
Di rumah Bram, beliau masih mengambil cuti karena istrinya sedang sakit dan kini sedang berada di rumah. Intan kedapatan masih sering menanyakan perihal Maya yang ia anggap sedang mengandung cucunya. Bram masih belum berani menceritakan mengenai Maya karena jantung sang istri sedang lemah.
"Maya mana?" tanya Intan.
"Dia ada di rumahnya, dia sedang hamil makanya tidak bisa menjengukmu," jelas Bram.
Bram menggenggam tangan sang istri lalu mengecupnya, sudah banyak yang mereka lalui bersama sampai kehilangan kedua anaknya. Bram akan menjaga Intan hingga sembuh dan mereka akan memiliki cucu yang banyak dari Regan, namun sepertinya putra satu-satunya yang tersisa selalu membuat ulah.
"Regan mana?" tanya Intan.
"Dia sedang ada di kampus," ucap Bram.
Intan menghela nafas panjang, mereka terlalu sibuk sampai lupa jika dirinya hanya ingin dijenguk. Intan menatap sang suami yang selalu ada untuknya bahkan rela sampai cuti, itulah bukti cinta Bram untuk Intan.
Bram mengambilkan air hangat untuk berendam kaki sang istri, i begitu telaten mengurus Intan. Setelah mendapatkan airnya, Bram lekas mendudukan Intan serta memijat kakinya di dalam baskom besar yang berisi air hangat. Benar-benar suami yang perhatian tidak seperti Regan yang suka mempermainkan wanita.
"Sena bagaimana?" tanya Intan.
Tangan Bram refleks terhenti, ia memperhatikan wajah Intan dengan seksama.
"Sena ada di rumah sakit, dia keguguran."
Nampaknya Intan tak terkejut, baginya sudah jelas hasil dari hubungan gelap adalah kehamilan. Intan tahu hubungan antara Sena serta Devan walau hanya menerka saja.
"Kenapa Papa nampak sedih? Itulah karma bagi wanita yang main dibelakang suaminya. Sudah untung Regan mau menikahinya," ucap Intan.
Bram memilih diam saja, dia tak ingin Intan tahu jika cucu aslinya yang telah tiada. Jantung Intan masih lemah dan Bram tak ingin mengambil resiko.
Intan menatap sang suami yang dengan telaten mencuci kakinya. Dia takut kehilangan seorang Bram yang selalu sayang dengannya.
"Jika aku mati, apa Papa akan menikah lagi dan mencari wanita muda?" tanya Intan.
"Apa maksudmu? Kita akan terus menua sampai mempunyai banyak cucu," jawab Regan.
Intan tak merespon, Bram mendongak melihat wajah sang istri tercinta sudah pupus harapan. Bram memeluknya, ia akan mendoakan kesembuhan sang istri tercinta.
**
Abimanyu mengelak ingin dinikahkan dengan Maya. Dia merasa tak pernah menghamili Maya bahkan menyentuhnya setelah melihat rekaman video itu. Regan semakin kesal, dia menarik kerah baju Abimanyu lalu seketika pintu terbuka.
__ADS_1
Ceklek...
"Ada apa, Mas Abi?"
Seseorang cantik nampak masih sangat muda keluar dari rumah itu. Dari wajahnya sekitar berumur 20 tahunan memakai daster serta perut yang membuncit. Maya pun sangat terkejut melihatnya.
"Dek, sudah Mas bilang jangan keluar dulu!" ucap Abimanyu.
Regan menatap heran pada gadis itu seperti pernah melihatnya. "Kau anak ekonomi tahun kedua itu 'kan?" tanya Regan.
Gadis itu mengangguk, Regan sangat kaget padahal mahasiswi itu sangat pandai dan berhenti kuliah tanpa sebab yang pasti lalu inilah alasan sebenarnya.
"Regan, pergilah! Tolong jangan meminta macam-macam dariku!"ucap Abi dengan nada suara yang dikecilkan namun tak membuat Regan goyah akan tujuan awalnya.
"Sudah berapa banyak mahasiswi yang kau lecehkan? Aku yakin beberapa mereka banyak yang memilih bungkam karena ancamanmu," jawab Regan.
Maya yang tak kuat mendengar segera masuk ke mobil, tubuhnya bergetar mengetahui fakta ini. Dia juga menjadi korban namun ia tak seperti mahasiswi lain yang polos melainkan dulu mereka sempat pacaran juga secara diam-diam.
"Regan, istriku sedang hamil. Tolong kau pergi! Aku tidak peduli dengan Maya. Istriku hanya satu yaitu Sukma."
Sukma pun juga ikut masuk ke rumah karena tak tahan dengan obrolan mereka.
"Kau tega melihat perempuan hamil juga namun suamimu tidak bertanggung jawab?" tanya Regan.
"Itu urusan Mas Abi. Aku tidak peduli. Toh, Bu Maya yang menyerahkan dirinya sendiri dan bukan korban pemerkosaan sepertiku," jawab Sukma.
"Maya juga korban dari suamimu."
Sukma menggeleng. "Dia bohong." Setelah itu Sukma masuk ke dalam rumah dan menutup pintu depan rapat.
Abi mendorong Regan untuk pergi, sekali lagi ia menjelaskan jika dirinya tak mau menikahi Maya karena tak merasa menghamilinya. Regan mengepalkan tangan dengan erat, ia menatap Abi yang masuk ke dalam rumah lalu menutup pintu dan tak lupa menutup semua kordennya.
Regan seketika masuk ke dalam mobil. Dia terdiam, terkadang ucapan Maya memang tidak bisa dipercaya.
Kacau... kacau... Bagaimana ini? Batin Regan sambil mencengkeram kemudinya.
***
Bram menyuapi Intan dengan bubur putih polosan. Rasa gurih dan lezat buatannya membuat sang istri makan dengan lahap.
__ADS_1
"Setelah ini akan ada orang yang aku sewa untuk menjagamu sebentar. Aku akan menjenguk Sena sambil membawakannya bubur. Kasian, dia sendirian."
"Kenapa kau masih sangat peduli dengannya?"
Bram tersenyum kecil. "Dia 'kan seperti anak kita."
Intan memalingkan wajah, ia tak sudi lagi menganggap Sena seperti putrinya. Bram tersenyum sambil mengusap sudut sang istri yang terdapat bubur yang menempel.
"Sudah jangan cemberut! Nanti tidak cantik lagi. Aku akan segera pulang."
Intan menarik tangan Bram yang akan pergi meninggalkannya. Dia menggelengkan kepalanya tak memperbolehkan Bram menemui Sena. Bram lalu duduk di sampingnya dan berpikir untuk menceritakan kejadian sebenarnya. Dengan memantapkan hati, Bram menceritakan dengan bahasa yang baik serta tidak membuat sang istri terkejut.
"Sena bukan hamil anak orang lain melainkan anak dari Regan."
"Tidak mungkin. Dengan jelas ia ada hubungan dengan bos kalian."
Bram menggelengkan kepalanya. Dia merangkai kata yang pas untuk memberitahu semuanya. Kata demi kata terucap, kalimat demi kalimat terdengar sampai Intan menyadari jika air matanya menetes. Dia menolak untuk percaya namun tak dapat di pungkiri jika ia sangat sedih dengan apa yang dialami Sena.
"Jadi benar itu anak Regan?" tanya Intan.
"Benar, namun cucu kita sudah tiada akibat ulah ayahnya sendiri. Regan tak sengaja membuat Sena jatuh sampai keguguran," jawab Bram.
Intan langsung memegangi jantungnya yang seketika sangat sakit. Bram terkejut lalu membaringkannya, ia lekas memanggil ambulan dan tak lupa menelpon putranya.
Inilah mengapa alasan Bram tidak ingin memberitahukan dulu namun semuanya sudah terlambat.
"Intan, bertahanlah! Maafkan, aku!"
Tak berselang lama ambulance datang lalu membawa Intan ke rumah sakit lagi. Bram sangat menyesali perbuatannya yang tidak sabar menahan untuk memberitahukan yang sebenarnya.
Dering ponsel berbunyi, itu dari Regan.
"Pah, Mama kumat lagi?" tanya Regan.
"Iya, Regan. Kau langsung ke rumah sakit saja," pinta Bram.
"Baiklah, Pah."
Bram lekas masuk ke dalam ambulan sambil menggenggam tangan sang istri. Jika sesuatu terjadi maka dia tak akan memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1