
"Maksudku buatkan adik untuk Kia. Kasian, dia akan 9 tahun namun masih sendirian saja," ucap Devan dengan penuh harap.
"Apa sih? Kita aja belum nikah," jawab Sena.
Devan tersenyum kecil seolah tahu sindiran halus untuknya. Menikah? Mereka baru saja beberapa bulan yang lalu bercerai dengan pasangan masing-masing. Apa yang diomongkan orang lain nantinya jika mereka tiba-tiba menikah? Sena dan Devan tidak ingin mendapat omongan seperti itu.
"Kia, yang sabar ya! Kau belajar dulu yang pandai untuk bisa menjadi kakak yang baik," ucap Devan.
"Jadi Kia akan segera punya adik?"
Devan mengangguk membuat gadis kecil itu riang, ia memeluk sang papa sedangkan Sena hanya menggeleng-gelengkan saat melihat kekasihnya begitu iseng dengannya. Tak dapat di pungkiri lagi jika Sena sangat bahagia bisa bersama Devan, dia tak menyangka akan dekat dengan bosnya sendiri apalagi saat ini mereka berpacaran.
Mobil membelah jalan raya yang ramai, tahun ini adalah tahun kebebasannya dari belenggu Regan.
Sena tak menyangka jika dirinya akan berpisah dengan Regan, pria yang dulu ia cintai dengan keadaan bodoh dan menerima apa adanya. Sena seketika teringat masa-masa 2 tahun dengan Regan terasa hampa dan kosong karena pria itu sama sekali tak menganggapnya. Tentu saja, Regan sudah memiliki 2 wanita pemuas di belakang Sena. Sena menggelengkan kepalanya membuat Devan heran.
"Ada apa, Nana?" tanya Devan.
"Tidak apa-apa, hanya lapar saja," jawab Sena.
Devan mengecup pipi Sena dengan gemas di depan Kia. Sena mendorong tubuh Devan supaya menjauh darinya namun Devan malah memeluknya dari samping dengan erat. Kia sangat gemas dengan mereka berdua dan malah naik di pangkuan mereka.
"Aduh... kenapa kalian malah memelukku dengan erat?" tanya Sena.
Tubuh Kia menghadap mereka, gadis kecil itu mendekatkan kepala Devan dan kepala Sena sehingga menempel. Kia lekas mengambil ponselnya lalu segera memotret kedekatan mereka dan menjadikan wallpaper pada ponselnya. Kia lekas turun dari pangkuan mereka, rasanya senang sekali karena bisa merasakan keluarga yang kembali utuh.
"Oh ya, kita ke taman hiburan pakai baju kondangan seperti ini?" tanya Sena.
"Kita bisa ganti di kamar mandi restoran, kita makan dulu," jawab Devan.
__ADS_1
Sena mengangguk paham, tiba-tiba tangan Devan menggenggam tangannya dengan erat namun pandangannya tetap ke arah ke depan. Sena tersenyum menatap kekasihnya dan saat bersamaan Devan juga menatapnya. Mereka saling bertatapan wajah, mata Devan juga asyik melirik Kia yang sedang fokus pada ponselnya dan ketika ada kesempatan, Devan mendadak mencium bibir Sena secara sekilas.
Deg...
Sena sangat terkejut sedangkan Devan sudah menatap ke arah depan sambil mengatur irama detak jantungnya. Ini adalah ciuman pertama mereka yang menempel di bibir. Devan memang pria yang malu-malu untuk melakukan itu sejak pacaran dan baru kali ini tersampaikan.
"Kak Devan? Jangan diulangi lagi!" bisik Sena.
"Apa? Diulangi lagi?"
Cup...
Devan mengecup lagi bibir Sena membuat wanita itu tambah merah padam. Untung saja Kia tidak melihat namun di depan kemudi ada pasang mata yang melihatnya, siapa lagi jika bukan Anjas? Jomblo sejati yang senang bisa melihat sang bos sudah menemukan cintanya sendiri.
"Kak Dev?" ucap Sena malu-malu.
"Ada apa Nana sayang?" tanya Devan.
Sesampainya di restoran.
Sena memilih mengganti baju kondangannya dengan baju biasa. Rambutnya yang sedari tadi ia ikat segera ia gerai. Rambutnya kian panjang serta sedikit keriting bergelombang karena sudah lama dia tidak meluruskannya. Rambutnya aslinya memang keriting bahkan dulu sempat di benci oleh Regan.
"Rambutmu seperti rambut anjing saja."
Sena masih mengingat hinaan dari mantan suaminya dan dia tak mau menggubris karena saya itu dia tidak memperdulikan penampilannya.
Setelah mengganti pakaiannya, ia lekas menghampiri Devan yang tengah menyantap makanan dengan Kia.
"Loh, Kia sudah ganti pakaian?" tanya Sena.
__ADS_1
"Sudah, tadi ganti di mobil," jawab Kia.
Devan menarik kursi untuk kekasihnya, makanan pun juga sudah tersedia di atas meja. Sena lekas memakannya, mereka makan dengan nikmat.
Namun pikiran Sena tiba-tiba malah mengingat Regan yang pernikahannya gagal dengan Maya. Sena sangat kasian namun apakah ini yang dinamakan karma dibayar kontan?
"Nana, nanti malam ke rumah ku yuk! Aku ingin bilang pada orang tuaku mengenai hubungan kita supaya mereka tak berusaha menjodohkanku lagi," ucap Devan.
"Eh... Kok mendadak? Aku belum siap," jawab Sena.
Devan menggelengkan kepalanya, baginya tidak mendadak karena hubungan mereka sudah satu bulan lebih. Tak enak jika orang tua Devan sampai tidak tahu calon menantu mereka.
"Aku takut jika mereka tidak mau menerimaku. Aku janda, Bapakku berada di penjara lalu masa laluku sangat kelam."
Devan menggenggam tangan Sena untuk meyakinkannya. Tak ada yang harus dikhawatirkan karena semuanya akan berjalan dengan semestinya. Sena masih saja takut jika calon Papa mertuanya tetap tidak menyukainya.
Setelah selesai makan, mereka lekas menuju ke tujuan utama yaitu sebuah taman hiburan. Sesampainya di sana, Kia dengan percaya diri menggandeng mereka untuk masuk ke sana.
Kia begitu bahagia karena akan memiliki keluarga yang lengkap.
Sena memandang taman hiburan tersebut yang tidak ada pengunjung sama sekali. Sena heran namun masih berpikir positif, mungkin saja ini masih jam kerja jadi masih sepi.
"Papa, aku ingin permen kapas." Kia menunjuk penjual permen kapas.
Devan membelikan untuk Sena dan Kia. Mereka memutuskan untuk duduk terlebih dahulu karena ingin makan permen kapas.
"Papa, kapan Kia akan dibuatkan dedek?"
Lagi-lagi ucapan bocah itu membuat Sena sangat terkejut bahkan tersedak.
__ADS_1
Uhuk... uhuk...