Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 43 : Memohon


__ADS_3

Sena sendirian di dalam kamar yang tercium bau obat-obatan itu. Siang ini ia sendirian dan kemungkinan Devan akan datang sore nanti. Sudah biasa sendiri, itulah kesehariannya bahkan setelah menikah dulu, ia selalu sendiri di rumah karena Regan pulang ke rumah untuk mampir tidur saja.


Sena mengingat kala itu ia sempat mencurigai parfum Regan yang selalu berbeda dan Sena juga menemukan sebuah alat kontrasepsi di saku celana suaminya.


Sena sudah mulai curiga saat itu namun ketika ia menanyakan pada Regan malah pria itu marah-marah dan menyuruh Sena untuk tak menyentuh barang-barangnya lagi.


Ceklek...


Seseorang pria datang masuk dengan wanitanya, Sena terbelalak saat yang ia lihat adalah orang tua dari Devan. Dia segera duduk lalu menciumi tangan mereka.


"Sena, maaf baru menjengukmu sekarang," ucap Sofia begitu ramah sedangkan Antony menunjukan tatapan yang kurang suka.


"Tidak apa-apa. Saya banyak terima kasih sudah mau mengunjungi saya."


Sofia membawa beberapa makanan dan baju untuk Sena. Beliau sepertinya sangat menyukai Sena, bisa dilihat baju pemberiannya barang branded semua.


Sena merasa sungkan dengan Antony yang sedari tadi diam karena itu Sena mencoba untuk mengajaknya mengobrol.


"Pak Antony pasti kurang nyaman dengan saya?" tanya Sena.


Sofia mengernyitkan dahi lalu menepuk-nepuk bahu sang suami. "Hahaha... dia orangnya memang begitu tanpa ekspresi. Sebenarnya dia ikut sedih mendengar berita keguguranmu."


Sena tersenyum. "Terima kasih."


Sofia menarik kursi lalu menggenggam tangan Sena. Beliau tersenyum manis kearahnya seolah ada udang dibalik batu. "Sena, kau mau menjadi ibu dari Kia?"


Sena begitu terkejut, apa maksudnya menjadi ibu dari Kia? Menjadi istri Devan begitu? Sena segera melepaskan genggamannya lalu tersenyum tipis.


"Sofia, apa yang kau bicarakan? Putra kita tidak pantas bersanding dengan janda sepertinya."


Sofia langsung menyikut perut Antony membuat pria itu kesakitan.


"Jangan dengarkan ucapannya! Mau ya, jadi istri Devan?"


Sena menggelengkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan Antony jika dirinya tak bisa bersanding dengan Devan yang sempurna dan punya segalanya apalagi Sena hanya janda yang mengalami kesialan dalam berumah tangga.


Ceklek...


Pintu terbuka yang ternyata adalah Devan. Devan sangat terkejut saat melihat orang tuanya ada di dalam.


"Kenapa Papa dan Mama bisa di sini?" tanya Devan.


"Kami juga ingin menjenguknya. Devan, setelah ini ajaklah Sena menikah. Mama sangat setuju."

__ADS_1


Pipi Sena dan Devan memerah, mereka sama-sama malu akan hal itu. Menikah? Bagi Sena terlalu cepat untuk menikah apalagi kini dirinya baru saja keguguran.


"Jika tidak mau menikah coba pacaran saja dulu. Saling pendekatan."


Devan dan Sena semakin salah tingkah, Sofia yang menyadari hal itu begitu senang lalu keluar untuk membiarkan pasangan itu mengobrol lebih leluasa. Setelah kepergian mereka, Devan meminta maaf jika ucapan sang mama begitu mengawur.


"Tidak apa-apa. Oh ya, Pak Devan sedang istirahat makan siang?" tanya Sena.


"Iya, kau sudah makan?"


Sena menggelengkan kepalanya. Devan mengambil makanan yang ada di atas meja belum tersentuh sama sekali. Devan menyuapinya dengan telaten sembari menatap wajah Sena yang pucat.


"Apa rencanamu kali ini? Kembali pada Regan?" tanya Devan.


Sena tertawa lepas. "Hahaha... untuk apa kembali padanya? Sama saja aku memakai c*l*n* dalam bekas."


Devan pun hanya nyengir saja, dia tersindir karena pernah kembali pada Winda beberapa kali namun ia sadar jika wanita itu memang bukan jodoh yang sebenarnya.


"Kau bisa saja, Sena."


"Haha, oh ya, Kia sudah sembuh?" tanya Sena.


"Demamnya sudah turun, dia merindukan ibunya. Aku tidak tega anak sekecil itu sudah harus menjadi saksi perceraian kami."


"Aku mendapat kabar jika istri dari Pak Bram kambuh lagi?"


"Beliau sudah pulang."


"Tidak, dia kambuh lagi setelah pulang."


Sena tak mengetahui hal itu karena Bram maupun Regan belum mengabarinya. Sena sangat khawatir bisa dilihat dari sorot matanya, ia dulu sangat dekat dengan mama mertuanya itu namun semenjak ada Maya yang jauh lebih cantik dan lebih segalanya membuat Intan menjauhi Sena.


Sena makan dengan lahap disuapi Devan, ingin sekali menjenguk Intan setelah ini namun dia takut bertemu dengan Regan.


"Kok melamun?" tanya Devan.


"Apa Mama Intan ada di rumah sakit ini juga? Jika iya tolong antar aku ke sana!"


Devan mengangguk, ia segera mengambil kursi roda lalu membawa Sena ke tempat Intan dirawat namun belum sampai di sana, mereka melihat Regan di lorong dan berpapasan dengannya.


"Sena, mau ke mana?" tanya Regan.


"Mamamu ada di rumah sakit ini 'kan?" tanya Devan.

__ADS_1


Hanya anggukan saja dari Regan, Devan lekas mendorong kursi roda itu namun Regan menghentikannya dan meminta waktu sebentar untuk berbicara pada Sena.


"Tidak ada hal yang harus dibicarakan lagi," ucap Sena.


"Sebentar saja. Devan juga boleh ikut. Aku tunggu di atap."


Regan naik ke lantai teratas terlebih dahulu dengan menaiki lift sementara Devan menunggu Sena untuk menyuruhnya membawa ke Regan. Sena berpikir sejenak, ada Devan dan tidak mungkin Regan menyakitinya.


"Antar aku ke atap, Pak Devan!"


"Sebenarnya aku heran dengan kalian. Kalian sudah bercerai namun seperti belum bercerai saja."


"Tolong!"


Devan menghela nafas panjang, Sena tetaplah Sena yang keras kepala. Devan membawa Sena masuk ke lift lalu menekan tombol menuju atap. Sesampainya di atas sana, pemandangan kota sudah terlihat jelas. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut hitam Sena. Dia melihat Regan sudah berdiri membelakanginya menatap pemandangan perkotaan dan jalanan dari atas sana.


"Sena, terima kasih sudah meluangkan waktu untukku."


Sena hanya diam sementara Devan masih ada di belakangnya. Devan berjaga-jaga jika sewaktu-waktu Regan melukai Sena lagi.


Regan mendekati Sena, dengan memantapkan diri dia bersimpuh di depan Sena.


"Sena, aku tahu kesalahanku sangat banyak sekali denganmu. Maafkan aku!" ucap Regan.


"Aku sudah memaafkanmu sejak lama namun yang namanya luka tidak dapat cepat sembuh begitu saja," jawab Sena.


Regan menyesali setiap perbuatannya bahkan dia sudah sangat depresi berat karena masalah rumah tangganya.


"Bisakah kau memberikanku kesempatan ketiga? Aku ingin memperbaiki semuanya."


Sena dan Devan tersentak mendengar ucapan Regan.


"Tidak ada yang namanya kesempatan ketiga bahkan dulu aku memberimu kesempatan kedua tidaklah berguna. Dulu kau seorang suami namun seolah bukan seperti suamiku. Aku tidak bisa menggapaimu bahkan sedekat apapun itu. Cintamu itu palsu dan tidak tulus. Kau hanya mencintai Maya, itu sangat terlihat jelas namun dia mengkhianatimu membuatmu kecewa dan pada akhirnya kau melampiaskan padaku. Benar 'kan?" tanya Sena berapi-api.


"Itu hanya persepsimu saja. Aku lebih mencintaimu. Berikan aku kesempatan lagi! Aku sungguh gila sudah kehilanganmu."


Sena berdecih sementara Devan hanya miris dengan pria yang ada di depannya itu.


"Tidak ada kata rujuk kembali. Aku akan menikah dengan Pak Devan," ucap Sena menggenggam tangan Devan.


***


Akan rajin update sesering mungkin namun jangan lupa LIKE nya.

__ADS_1


__ADS_2