regan, dia memberontak namun Regan berjanji tidak akan melakukan hal apapun dan akan mengantar Sena ke KUA. Di dalam mobil, Sena mencoba menghubungi Sofia namun ponselnya malah disita oleh Regan. Regan benar-benar tidak membiarkan Sena menghubungi orang lain. Kali ini ia ingin berbicara dengan Sena 4 mata. 


"Kak Re, aku harus ke rumah Kak Devan terlebih dahulu.  Kami akan melakukan akad di sana jam 9."


"Ini masih jam 8."


Sena memandang wajah Regan yang serius menyetir mobil. Sena semakin bingung dibuatnya dan tidak bisa dihubungi Devan. Apa dia benar-benar di culik oleh Regan? Regan membawanya ke suatu tempat, tempat yang belum pernah dikunjungi oleh Sena. Tempat itu sebuah danau dan dipinggirnya terdapat perahu. Setelah mobil terparkir, Regan membukakan pintu mobil untuk Sena dan membantunya berjalan. 


"Kenapa kita ke sini?" tanya Sena.


"Mau naik perahu denganku?" 

__ADS_1


"Apa maksudmu? Aku harus ke rumah Kak Devan saat ini."


Regan menarik tangannya, entah kenapa Sena seolah terhipnotis dengan  Regan dan mengikuti pria itu. Regan membawanya untuk naik perahu, dia membantu Sena untuk naik ke perahu kecil itu. Dengan hati-hati Sena naik diikuti Regan di belakangnya. Mereka kini duduk berhadapan sementara Regan mulai mendayung. Sena menunduk saat ditatap Regan, ia seolah takut dengan pria di depannya itu.  


"Kak Re, aku harus pergi ke akad nikahku, ku mohon jangan menghalangi pernikahanku."


"Aku masih ingat saat mengucap akad nikah di depan orang tua kita. Jika aku mengingat semua itu sangat membuatku gila karena aku ingin  mengulanginya sekali lagi."


Sena merasa ucapan Regan sangat ngelantur, apalagi kini mereka malah semakin ke tengah danau dan Sena tidak bisa berenang untuk kabur dari sana. Sena terus memohon sampai ingin menangis, dia tak ingin gagal dalam pernikahannya, Regan terus saja bercerita masa lalunya. Masa lalunya dengan Sena. 


"Kak Re, ada apa denganmu? Cepat tepikan perahu ini!" 


Regan tidak menjawab ucapan Sena, ia terus mendayung sampai ke tengah bahkan sudah terhenti di sana. Sena sangat panik, ia mencoba merebut dayung tersebut malah Regan melemparnya ke air.


"Kau gila?" teriak Sena.


Sena semakin pusing, ia berusaha mengambil dayung itu namun sia-sia. Tangannya tak bisa menggapainya. Regan hanya diam memperhatikan seolah menikmati ketakutan Sena. Regan memegang tangan Sena yang berkeringat lalu setelah itu ia menjatuhkan diri di danau bersama Sena. Sena sangat terkejut, ia tak bisa berenang dan berpegangan pada Regan.


"Jika aku tak bisa memilikimu maka orang lain juga tidak boleh. Kita harus mati bersama," jawab Regan.


Sena tak habis pikir kenapa Regan menjadi seperti ini. Dia terus memeluk Regan supaya tidak tenggelam. Air di danau itu sangat dingin bahkan tidak ada seorang pun di sana kecuali mereka.


"Kak Re, aku tidak mau mati sia-sia." Sena menangis, ia pernah membaca jika mati tenggelam itu sangat menyakitkan.


"Kau tidak mati sia-sia. Kau mati bersamaku."


Regan menarik tubuh Sena masuk ke air, begitupun dengan tubuh Regan. Mereka menenggelamkan diri bersama. Sena terbatuk-batuk namun Regan tak menggubrisnya.


Di sisi lain.


Devan sangat khawatir karena calon istrinya tak kunjung datang. Sofia datang terburu-buru dan memberitahukan jika Sena kabur. Itu semua membuat Devan terkejut, ia mendengarkan dengan seksama ucapan sang mama. Devan mencari keberadaan Sena, ia sangat khawatir jika terjadi sesuatu kepada calon istrinya, tak mungkin juga Sena kabur. Sampai suatu ketika ia mendapat kabar jika Sena telah ditemukan bersama Regan dan kini menuju perjalanan ke rumah sakit.

__ADS_1


Devan lekas ke rumah sakit, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Sena. Namun dipikirannya masih bertanya-tanya kenapa Sena ada bersama Regan?


Sesampainya di rumah sakit, Devan mencari ruangan yang merawat mereka dan betapa terkejutnya jika kamar itu adalah kamar jenazah.


"Sena sudah meninggal dengan Regan," ucap dokter tiba-tiba datang dibelakang Devan.


Devan seolah tak percaya, ia masuk ke ruang jenazah itu lalu terbaring Sena dan Regan bersebelahan sambil bergandengan tangan.


"Nana? Nana sayangku..." Devan mendekati Sena, ia menangis histeris. "Bangun! Jangan tinggalkan aku!"


Devan melepaskan genggaman tangan mereka lalu memeluk erat tubuh Sena yang membiru.


"Arhhhhh... Kenapa kau tega melakukan ini padaku? Kau lebih memilih mati bersama Regan daripada denganku," ucap Devan.


Tiba-tiba tubuh Devan seperti ada yang menggoyang-goyangkan dari belakang. Dan....


"Devan, bangun!!! Kenapa berteriak seperti itu di tengah malam? Anakmu sampai ketakutan," ucap Sofia membangunkan Devan.


Devan berkeringat dan menatap sekitarnya yang rupanya dia di dalam kamarnya sendiri. Ternyata tadi adalah mimpi. Mimpi yang seolah sangat nyata. Apa arti dari mimpi tersebut? Semoga saja tidak terjadi apa-apa.


"Devan! Malah melamun. Cuci muka sana!" ucap sang mama.


"Aku mimpi Sena meninggal, Ma."


Sofia mengernyitkan dahinya lalu tersenyum kecil. "Tandanya dia panjang umur."


"Tapi dia bergandengan tangan dengan Regan dan Regan pun juga meninggal."


Devan sangat takut akan mimpi itu. Sofia mengambilkan air putih lalu memberikannya pada Devan.


"Itu hanya bunga tidur. Jangan memikirkan hal aneh-aneh! Fokus pada persiapan akad nikahmu besok saja."

__ADS_1


__ADS_2