Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 94 : Tak mungkin


__ADS_3

Tak kusangka aku bisa hamil setelah penantian selama 1 tahun lebih, aku sangat bersyukur sekali dengan kehamilan kali ini dan aku akan menjaganya dengan baik. Berkat Serafina juga aku bisa menjadi seperti ini.


Sena bangun dari tempat tidurnya. Dia ingin mengecek dapur apakah mereka sudah mulai memasak? Devan kini sudah berangkat bekerja dan akan pulang lebih cepat.


"Bik, mau masak apa saja?" tanya Sena.


"Pak Devan meminta masak ayam, sapi sama kambing, Bu."


Sena memperhatikan semua bahan-bahannya, sudah lengkap dan bisa langsung dimasak. Sena lekas kembali ke kamarnya ia memperhatikan balita itu belum juga bangun. sinetron niat membangunkannya namun tidak ada respon sama sekali dari sherafina.


"Sera, bangun! Makan yuk lalu kita jalan-jalan sebentar keliling kompleks."


Serafina belum bangun juga membuat Sena sangat khawatir. Sena menggendong putrinya dan memangkunya tubuh sherafina sangat dingin sekali.


"Sera, kau tidak apa-apa kan, Sayang?"


Mata Serafina terbuka ia tersenyum saat melihat mamanya. Shena menghela nafas panjang dia pikir terjadi sesuatu dengan balita gembul itu, dia memeluknya dengan erat lalu menciumi pipinya.


Sena mengambil makanan ringan untuk Serafina, ia juga memberinya jaket karena tubuh balita itu sangat dingin. Sena berharap jika kehidupan Serafina bissa seperti anak normal pada umumnya. Sena memberinya makan roti yang sudah dia hancurkan bersama air panas. Keadaan Serafina saat ini membuatnya tidak bisa makan dengan makanan yang aneh-aneh.


Saat bersamaan, Devan menelponnya, ia akan pulang lebih cepat kali ini. Sena mengutarakan untuk berniat membawa Serafina ke dokter sekarang juga karena badannya sangat panas sekali. Devan menyuruhnya untuk tetap di rumah saja karena sebentar lagi dia akan pulang ke rumah dan akan membawa dokter pribadi.


"Mas, badan Sera dingin sekali. Aku sangat takut," ucap Sena.


"Acnya dimatikan dulu saja. Dia pasti kedinginan."


Sena mengangguk paham, dia mematikan telponnya dan lekas menggendong Serafina menuju ke luar. Melihat balita itu membuat Sena sangat kasian sekali, dia tidak bisa melihat Serafina merangkak bahkan berjalan seperti anak seusianya.


"Sera, mau makan apa?"


Balita itu menggelengkan kepala, ia menunjuk ke arah luar pagar. Sena tahu jika dia ingin berjalan-jalan diluar namun diluar sangat panas sekali. Sena memilih membawa Serafina ke taman belakang. Wajah balita itu sangat senang sekali, ini pertama kalinya dia melihat langit yang biru. Sena memperkenalkan nama-nama benda yang ada disekelilingnya. Dia harus mengajarinya berbicara sedikit demi sedikit.


"Itu namanya kursi. Coba bilang kursi!"


Serafina hanya diam, dia hanya membuka mulutnya lebar-lebar tanpa bersuara. Sena tak menyerah, ia mengajarkan banyak nama benda walau Serafina masih belum bisa mengikutinya. Setelah cukup puas di taman, Sena mengajaknya untuk masuk ke dalam. Setelah ini dia juga harus mengecek toko bunganya yang kemungkinan akan tutup akhir-akhir ini.


"Serafina mau jalan-jalan? Kemana? Ke toko Mama mau?"


Tak ada jawaban.

__ADS_1


"Oke, kita tunggu Papa pulang ya! Setelah Papa pulang bawa dokter maka kita bisa pergi naik mobil lagi. Sera suka naik mobil?"


Tak ada jawaban.


Sena tersenyum kecil, ia mengecup pipi Serafina dan berharap balita itu suatu saat bisa meresponnya. Devan datang menggunakan mobilnya, Sena menyambutya dengan hangat.


"Kok diluar, Sayang?" tanya Devan.


"Iya, Mas. Badannya dingin sekali lalu aku ajak dia keluar biar terkena sinar matahari," jawab Sena.


Sena mencari keberadaan dokter yang dijanjikan Devan namun tidak terlihat sama sekali. Devan tidak bisa membawanya sekarang karena beliau ada keperluan lain, Devan akan langsung membawa Serafina ke rumah sakit esok hari.


"Mas mau makan apa?" tanya Sena.


"Kau mau makan apa? Kau mengidam apa biar aku belikan," tanya Devan kembali.


Sena tersenyum kecil, dia tak menyangka bisa hamil juga padahal orang lain sudah menghina Devan yang bukan-bukan. Devan adalah panutannya, setiap ada hinaan dia selalu menyambut dengan senyuman. Bangga sekali Sena bisa menikah dengannya. Devan menuju ke dapur untuk mengecek para pembantunya yang sedang menyiapkan masakan yang lezat.


"Sena, kau ingin makan apa? Biar aku belikan? Ini perdanaku membelikanmu makanan saat kau sedang hamil."


"Aku ingin makan mie rebus buatan Mas Devan saja."


"Sayang, tidurlah! Nanti malam akan banyak tamu yang ingin melihatmu."


Serafina memejamkan matanya, Sena membiarkannya untuk tidur lagi. Dia memandangnya dengan lekat, balita secantik ini harus mengalami nasib yang buruk. Saat bersamaan, ponselnya berbunyi yang rupanya pesan dari Bram. Sena membuka pesan tersebut.


Bram : Sena, menurutmu Papa apa jelek?


Sena : Papa tanya aneh-aneh saja.


Bram : Sena, menurutmu apa Papa tidak pantas menikah dengan wanita seusia anakku sendiri?


Sena : Papa benar mau menikah lagi? Sama tetangga sebelah rumah?


Bram : Iya, tetangga sudah membicarakan hal tidak enak tentang kami, kami harus menikah.


Sena : Wah, papa hebat juga. Mau menikah kapan?"


Bram : Masalahnya orang tuanya adalah musuh bebuyutan Papa.

__ADS_1


Sena membaca pesan itu, dia terus membayangkan jika sang bapak menikah lagi namun bapak dari Sena memegang prinsip setia pada satu orang yang dicintainya. 


Bram : Sena, nanti bantu Papa untuk membujuk orang tuanya ya. Kau perempuan dan pandai bicara, kau pasti bisa membujuknya.


Sena mengernyitkan dahinya, dia disuruh melamarkan Bram pada orang tua calon istrinya. Hahaha, sangat lucu sekali.


Sena : Baiklah, Pah. Aku akan berusaha membujuknya.


Bram : Terima kasih, Sena. Selamat juga atas kehamilanmu.


Sena meletakan ponselnya, dia tersenyum sendiri saat pria matang sedang jatuh cinta. Sena juga teringat saat Devan pertama kali berpacaran dengannya, mereka sangat aneh sekali dan mengundang gelak tawa.


Devan datang membawa Indomie rebusnya, Sena tersenyum kecil.


"Loh, Sera kok tidur? Aku ingin bermain dengannya."


"Iya, Mas. Anak kecil jika sudah mengantuk tidak bisa dipaksa untuk tetap bangun. Mas Devan mau makan apa?"


"Kau makan dulu. Nanti aku bisa makan masakan Bibi."


Sena memakan mie rebus buatan sang suami yang sangat nikmat. Devan memperhatikan wajah istrinya yang sangat lekat. Dia mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.


Cup...


"Oh ya, Bapak sudah diberitahu?" tanya Devan.


"Sudah aku kirim pesan padanya namun belum dibalas. Mungkin bengkel sedang ramai. Oh ya, Papa Bram mau menikah lagi."


"Dengan siapa?"


"Tetangganya. Lucu sekali beliau."


Devan mengusap rambut Sena dengan lembut. "Sena, kata Pak Bram. Ada seseorang yang hampir membakar toko bungamu."


"Apa? Siapa?"


"Maya."


"Tidak mungkin, Mas. Dia bahkan sempat pinjam uang padaku untuk beli susu anaknya."

__ADS_1


__ADS_2