Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 105 : Benarkah?


__ADS_3

Pagi hari, 


Sena mengoleskan selai kacang pada roti yang hendak dimakan oleh sang suami. Hari ini Devan harus berangkat bekerja, untuk masalah Kia ia sudah memberi tanggung jawab pada Winda apalagi Devan sudah tahu calon suami Winda seperti apa. 


Flashback kemarin. 


"Namanya Lim Jason. Dia pengusaha asal Singapura dan dia akan menjadi calon suamiku."


"Lim Jason? Seperti tak asing namanya." 


Winda memberikan foto kekasih barunya itu yang baru beberapa minggu ini menjalin hubungan dengannya. Devan memperhatikan dengan seksama. Dia kenal dengan orang itu. Pria berwajah Cina-Amerika yang menjadi rekan bisnisnya dulu. 


"Kami akan menikah dan dia mau menerima Kia dengan baik, dia juga mau menerima masa laluku yang hancur," ucap Winda. 


Devan memberikan foto itu pada Winda, masalah Kia biar Kia saja yang memilih dia ingin ikut siapa setelah apa yang terjadi. Mungkin saja Kia trauma dengan Winda dan ingin ikut dengan Devan. 


Flashback selesai. 


"Mas? Makan dulu!" ucap Sena membuyarkan lamunan Devan. 


Devan tersenyum namun keningnya langsung berkerut saat Sena menggunakan syal di lehernya. Devan melepaskannya, ia bisa melihat tanda merah bibirnya di sana. Sena sangat malu sekali bahkan tidak ingin menatap Devan. 


"Kenapa, Sayang?" tanya Devan. 


"Kau jahat, jika begini aku tidak bisa keluar rumah," jawab Sena sambil manyun. 


Devan tertawa kecil, dia sangat gemas dengan istrinya itu. Mereka makan bersama-sama, Sena masih memperhatikan Devan yang makan dengan lahap. Devan juga memandangnya, Sena langsung menunduk. 


"Ada apa, Sayang?" 


"Mas, apa boleh aku jalan-jalan ke mall dengan Sera? Aku bosan." 


Devan menatap Sena dengan lekat, jarang sekali Sena mau berjalan-jalan ke mall, mungkin ini adalah keinginan bayinya. Devan mengangguk, ia akan menyuruh Mamanya untuk menemani Sena. Sena sangat senang sekali, dia mendekati Devan dan langsung menciumnya. 


"Yang penting jangan sampai kelelahan! Jaga anak kita dengan baik!" 

__ADS_1


"Siap, Bos!" 


Mereka melanjutkan makan sampai habis, Sena memandang putrinya yang hanya diam di sampingnya. Sena menggendongnya dan mencoba menyendokkan teh ke dalam mulutnya. Serafina mau meminumnya, Devan memperhatikan putrinya, hampir saja dia lupa memiliki Serafina. 


"Nanti Mas Devan pergi ke rumah sakit?" tanya Sena. 


"Iya, sepulang  kerja dan malam akan pulang." jawab Devan. 


Devan sudah menyelesaikan makannya, ia bergegas untuk segera berangkat bekerja. Dia berpamitan pada istri dan anak-anaknya setelah itu dia berangkat bekerja. Sena tersenyum, hubungannya dengan Devan kian membaik, dia juga berencana akan datang ke rumah sakit sore nanti untuk menjenguk Kia. Setelah Devan berangkat, dia harus memandikan Serafina, balita gembul itu kini tubuhnya sangat dingin sekali. Sena yang khawatir lekas memanggilkan dokter. 


Saat bersamaan, salah satu pembantunya datang untuk memberitahukan perihal jika sang bapak datang, Sena sangat senang sekali. Dia lantas menyuruhnya untuk masuk ke kamar karena putrinya tidak bisa ditinggal. Setelah beliau masuk, Sena memeluknya. Sudah lama sekali dia tak bertemu dengan beliau, Bapak menciumi pipi Sena dan meminta maaf jika tempo hari tidak datang karena dia ada keperluan yang tidak bisa ditinggal. Bapak juga membawakan banyak mainan untuk cucunya itu bahkan sampai saat ini Bapak belum tahu jika putrinya sedang hamil. 


"Pak, duduklah! Dia cucumu, belum pernah lihat kan?" tanya Sena. 


"Dia cantik sekali, apa bule?" 


Sena mengangguk, ia juga memberitahu jika dirinya tengah hamil. Bapak memeluknya dengan erat, kebahagiaan Sena adalah kebahagiaannya juga. Dia sangat senang sekali dan terus memberi ucapan selamat pada Sena. 


"Sena, kau berhak bahagia. Bapak akan terus mendoakanmu." 


**


9 bulan kemudian. 


Sena harus berjuang untuk melahirkan anaknya, Devan yang berada di sebelahnya terus menyemangatinya. Sena terus merasa sangat kesakitan, dirinya sudah tak tahan lagi bahkan kini sudah merasakan kelelahan. Sudah 8 jam Sena menahan rasa sakitnya dan kini sudah berada di puncaknya. Tak ada yang bisa menyemangatinya selain suaminya sendiri dan tak berselang lama kemudian, anak mereka pun lahir.  Sena menangis melihat putra pertamanya itu setelah penantian panjang.  Devan mengucapkan banyak terima kasih pada Sena karena sudah berjuang selama 9 bulan ini yang telah mengandung anak kembar 3 sekaligus. Sungguh membuat Devan sangat terharu. 


Beberapa saat kemudian, Devan dipanggil untuk keluar, Devan segera menemuinya yang ternyata dari dokter yang menangani Serafina. Balita yang berumur 2 tahun itu meninggal dunia setelah berjuang di rumah sakit selama 2 minggu ini. Devan menggelengkan kepalanya, tak mungkin jika Serafina meninggal. Devan langsung masuk ke dalam, ia melihat balita yang memiliki rambut panjang nan coklat itu sudah terbujur kaku. 


"Sera, bangun! Ketiga adikmu sudah lahir. Jangan tinggalkan Papa! Sera, bangun!" ucap Devan sudah bercucuran air mata. 


Balita tersebut telah berjuang selama 2 tahun dan menahan kesakitannya selama ini. Devan dan Sena sudah sangat senang karena Sera sudah bisa dalam posisi duduk namun 2 minggu ini Serafina terus menangis dan ketika diperiksa dokter, dokter sudah tidak bisa melakukan banyak hal karena penyakit bawaan Serafina memang tidak dapat disembuhkan.  Devan tentu saja sangat terpukul sekali, dia menangis tersedu-sedu disamping Serafina. Kia menarik tangannya, Devan lekas memeluknya dengan erat. 


"Papa..." 


"Kia... jangan bilang pada Mama Sena jika Sera meninggal! Dia pasti akan sedih sekali." 

__ADS_1


Askia mengangguk, ia memeluk Papanya dengan erat. Askia kini sudah bisa melihat lagi setelah melakukan operasi pada matanya serta baru-baru ini dia menjadi saksi atas kejahatan Alden yang sudah berani menjualnya. Askia menjebloskan Papa kandungnya ke penjara sendiri, dia sangat benci dengannya sedangkan sang mama sudah menikah dengan pengusaha kaya Singapura dan kini sudah tinggal di sana. Pribadi Winda jauh lebih baik ketika sudah menikah dengan suaminya itu dan tidak pernah lagi pergi ke dunia malam yang sangat kelam itu. 


Devan dan Kia lekas menemui Sena yang sudah dipindah ke ruang inap biasa sedangkan ketiga bayi kembarnya berada di ruangan lain.  Sena tersenyum melihat Devan dan Kia, ia tentu saja sangat bahagia sekali karena sudah  melahirkan bayi kembar 3 dengan selamat. 


"Mas Devan, keadaan Serafina bagaimana?" 


Deg....


Devan dan Kia saling berpandangan, tak mungkin jika mereka memberitahukan jika Serafina sudah meninggal. Devan mendekatinya, ia mengecup pipi Sena. "Sera tidak papa, dia hanya butuh istirahat saja." 


"Aku ingin melihat keadannya."


Devan menggelengkan kepalanya, ia tak mungkin membawa Sena ke sana, Sena saat  ini tengah bahagia dan dia tidak mau membuat Sena sangat sedih walau sebenarnya dia harus melakukannya. Devan menyuruh Sena untuk beristirahat saja, dia tak ingin membuat Sena kepikiran karena saat ini kondisi Sena memang belum stabil.  Namun bukanlah Sena yang tidak mau memaksa, dia bersikukuh untuk melihat putrinya yang sudah sedari awal masuk ke rumah sakit. Kia memandang sang papa seolah menjelaskan jika memang semua ini harus dibicarakan dengan Sena.


Devan mencoba untuk  menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, tubuh Sena menegang, ia ingin menemui Serafina yang selama setahun ini dia rawat dengan baik. Devan meminta izin dokter terlebih dahulu lalu setelah itu membawa Sena ke ruang jenazah. Sena membuka kain yang menutupi wajah Serafina. Air matanya tumpah melihat balita itu sudah tidak bernyawa lagi. 


"Sera, bangun Sayang! Sera, si kembar sudah lahir, apa kau tidak ingin melihatnya?" 


Devan mencoba menenangkannya namun Sena sudah sangat kalut, dia menangis tersedu-sedu sambil memeluk putri keduanya itu. Askia pun juga menangis, dia tak bisa berkata-kata banyak. 


"Sena, Serafina sudah tenang, dia sudah tidak kesakitan lagi," bisik Devan. 


"Apa maksud Mas Devan? Dia anakku, kenapa kau bilang begitu?" 


Saat bersamaan, terjadi pergerakan pada Serafina. Sena bisa merasakan tangan Sera yang bergerak, Sena menatapnya dengan lekat bahkan Devan pun juga terkejut. Sedikit demi sedikit mata Sera terbuka, ia menatap sang mama yang sudah 1 tahun merawatnya. Devan lekas memanggil dokter, ada kemungkinan memang Serafina mati suri, semoga saja itu benar terjadi.


***


Ini novel Regan dan Bram


di sini novel panas....


Ranjang Hangat Dosenku (REGAN & QUEEN)


__ADS_1


__ADS_2