
Sena bangun dari tempat tidurnya, kepalanya begitu sangat sakit sekali sehingga ia kesulitan untuk bangun. Dia mencari keberadaan putrinya dan Devan namun tak ada seorangpun di kamar itu. Sena menatap sekelilingnya, kepalanya rasanya berputar-putar sekali bahkan perutnya mual.
"Hueek... Mas Devan..."
Sena berteriak memanggil sang suami tak berselang lama Devan datang sambil menggendong Serafina.
"Mas, belikan aku obat. Aku masuk angin," ucap Sena.
Devan tersenyum kecil, rupanya dia belum tahu jika dia sedang hamil. Sena mencoba untuk berdiri namun Devan mencegahnya dan menyuruhnya untuk berbaring saja. Serafina diletakkan disebelah Sena, balita kecil itu rupanya sudah terlelap di gendongan Devan.
"Mas, tadi aku pingsan ya?"
Sena masih diam, dia mengambil sebuah tespek lalu menyuruh Sena untuk mengujinya namun melihat benda itu pasti sang suami mengira jika dirinya sedang hamil. Sena menggelengkan kepalanya, dia sudah berkali-kali mengetes dengan alat tersebut dan membuatnya trauma karena hasilnya selalu negatif, namun kali ini Devan meyakinkannya untuk segera mengetesnya.
Mumpung Serafina sedang tidur, Devan mengangkat Sena ke kamar mandi lalu menyuruh untuk mengetesnya, Devan membantu untuk membukakan alat itu dan setelah itu Ia berikan kepada Sena.
"Pakailah!"
Sena mengambil tespek tersebut, ia memandangnya dengan nanar, benar saja jika dia sudah sangat takut sekali dan selalu mengecewakan Devan. Devan meyakinkan jika hasil kali ini pasti positif karena sebelumnya Devan sudah memanggil dokter kandungan untuk memeriksakan saat wanita itu sedang pingsan. Sena langsung lekas memakainya dan menunggu beberapa menit, Devan masih memperhatikannya dengan sangat lekat, Senyuman Devan membuat Sena sedih jika hasilnya negatif lagi dan lagi. Saat melihat hasil tespek tersebut, Sena membelalakan matanya, dia seolah tak percaya dengan hasilnya kali ini.
"Mas, mungkin ini salah."
Devan mengambilnya dan membaca sekali lagi, dia tersenyum senang lalu menciumi pipi Sena.
"Alat ini akurat dan tidak mungkin salah."
__ADS_1
Sena mencoba mencari alat itu yang masih baru lagi, dia selalu menyetok alat tersebut jika sewaktu-waktu digunakan. Devan memperhatikannya sambil tersenyum, ia membiarkan Sena untuk melakukannya sekali lagi supaya yakin dengan hasilnya yang positif.
Sena mengetesnya sekali lagi, air matanya sudah menetes badannya begitu bergetar hebat. Devan membantu untuk menopang tubuhnya supaya tidak pingsan lagi dan benar saja tes yang kedua kali menggunakan tespek hasilnya tetap sama positif hamil. Sena terduduk lemas di kamar mandi, Devan memeluknya dengan erat, dia sangat berterima kasih karena Sena terus berjuang untuk mendapatkan seorang anak. Sena menangis tersedu-sedu membuat Devan juga ikut terharu.
"Aku hamil, Mas. Aku hamil saat Sera datang di rumah ini."
"Iya, Serafina pembawa keberuntungan bagi kita."
Devan menggendong Sena sampai di atas ranjang, Sena masih terbawa suasana haru dia terus menangis sambil memeluk sang suami, perjuangan ini selama 1 tahun lebih telah membuahkan hasil bahkan mereka selalu dihina mandul, mandul dan mandul. Sena memeluk tubuh Devan dengan erat air, matanya tumpah di dada pria itu begitu saja. Devan juga terus menciumi pipi Sena dengan rasa bersyukur.
"Sayang, aku cinta denganmu. Terima kasih sudah mau berjuang bersamaku," bisik Devan.
Devan mengabarkan kepada seluruh keluarga besarnya untuk datang dan tidak lupa mengundang Regan. Datang atau tidak yang terpenting Devan sudah mengundangnya. Makan malam kali ini juga untuk merayakan kehadiran Serafina di keluarga mereka. Walau tentunya ada kata-kata negatif dari mereka karena Serafina tidak seperti bayi pada umumnya namun Devan yakin jika balita itu pasti akan sembuh dan bisa seperti anak pada umumnya.
Di sisi lain Regan membaca pesan dari sahabatnya, perasaannya sangat terluka sekali melihat mantan istrinya hamil dengan suami barunya. Regan berusaha untuk tersenyum dan di saat bersamaan Bram datang membawa sarapan untuk mereka.
"Masalah Maya bagaimana? Kau ingin memberitahukan Sena dan Devan?"
"Tidak usah, biar menjadi rahasia kita saja dan aku akan mengurus Alden. Oh ya, Sena hamil dan Devan mengajak kita datang ke rumahnya untuk makan malam."
Bram ikut senang sekali jika Sena dan Devan akhirnya akan memiliki momongan namun wajahnya menjadi sedih saat melihat Regan seolah tidak bersemangat sama sekali.
"Regan, kau tidak apa-apa?"
Regan tersenyum kecil, dia menjelaskan jika dia sangat bahagia sekali mendengar mantan istrinya dan sahabatnya itu akan memiliki momongan. Untuk apa dia harus bersedih kali ini karena tak mungkin Sena akan kembali kepadanya lagi.
__ADS_1
Mereka sarapan bersama-sama, cutie Regan tinggal 2 hari lagi dan dia akan kembali ke kota sebelah.
Bram melirik jendela kaca sebelah, ia memperhatikan rumah milik calon istrinya. Regan yang melihatnya hanya bisa tersenyum kecil, sang Papa sedang puber kedua dan kini melebihi anak muda yang sedang jatuh cinta.
Tadi malam Bram tidak bisa tidur karena memikirkan wajah calon istrinya yang baru, walaupun usianya 35 tahun alias perawan tua namun Raisa sangat cantik dengan dua lesung pipi di kanan dan kiri pipinya. Raisa juga sangat putih serta memiliki hidung yang mancung dan tubuhnya yang pendek membuat dirinya terlihat sangat imut.
"Raisa guru SMA?"
Bram mengangguk.
"Pasti di sana digoda murid-muridnya."
Bram tersedak mendengarnya, ia baru menyadari hal itu, saingan nya anak-anak muda bahkan masih segar sedangkan dirinya sudah tua dan tidak percaya diri.
"Regan, memangnya kau dengan mahasiswimu begitu juga? Maksudku kau sering digoda?"
Regan mengangguk bahkan di tempat kerjanya yang baru mahasiswinya banyak yang menyukainya, bahkan setiap hari Regan menerima ajakan berpacaran namun ditolak mentah-mentah karena dia hanya ingin fokus bekerja saja. Bram sangat panik sekali dan Regan bisa melihat semua itu, sang Papa memang ketakutan jika Raisa malah memalingkan hati pada pria lain bahkan jauh lebih muda darinya.
"Menurutmu wajah Papa bagaimana?" tanya Bram.
"Tua."
Jawaban Regan sangat singkat padat dan menyakitkan. Bram mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Sena, dia ingin meminta bantuan Sena, meminta bantuan pada Regan hanya akan mendapat hinaan saja dari mulut putranya itu. Setelah makan Bram masuk ke kamarnya untuk mencari kemeja yang bagus untuk menemui Raisa lagi. Untuk masalah Arya dia tak terlalu memikirkan karena baginya sangat mudah untuk menaklukkannya, tak mungkin seorang ayah menentang kebahagiaan putrinya jika memang iya, itu adalah ayah yang sangat buruk sekali.
"Arya, kau pasti akan merestui kami. Aku dulu bisa mendapatkan ibu Regan lagi setelah dirinya tidak bisa melupakan pengkhianatanmu."
__ADS_1