
Sena dan Devan sudah duduk di kursi, sebentar lagi Kia akan tampil memainkan piano. Walau tanpa kehadiran Mama kandungnya, namun dia sudah senang karena ada Devan dan Sena yang datang.
Ketika Kia tampil, Devan merekam menggunakan ponselnya. Devan seolah membesarkan seorang diri selama 8 tahun ini. Dia juga tak memperdulikan jika Kia bukan anak kandungnya, baginya anak yang lahir diantara pernikahannya dengan Winda dulu adalah anaknya.
Di sisi lain, Sena menahan nyeri di lengan dan kakinya. Sepertinya lukanya cukup parah, ia sampai terlempar dan bergesekan dengan aspal sejauh 5 meter. Sena memang tidak pernah hati-hati jika naik motor dan ia juga tak suka jika diantar jemput oleh Devan.
Alunan musik piano membuat orang yang mendengarnya takjub. Mereka seolah terhipnotis dengan permaianan Kia. Kia memainkan alat musik itu selama 6 menit. Setelah selesai, ia berdiri dan memberi hormat pada hadirin. Semua orang bertepuk tangan tak terkecuali Sena dan Devan.
Acara demi acara terlewati dan kini saatnya untuk penutupan. Anak-anak yang tampil menyanyikan lagu untuk orang tua mereka secara bersama-sama. Devan tersenyum, bayi mungilnya kini sudah besar bahkan beberapa tahun lagi masuk SMP. Waktu berjalan begitu cepat, tak terasa semua terlewati dengan mudah.
Setelah selesai bernyanyi, mereka yang membawa bunga segera menyerahkan pada orang tua masing-masing. Kia dengan cepat turun dari panggung dan memberikan bunga itu pada Devan. Betapa senangnya Devan, ia menciumi kening Kia beberapa kali. Kia tersenyum lalu memberikan bunga yang kedua untuk Sena. Sena memeluknya dengan erat. Dia sangat bahagia sekali.
"Terima kasih sudah datang," ucap Kia.
"Sama-sama. Sekolah yang pintar ya! Jadi anak yang cerdas supaya Papa Devan bangga," jawab Sena.
Kia mengangguk, ia kembali ke panggung dan menyanyikan lagu sayonara bersama teman-temannya. Tangan Devan semakin memegang erat tangan Sena.
"Aku membayangkan jika suatu saat kita mempunyai anak sendiri," ucap Devan.
"Kita pasti punya anak."
"Semoga."
Setelah acara selesai, Sena keluar lebih dulu dan menuju ke motornya. Tubuhnya sangat ngilu sekali bahkan ia tak sanggup untuk berdiri lagi.
Tak berselang lama kemudian, Devan datang bersama Kia. Kia sangat berterima kasih pada Sena karena sudah datang.
"Aku antar pakai mobil saja," pinta Devan.
Sena menggelengkan kepalanya. Dia segera naik ke motor namun saat sudah duduk di motor ia hampir saja terjatuh dan untungnya Devan menangkapnya namun Sena sangat kesakitan saat pria itu memegang lengannya.
"Ahhh..."
__ADS_1
"Ada apa, Sayang?"
Sena menggelengkan kepalanya. Dia mencoba untuk tenang dan tidak panik.
"Motormu kok lecet?" tanya Devan.
"Eh... tidak apa-apa." Sena menunduk saat Devan menatap wajahnya dengan lekat.
Devan sangat curiga, ia meminta Sena untuk melepaskan jaketnya namun wanita itu menolak. Devan memaksanya, ia yakin jika Sena menyembunyikan sesuatu.
"Sena, jika kau tidak mau maka aku akan marah besar padamu."
"Kak Devan, aku tidak apa-apa."
Devan menunjukan wajah marahnya. Dia akan marah jika Sena tidak mau membuka jaketnya. Kia juga melakukan hal sama yang membuat Sena tak bisa berkutik lagi.
"Iya.. iya, aku buka. Kenapa wajah kalian menyeramkan?" Sena membuka jaketnya.
Devan sangat terkejut sekali melihat banyaknya luka lecet di lengan Sena. Devan menyuruh Sena untuk duduk, ia sangat khawatir dengan calon istrinya itu.
"Jatuh dari motor," jawab Sena sambil menunduk.
Sena sangat ketakutan tatkala Devan terlihat marah. Devan merebut kunci motornya lalu mengajak Sena masuk ke mobil. Sena hanya pasrah sedangkan Kia mengikuti mereka masuk ke mobil. Devan merasa bodoh tatkala tak menyadari jika Sena sedari tadi merasa kesakitan. Dia rela menahan selama acara berlangsung demi Kia. Saat mobil itu akan melaju tiba-tiba Winda menghadangnya. Dia membuka pintu lalu mengajak Kia keluar dari mobil.
"Apa-apaan kau?" Devan mencegah tangan Winda untuk menarik Kia.
"Lepasin aku, Mah!" teriak Kia.
Winda melepaskannya, ia lalu menatap tajam Devan. "Licik! Kau memang licik. Kau balas dendam karena aku tidak datang ke acara ini? Kau yang menyuruh klienku membatalkan kontrak kerja."
Devan tak mengerti maksud Winda yang datang-datang sudah memfitnahnya. Kia menutup telinganya erat-erat. Dia tak mau mendengar perdebatan orang tuanya lagi. Dia sudah sangat trauma. Sena memeluknya dengan erat, ia menatap tajam Winda.
"Bu Winda, bisakah kau membiarkan kami pergi?"
__ADS_1
Winda berdecih, ia juga menatap tajam pada Sena. "Dasar perempuan matre!"
Sena akan keluar dari mobil untuk memberi pelajaran pada Winda namun Devan mencegahnya. Dia tak ingin terjadi keributan di ruang lingkup sekolah.
"Alden akan kembali. Dia pasti akan mengambil apa yang dia punya," ucap Winda menatap Devan.
Wanita itu kemudian meninggalkan mereka. Devan terdiam, yang dimaksud Winda adalah Askia. Sena memperhatikan wajah Devan yang melamun, ia lalu menggenggam tangannya.
"Kia pasti tahu siapa orang yang selalu ada untuknya."
Devan tersenyum kecil, ia lekas menyuruh Anjas untuk menuju ke klinik. Luka Sena harus segera diobati supaya tidak infeksi.
***
Regan kini sudah ada di rumah. Bram benar-benar memperhatikan putranya itu. Sedari tadi Regan menyatukan potongan kertas menggunakan solatip. Dia sangat teliti bahkan hati-hati.
"Re, suster tadi menyuruhmu untuk tidur," ucap Bram.
"Aku akan menyelesaikan ini dulu," jawab Regan.
Bram mendekatinya, ia tak paham apa yang putranya lakukan. Biasanya Regan tak akan melakukan hal ini.
"Ini tugas milik Sena dulu. Aku sempat merobeknya karena salah mengerjakan tugas dariku. Aku ingin mengembalikannya namun harus ku tempelkan dulu satu persatu," jelas Regan.
Bram meneteskan air matanya, putranya begitu depresi kehilangan Sena. Sena memang sudah membuat sikap Regan berubah menjadi lembut.
"Sena akan menikah di tanggal 25 ini. Aku harap kau bisa ikhlas."
Regan menggelengkan kepalanya, sangat sulit sekali untuk ikhlas karena mantan istrinya menikah dengan Devan yang merupakan teman dekatnya dulu.
"Aku akan mencoba untuk ikhlas walau susah. Oh ya, Papa. Aku ingin menjenguk Maya."
"Besok Papa akan antar."
__ADS_1
Regan tersenyum, ia melanjutkan lagi menempelkan sobekan demi sobekan tugas Sena yang masih ia simpan dengan rapi. Sena merupakan salah satu mahasiswinya yang bodoh dan Regan hafal dengan semua itu. Regan juga merindukan saat Sena masih kuliah dan Regan menjadi dosennya. Wanita yang dulunya dekil itu kini menjadi mantan istri yang membuatnya gila. Setelah selesai menempelkan, Regan memeluknya dengan erat membuat Bram semakin merasa kasian pada Regan.
"Papa, besok antar aku juga untuk beli kado pernikahan Sena. Aku ingin memberinya kenang-kenangan terakhir dariku," ucap Regan.