
"Alden? Kau yang mengeluarkanku? Tapi kenapa?"
Alden menarik Maya untuk duduk, dia memanggil pelayan dan memesan makanan.
"Makanlah dulu! Aku lapar," ucap Alden sambil membaca buku menu.
Maya tak ingin berbasa-basi karena ada anaknya yang sedang tidur di tempat kost sendirian. Maya dengan tega meninggalkan anaknya tersebut untuk bertemu dengan Regan.
"Apa maumu? Sepertinya kau mengenal Regan?"
Alden menunjukan senyum sinisnya, dia mendongak menatap Maya yang sudah mengeluarkan air mata. Alden manariknya untuk duduk, ia mengusap air mata Maya.
"Wanita cantik sepertimu tidak boleh menangis."
Maya menepis tangan pria yang tidak dikenalnya itu. Dia memalingkan wajah namun tangan Alden membuatnya menatapnya lagi. Bagaimana tidak? Pria itu memegang selembar cek kosong dan Maya bisa mengisinya dengan nominal berapapun.
"Kau mau ini?" tanya Alden.
Maya mencoba merebutnya namun Alden menyimpan di sakunya. "Jika kau mau maka kau harus membantuku."
**
Antony dan Sofia masuk ke dalam rumah Devan, ia ingin melihat anak yang diadopsi oleh Devan. Wajah Antony murka tatkala ia melihat Serafina, balita yang cacat bahkan tak memberi manfaat bagi Devan. Sena memangku Serafina, dia menyuapi bubur pada anaknya itu.
"Di mana Devan?" tanya Antony.
__ADS_1
"Dia sedang di kamar mandi, Pah. Silahkan duduk dulu!"
Devan menghampiri mereka, ia bisa melihat wajah kekesalan dari sang papa. Antony mengutarakan langsung ketika Devan datang.
"Dari sekian anak yang normal kenapa memilih balita cacat ini? Menambah pekerjaanmu saja."
Hati Sena menjadi sakit sekali, putri angkatnya dianggap sebagai anak tak berguna yang cacat. Sofia pastinya ada di pihak mereka.
"Sudahlah! Jangan hiraukan ucapan papamu! Dia hanya lelah."
Antony semakin geram, ia memilih keluar dari sana dan masuk ke mobilnya sedangkan Sofia memberikan banyak mainan untuk cucunya itu. Devan duduk di seberang mereka, untung saja sang mama selalu mendukung keputusannya. Sena menyimpan rasa sedihnya, dia dan Devan belum bisa memberikan mereka cucu kandung.
"Sena, kau nampak kurus. Sedang diet?" tanya Sofia.
"Enggak, Mah. Memang akhir-akhir ini malas makan."
"Devan, Mama doakan kalian cepat punya anak sendiri. Doa seorang ibu untuk anaknya itu manjur yang penting kalian berusaha dan yang lebih penting lagi jangan dengarkan ucapan orang lain!"
Devan dan Sena beruntung sekali masih mempunyai ibu yang selalu mendukung mereka dalam melakukan apapun. Sofia mengeluarkan sesuatu, ia menunjukan foto jika Askia sedang berjalan-jalan di mall dengan dandanan seperti orang dewasa. Bocah Sd itu sepertinya sudah terkontaminasi oleh ibu kandungnya.
"Ini Kia?" tanya Devan.
Askia seperti gadis dewasa, ia mengenakan make up serta memakai sepatu yang berhak tinggi. Devan sangat geram sekali, kenapa Winda mengubahnya seperti ini? Devan berdiri, ia ingin melabrak Winda dan mengajak pulang Askia namun Sena mencegahnya. Sena mengatakan jika Devan tidak boleh gegabah sedikitpun karena bagaimanapun kini Askia sedang merasa bebas.
"Tapi Sena, aku takut jika Askia mengikuti jejak mama yang tidak jelas. Aku membesarkannya dan mendidiknya dengan hati-hati namun mereka yang orang tua kandung Askia malah merusaknya seperti itu," ucap Devan.
__ADS_1
"Mas Devan jangan gegabah, nanti Kia malah membencimu," jawab Sena.
Devan menghela nafas secara kasar, dia sangat bingung sekali dengan semua ini. Saat bersamaan, Serafina seolah meminta gendong dengan Devan, ia mengulurkan tangan mungilnya pada papa angkatnya itu. Devan tersenyum, dia lekas menggendongnya dengan hati-hati. Untung saja Devan bisa teralihkan pikirannya dengan putrinya itu.
**
Bram menyusun rencana supaya bisa mendapat restu dari orang tua Raisa yang merupakan mantan perwira yang sangat keras. Bagi Bram saat ini restu orang tua Raisa sangatlah penting. Bram terus melihat jam dinding yang masih menunjukan pukul 1 siang, sebentar lagi Raisa akan pulang dari mengajarnya. Regan datang, Bram langsung menariknya untuk duduk di sofa.
"Kau mau pulang kapan? Papa butuh sekali bantuanmu."
"Bantuan apa?"
Bram menarik tangan Regan untuk masuk ke kamar, dia membuka lemari lalu meminta Regan untuk memilihkan baju yang akan dia pakai untuk datang ke rumah orang tua Raisa.
Regan merasa geli, semua pakaian sang papa terlihat ketinggalan zaman. Dia mengambil kemejanya lalu ia pinjamkan pada sang papa.
"Papa pakai ini saja. Ini masih baru."
Bram lekas memakainya, ia menjadi sangat tampan. Regan menatap sang papa yang sok muda sekali. Bram memang sudah berubah semenjak istrinya meninggal.
"Re, rambut Papa bagaimana? Papa sudah menyemir hitam."
"Oke juga."
"Regan, kau ikut Papa ya! Kita ke rumah orang tua Raisa."
__ADS_1
Regan tertawa kecil. "Hahaha... Papa tidak berani sendiri?"