Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 57 : Restu


__ADS_3

Dentingan jam dinding menggema di ruang keluarga. Seorang pria dengan mantab menggenggam tangan wanita yang ada di sampingnya. Pria itu kedua kalinya membawa wanita yang ia cintai di depan orang tuanya. Raut wajah ketakutan sang wanita sudah tergambarkan jelas sedari tadi bahkan dia kini tak mampu mengangkat wajahnya untuk melihat calon mertuanya. 


"Kenapa kau mencari wanita yang selalu mempunyai masa lalu yang kelam di rumah tangganya dulu?" tanya Antony.


"Tidak ada alasan lain kecuali satu yaitu aku mencintainya."


Antony berdecih, dulu Devan juga mengatakan hal yang sama saat membawa Winda pada mereka. Sofia mencoba menenangkan sang suami, ia takut jika suaminya akan darah tinggi jika terlalu memikirkan masalah percintaan putranya. 


"Aku tidak setuju. Kau baru saja bercerai dengan Winda beberapa bulan yang lalu dan kini mengatakan akan menikahi sekertarismu sendiri. Bagaimana kata orang lain? Mereka pasti akan menuduhmu yang berselingkuh saat masih berumah tangga dengan mantan istrimu." 


Devan hanya tersungging tipis, dia sudah menebak jika sang Papa tidak akan setuju. Dia lalu berdiri sambil menggenggam Sena, ia merasa tak butuh restu dari sang Papa sebab tanpa beliau ia masih bisa menikahi Sena. Sofia mencoba menahan Devan namun Devan tetap pada pendiriannya untuk melangkah menjauhi mereka sambil mengajak Sena. 


"Jika kau tetap ingin menikahinya maka siap-siap kau akan kehilangan jabatanmu sebagai pemimpin perusahaan dan semua fasilitas akan dicabut."


Devan terhenti dari langkahnya.  "Lakukanlah! Aku muak hidup dengan berbagai tekanan."


Sena memandang Devan yang tak main-main. Kenapa menjadi seperti ini? 


"Kak Dev, jangan begitu hanya untuk menikahiku!" bisik Sena. 


"Aku tak main-main. Kau bisa 'kan hidup sederhana, Sena? Kau masih mau 'kan menerimaku walau aku sudah tak menjadi pemimpin perusahaan lagi?" tanya Devan dengan suara lantang. 


Sena mengangguk namun bagaimana dengan Kia? Kia sedari dulu hidup dengan bergelimang harta dan selalu mendapatkan apa yang dia inginkan.


"Pergilah! Papa akan lihat seberapa kuat kau bisa hidup tanpa harta dan untuk Kia biarkan dia bersama kami," ucap Antony.


"Kia akan ikut denganku karena dia anakku."

__ADS_1


Devan menuju ke kamarnya untuk memberesi semua barang-barangnya, Kia hanya bingung dengan sang Papa yang menyuruhnya mengemasi barang miliknya. Kia takut jika sang papa memutuskan untuk pergi dari rumah ini karena Kia sudah nyaman berada di sini. 


"Kia, kita akan belajar hidup sederhana."


"Aku gak mau. Aku gak mau pergi dari rumah ini."


Devan menatap Kia lalu berjongkok di depannya. "Kia, ini bukan rumah Papa."


Kia mendorong Devan. "Aku akan tinggal di sini dengan Opa dan Oma." 


Devan sangat kecewa dengan pernyataan dari putrinya, ia pun menjadi dilema. Jika Devan tak bisa membawa putrinya ikut bersamanya maka dia akan dicap sebagai ayah yang egois yang lebih memilih calon istrinya. Sofia datang ke kamar putranya, ia menjelaskan akan merawat Kia dengan baik sementara Devan harus membuktikan pada Antony jika dia masih bisa hidup tanpa jabatan dan uang banyak. 


"Bagaimana aku bisa hidup tanpa putriku?"


"Devan, mungkin  ini hanya sebentar. Kau tahu sendiri 'kan jika Papamu tidak sekejam itu. Dia hanya mengetesmu dan Sena saja." 


Devan menggelengkan kepalanya, pasti ada cara lain yang bisa meluluhkan Antony. Devan harus mencari cara itu.


"Jika Kia tak mau pergi denganku maka aku tak jadi pergi. Aku akan mencari cara lain saja."


Di ruang tamu, Sena meremas tangannya saat berhadapan dengan calon mertua. Rasanya sangat tegang sekali berhadapan dengan Antony ketimbang Bram dulu.


"Aku sudah dengar cerita dari Sofia mengenai rumah tanggamu dulu? Kenapa kau terlalu bodoh sampai bisa selingkuhi? Apa kau tidak merasa curiga?" tanya Antony.


"Mantan suami saya adalah orang yang manipulatif. Dia pandai beralasan dan saya pun mempercayainya," jawab Sena sambil tersenyum kecil.


Sena mengingat masa lalunya seolah merasa geli sendiri. Tak menduga jika dulu ia sebodoh itu. Antony menatap lekat kepolosan Sena, wanita itu memang terlihat mudah dibodohi sebab memiliki pemikiran yang baik.

__ADS_1


"Apa kau sudah tahu jika Devan sulit mempunyai keturunan?"


DEG....


Rupanya Antony sudah tahu perihal putranya, apakah Devan juga tahu mengenai dirinya sendiri?


"Saya sudah tahu dari Bu Winda."


"Winda kurangajar itu bercerita tentang itu kepadamu?"


Sena mengangguk. Sena tak memikirkan masalah itu, ia tak peduli jika Devan mandul atau tidak. Manusia tak luput dari kata ketidaksempurnaan. Masalah tentang momongan? Mereka sudah ada Kia dan jika memang mereka ingin membuatkan adik untuk Kia maka bisa dilakukan metode lain apalagi Devan memiliki banyak uang.


"Bagimu, Devan seperti apa?" tanya Antony.


"Kak Devan adalah pemimpin yang baik, ramah, ia jarang marah dan selalu berwibawa dan satu lagi yang membuat saya jatuh cinta kepadanya karena sosoknya sangat menyayangi anaknya sepenuh hati. Saya kagum dengan Kak Devan dan dia juga mau memaafkan Bu Winda walau wanita itu sudah menyakitinya."


"Jadi maksudmu Devan sudah kuat untuk kau sakiti lagi?"


Sena menggelengkan kepalanya. "Dulu kami sangat tersakiti oleh pasangan kami namun setelah ini kami bisa saling menguatkan satu sama lain."


Antony terharu saat mendengar perkataan Sena yang sangat tulus. Sena memang wanita yang baik namun dulu sayangnya salah memiliki pasangan.


Devan, Kia dan Sofia turun dari kamar lalu menghampiri mereka.


"Devan? Kau memilih pasangan yang baik."


Ucapan Antony membuat Devan bingung.

__ADS_1


"Papa merestui kalian," ucap Antony.


__ADS_2