Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 44 : Atap


__ADS_3

"Hahaha..." Regan tertawa terbahak-bahak, dia tak percaya ucapan Sena begitu saja.


Vina dan Devan hanya memperhatikan rekan dengan heran itu sepertinya memang kehilangan akal sehatnya.


"Apa? Menikah? Bohong! Kau hanya berdusta saja. Tak mungkin kalian menikah," ucap Regan.


Sena menggenggam tangan Devan begitu erat membuat Devan tahu kekawatiran Sena jika Regan tak mudah percaya. Devan ikut berakting dan merangkul Sena.


"Tidak ada yang tidak mungkin. Aku dan Sena memang akan menikah apalagi kalian sudah tak memiliki ikatan apapun," ucap Devan.


DEG


Hati Regan terasa sangat sakit seperti tertancap ribuan pedang, tak mungkin jika mereka akan menikah secepat itu dan Sena melupakannya secepat itu.


Devan tak ingin mengurusi Regan lalu segera pergi meninggalkannya. Sena sangat puas ketika melihat keterpurukan Regan di depan matanya sendiri namun itu belum cukup membuat rasa sakit hatinya menghilang.


Devan melirik Regan yang tak berkata apapun, saat mereka pergi Devan sangat terkejut saat melihat Regan sudah berdiri di pembatas seolah ingin loncat dari atas sana. Devan berlari begitu cepat ia menarik tangan Regan dan mereka sama-sama terjatuh di atas lantai semen itu.


Bruk...


Sena juga tak kalah terkejutnya, ia melajukan kursi rodanya untuk mendekati mereka dan melihat keadaan mereka berdua.


"Bodoh jangan dipelihara! Kau ingin loncat?" ucap Devan.


"Pergi! Pergilah kalian! Puas kalian melihat kesengsaraanku?" bentak Regan.


Devan langsung mendorong kursi roda Sena setelah bangun dari lantai semen itu menuju ke lift. Sena melirik Regan dan takutnya Ia melakukan hal yang sama seperti tadi.


"Pak Devan, nanti Kak Re melakukan hal yang sama lagi bagaimana?" tanya Sena.

__ADS_1


"Dia tak akan berani. Sudah, kau kembali ke ruanganmu saja. Aku juga harus kembali ke kantor karena jam makan siangku habis," jawab Devan.


Sena melihat Regan dari lift yang akan tertutup. Mereka saling berpandangan namun Devan menutup mata Sena. "Jangan melihatnya lagi! Kau akan tambah terluka."


Pintu lift mulai tertutup dan mereka segera turun. Di dalam lift Sena menguatkan hatinya yang sempat goyah. Di dalam hati kecilnya ia masih mempercayai ucapan Regan namun akal sehatnya seolah menyuruh untuk menolaknya mentah-mentah.


"Sena, apa tadi ucapanmu benar jika mau menikah denganku?" tanya Devan.


"Maaf, jika aku lancang tapi tadi hanya ucapan saja dan tidak berniat untuk begitu," ucap Sena.


Devan paham tak mungkin Sena mau menikah dengannya secepat itu apalagi Ia baru saja kehilangan anaknya. Tak apa, Devan akan terus berusaha mendekati Sena namun dia juga manusia yang mudah menyerah dan tak akan memaksa Sena lebih jauh lagi jika dia memang tak mau dengannya.


Pintu lift terbuka, Devan mendorong kursi roda itu kembali menuju ruangannya, kini Sena harus sendirian lagi dan Devan tak berjanji akan kembali malam ini karena putrinya masih membutuhkannya Devan adalah seorang ayah yang baik dia akan mengedepankan putrinya lebih dulu.


"Titip salam buat Kia, dia pasti marah karena aku tidak menjenguknya," ucap Sena.


"Tak apa, dia juga tahu jika kau sakit." Devan menyelimuti Sena lalu menatap wanita itu dengan lekat. "Maaf, pasti kau merasa risih dan jijik padaku karena sok dekat denganmu dan mengurusi kehidupan pribadimu."


"Sudah ya, aku mau kembali ke kantor."


"Iya, terima kasih. Semangat bekerja!"


***


Tiga hari kemudian, Sena diperkenankan pulang namun sebelum kembali ke kosnya ia menyempatkan diri menjenguk mertuanya yang masih dirawat di ruang ICU. Di depan ruangan itu terlihat Bram Sedang menutup mata sambil berdoa sini tahu kesedihan Papa mertuanya itu.


"Papa?"


Bram membuka matanya yang tersenyum melihat Sena sudah mengenakan baju biasa.

__ADS_1


"Sudah boleh pulang?" tanya Bram.


Sena mengangguk lalu duduk disebelah beram keadaan Intan masih belum stabil bahkan hanya sesekali siuman namun tetap berharap supaya sang istri lekas sembuh dan bisa segera pulang.


"Sena, kau wanita yang kuat setelah ini semoga kau mendapat pria yang baik untukmu."


"Terima kasih, Pah. Papa yang kuat ya. Mama pasti lekas sembuh."


Maya keluar dari ruangan itu, ia melihat Sena. Dia tak menyapa Sena sedikitpun dan meninggalkan ruangan itu. Harusnya Sena yang marah dan kesal namun memang pelakor yang lebih galak. Dunia ini memang sangat terbalik.


"Kak Re sehat-sehat saja 'kan?" tanya Sena.


"Ya, dia sehat. Tumben menanyakannya."


"Tidak apa-apa. Dia sepertinya sudah tak datang ke rumah sakit ini untuk menjenguk Mamanya. "


Bram mengangguk. "Regan sedang sibuk di kampus. Dia akan datang sore nanti."


Sena berdiri, ia ingin melihat mama mertuanya namun dia belum siuman. Dia hanya melihat dari balik jendela saja. Sena ingin sekali mengobrol dengan ibu mertuanya namun tak mungkin di sana seperti ini.


Sena membalikan badan, ia berpamitan untuk pulang. Besok dirinya harus kembali lagi bekerja.


"Sena, jika Regan ingin memperbaiki hubungan apakah bisa? Apakah masih ada kesempatan?" tanya Bram membuat langkah Sena terhenti.


"Maaf, Pah. Jika Papa masih merasa kasian denganku seharusnya Papa tak menanyakan hal itu," jawab Sena datar.


Sudah cukup penderitaannya, ia sudah muak dengan namanya Regan Anggara.


***

__ADS_1


Akan rajin update, jangan lupa LIKE nya


__ADS_2