Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 103 : Sena


__ADS_3

Devan pergi dari rumah dalam keadaan hujan yang deras, sementara Sena memperhatikan sang suami yang akan masuk ke mobil. Devan menoleh serta memperhatikannya, Devan tak jadi masuk ke mobil lalu menghampiri Sena. 


"Semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang hal perlu dikhawatirkan!" 


Sena mengangguk, Devan mencium bibirnya sekilas. Dia bisa melihat wajah gusar istrinya itu. Sena memeluknya dengan erat. "Semoga badai berlalu dan kita bisa melihat pelangi setelahnya,' ucap Sena. 


"Pasti, Sayang." 


Sena mengangguk, Devan harus segera ke rumah sakit. Kali ini ada sang sopir yang menyetir mobil atas suruhan Sena. Sena memang tidak tenang jika Devan menyetir sendiri dalam keadaan kalut dan sedih. Dia akan tenang jika Devan berangkat dengan sopir pribadinya.  Mobil sudah meninggalkan rumah, Sena lekas masuk dan mengunci pintu. Dia masuk ke dalam kamar untuk menemani Serafina. Balita gembul itu sudah terlelap lagi, Sena menghela nafas panjang padahal dia ingin bermain dengannya. 


Devan mengirim pesan pada Winda, apakah dia masih  di sana atau tidak? Devan memang menyuruh Winda untuk menjaga Kia sementara dia pulang. Laporan pada pihak kepolisian juga sudah masuk dan tentunya  akan segera melakukan penyelidikan.  Sesampainya di rumah sakit, Devan menuju ke ruangan putrinya. Dia masih bisa bernafas lega karena kebutaan Kia  bukan permanen dan akan segera pulih jika melakukan operasi. 


"Winda? Kau boleh pulang." Devan menaruh tasnya di kursi lalu duduk di seberang Winda. 


"Bagaimana aku bisa pulang sedangkan anakku keadaannya seperti ini? Aku ibu yang tidak baik untuk Askia, aku jahat sekali." 


"Baru sadar sekarang? Saat ini kemana saja?" 


Winda terdiam, ia menunduk sembari memainkan jemarinya. "Van, rencananya Kia akan aku bawa ke Singapura, calon suami aku mau membiayainya." 


"Sebenarnya pria yang mana yang dekat denganmu? Setiap bulan berganti pria tidak jelas," ucap Devan. 


"Apa kau cemburu?" 


Devan berdecih. Cemburu? Tak mungkin Devan cemburu hanya saja dia heran dengan mantan istrinya itu yang sebulan sekali berganti pasangan. 


"Kau cemburu 'kan, Van? Sok jual mahal sekali," ucap Winda sambil tersenyum tipis. 


Devan hanya menatapnya datar, tak ada perasaan lagi untuk Winda seolah telah mati. Hanya ada rasa khawatir karena Winda tetap seorang perempuan yang gampang terpedaya oleh pria apalagi pria itu banyak uang. 


"Aku akan menikah bulan depan dengan pengusaha asal Singapura dan dia juga akan kemari untuk menjenguk Kia," ucap Winda. 


"Alden bagaimana?" tanya Devan. 


Winda berdiri, ia menatap jendela yang memperlihatkan Kia sedang terlelap. "Aku dan Alden tidak ada hubungan apa-apa." 

__ADS_1


Devan memang tak habis dengan kedua orang gila itu, mereka tidak jelas bahkan membuat Devan sudah malas dengan mereka. Winda membalikan badan dan duduk di sebelah Devan, ia menatap mantan suaminya yang tak mau menatap wajahnya. 


"Devan, aku minta maaf atas perbuatanku selama ini. Aku selalu menyakitimu bahkan sampai sekarang ini. Aku akan membawa Kia tinggal bersama Papa tirinya yang baru dan melakukan pengobatan di sana. Tolong jangan halangi kami!" 


Devan berdecih, semudah itukah untuk meminta maaf. Devan tak akan mudah melepaskan Kia setelah apa yang terjadi saat ini. Sungguh! Devan tak terima jika Kia harus pergi lagi jauh darinya. 


"Aku dan Sena akan merawatnya, dia akan ikut kami." 


Winda menatap Devan dengan lekat, tak semudah itu dia bisa memberikan Kia pada Devan dan Sena. 


"Aku ibu kandungnya, kalian tak berhak untuk membawanya." 


"Kita tanya saja nanti pada Kia, dia ingin ikut aku atau ibu kandungnya yang hanya selalu memikirkan dirinya sendiri." Devan masuk ke dalam untuk melihat keadaan Kia sedangkan Winda berdecih menatap malas mantan suaminya itu. 


Devan melihat anaknya yang terlelap, ia duduk di sampingnya sambil memperhatikan wajah Kia yang sangat cantik sejak  bayi. Devan lupa mengabari Sena jika sudah sampai di rumah sakit, ia pun segera mengirim pesan  padanya sang istri tercinta. 


Devan : Sayang, aku sudah sampai. Serafina sedang apa?


Sena : Sera tidur lagi, Mas. 


Sena : Bapak sedang apa? Kenapa kemarin tidak datang ke acara kami? Bapak baik-baik saja 'kan?


Sena mengelap air matanya, dia berpikir punya salah apa dengan beliau. Entah mengapa saat dirinya hamil malah menjadi gampang sedih seperti ini, dia pun menangis tak jelas menurunkan semua  kesedihannya. Selama pernikahan dia belum bisa merasakan kebahagiaan, selalu duka yang didapat bahkan setelah menikah dengan Devan juga.  Hanya satu yang dipikiran Sena, ia ingin berbicara pada Bram. Dibanding orang tua Devan yaitu Antony malah Sena lebih dekat dengan Bram. Sena mencoba untuk menelponnya dan tersambung juga. 


"Papa? Sedang sibuk?" tanya Sena. 


"Tidak Sena, ini dalam perjalanan pulang. Ada apa?" 


"Bisakah ke sini? Kita bisa makan malam bersama." 


"Baiklah, dalam 20 menit aku akan sampai sana." 


Sena tersenyum kecil, dia memandang Serafina yang sudah terbangun. Putri tidur itu mungkin saja terganggu dengan telepon tadi. 


"Sayang, kau mau makan?" 

__ADS_1


Sera hanya diam, mata bulatnya memandang lekat Sena. 


"Semoga umur satu tahun lebih kau bisa berbicara dan merespon." 


20 menit kemudian. 


Terdengar suara pintu terketuk, pembantu membukakannya dan menyuruh mereka masuk. Mereka? Ya, Regan juga datang karena saat itu Bram bersama anaknya itu. Sena menyambutnya dengan ramah namun saat melihat Regan dia langsung terdiam. 


"Jika aku menganggu aku bisa tunggu di dalam mobil saja," ucap Regan. 


"Eh, tidak usah. Masuk saja sekalian," jawab Sena. 


Bram menggendong Serafina, ia sangat gemas dengan cucunya itu. Sena menyuruhnya duduk di ruang tamu dan membuatkannya minuman. Regan bertatapan dengan Serafina, tangan balita itu terulur seolah ingin digendong oleh Regan. 


"Regan, dia ingin digendong olehmu," ucap Bram.


"Apa tidak apa-apa?" tanya Regan sambil melihat ke arah dapur. 


Bram langsung memberikannya pada Regan, perasaan Regan seolah aneh sekali karena mengingat calon anaknya yang sudah keguguran. Sena membawa minuman untuk mereka, ia melihat putrinya tertawa saat digendong Regan. 


"Silahkan diminum!" ucap Sena sambil duduk di seberang mereka. 


"Sena, keadaan Kia bagaimana?" tanya Bram.


"Dia mengalami kebutaan sementara dan akan segera di operasi, Mas Devan menemaninya di sana." 


Bram menghela nafas panjang, dia melihat menantunya itu tak pernah merasakan kebahagiaan sedikitpun. Semuanya sudah sangat jelas jika mungkin saat ini Devan masih terfokus pada Kia. 


"Papa mau melamar kapan? Aku bisa menemani besok minggu," ucap Sena. 


"Keadaan keluargamu seperti itu, aku tidak enak dengan Devan untuk saat ini. Masalah lamaran Papa masih bisa ditunda." 


Sena mengangguk, dia memperhatikan putrinya yang tertawa lepas saat bersama Regan dan itu membuatnya sangat aneh sekali. 


Bahkan dengan Mas Devan pun Sera tidak sesenang itu. Batin Sena. 

__ADS_1


__ADS_2