
Devan bergegas menuju ke rumah sakit kembali setelah melihat putrinya yang pingsan karena demam. Karena ada Antony dan Sofia maka Devan bisa kembali ke rumah sakit untuk menemani Sena.
Devan tak bisa membayangkan jika Sena tahu hal yang sebenarnya kalau janin yang ada di kandungannya tidak terselamatkan.
Deru suara mobil membelah jalanan yang sudah sunyi ini, sesekali helaan nafas terdengar dari Devan. Walau Anjas sudah memberitahu jika Sena baik-baik saja walau sudah sempat siuman namun Devan tetap tidak bisa tenang.
Sesampainya di rumah sakit sekitar pukul 12 malam lebih. Devan menghampiri Anjas yang terlelap di depan ruangan Sena. Devan menepuk bahunya membuat sang asisten terbangun seketika.
"Pulanglah!" pinta Devan.
"Ku pikir Pak Devan akan kembali besok pagi?" tanya Anjas.
Devan menggeleng. "Sena butuh aku. Dia sedang terluka luar dan dalam dan tidak ada keluarga yang menemaninya."
Anjas tersenyum melihat kebaikan Devan. Devan memang mempunyai luka tersendiri dalam berumah tangga namun tak membuatnya rapuh akan masa lalu. Setelah kepergian Anjas, Devan masuk ke ruangan Sena. Wanita itu membuka mata, Devan mulai takut jika Sena menanyakan kandungannya.
"Apa Kak Regan di sini?" tanya Sena.
"Untuk apa menanyakan pria yang mendorongmu dari tangga?" tanya Devan.
Sena menggelengkan kepalanya. "Dia tak bermaksud mendorong. Kaki ku terpeleset ketika menginjak tangga."
Devan mengusap wajahnya kasar, sepertinya ada yang tidak beres dari otak Sena akibat benturan keras di tangga tadi.
"Aku ingin bertemu dengannya dan dan memberitahu jika ini adalah anaknya. Dia berhak tahu," ucap Sena.
Devan menghela nafas panjang, Sena tetaplah Sena yang keras kepala. Devan juga seorang ayah dan pasti paham perasaannya kepada anaknya, Devan mencoba menghubungi nomor Regan dan akhirnya tersambung.
"Re, Sena ingin bertemu denganmu." Devan segera mematikan ponselnya dan sedikit ngilu hatinya saat menelpon Regan.
__ADS_1
Mata pria itu menatap tangan Sena yang mengelus perutnya, Sena belum curiga dan masih percaya kandungannya baik-baik saja.
"Pria yang sudah menyakitimu berulang kali namun masih tetap ingin menemuinya?" tanya Devan.
"Dia berhak tahu karena setelah ini aku memutuskan untuk tinggal di kota lain saja. Hanya berdua dengan anakku."
Hati Devan sangat teriris, bagaimana jika Sena tahu kalau janinnya sudah tiada. Pasti dia akan sangat sedih dan akan membenci Regan seumur hidupnya. Devan hanya diam sembari berharap Sena akan diberi ketabahan yang besar karena kehilangan seorang anak adalah kesedihan yang luar biasa. Devan melihat wajah Sena yang terus mencoba tersenyum mencoba membayangkan masa depannya bersama calon buah hatinya namun air matanya tiba-tiba bercucuran.
"Ada apa Sena?" tanya Devan.
"Jangan pernah mengatakan bayiku keguguran! Biarkan aku sedikit senang saja dan menganggap bayi ini tetap ada." Sena menangis, entah dari mana dirinya tahu namun dia memberontak dengan fakta yang sesungguhnya.
"Bayiku masih ada, dia tetap akan ada," sambungnya lagi membuat Devan semakin tidak tega dengannya.
Devan mengangguk, ia tak ingin membuat Sena semakin terpuruk sedih serta merasa kehilangan. Sena ternyata menghibur dirinya sendiri dengan berpura-pura bahagia. Dia sadar jika tidak ada tempat untuk dia melampiaskan kesedihan sekalipun itu Devan.
"Bayiku kuat 'kan? Benar 'kan?" tanya Sena sambil tersenyum pada Devan walau senyuman itu palsu.
Setengah jam kemudian. Regan datang terburu-buru, telapak tangannya terluka namun sudah mendapat jahitan. Pikirannya sangat kalut karena kedua wanita yang pernah singgah di kehidupannya sedang mengalami masalah. Devan keluar saat Regan hendak masuk, ia menarik Regan dan membicarakan sesuatu dengannya.
"Bagaimana keadaan Sena? Sudah hampir jam 1 kenapa dia belum tidur?" tanya Regan.
"Doamu terkabul. Bayimu keguguran. Selamat," jelas Devan dengan ekspresi datar.
DEG
Regan terhuyung ke tembok, ia sangat terkejut dengan ucapan Devan. Matanya memerah seolah menyimpan kesedihan. Dia pria yang terbodoh yang pernah ada. Dia pria yang mendoakan anaknya tiada, sungguh kejam.
"Sena menganggap anaknya masih ada padahal dia sudah tahu jika dirinya sudah keguguran. Tidak ada yang bisa menguatkannya selain dirinya sendiri. Lebih baik kau akting juga seolah anak kalian masih ada," jelas Devan dengan sorot mata yang tajam kepada Regan. "Masuklah! Jangan sakiti dia lagi! Dia sudah cukup menderita."
__ADS_1
Regan langsung masuk, dia melihat Sena tersenyum sambil mengusap perutnya. Nyali Regan seolah ciut, dia membunuh anaknya sendiri. Regan menarik kursi lalu duduk di samping ranjang Sena. Sena masih fokus memandang ke arah depan tanpa memperhatikan mantan suaminya yang datang.
"Maafkan aku!" ucap Regan menunduk.
"Untuk apa meminta maaf, anak kita baik-baik saja," jelas Sena.
Regan mencoba menatap wajah Sena, dia tahu jika mental Sena kini begitu terpuruk. Benar kata Devan lebih baik saat ini mengikuti suasana hati Sena saja.
"Aku tidak bermaksud mendorongmu namun aku tetap akan bertanggung jawab dan menyerahkan diri pada polisi karena perbuatanku tetap terlihat mencelakaimu," pungkas Regan berusaha menatap Sena dengan lebih yakin.
Wanita di depannya selalu ia sakiti berkali-kali namun Sena tetap menjadi orang yang terkuat menurut pandangan Regan. Sena meliriknya, ia menatap Regan sambil tersenyum. Sena memang aktris yang hebat yang mampu menutupi kesedihannya dengan baik.
"Aku tunggu penyerahan dirimu di kantor polisi," ucap Sena.
Regan mengangguk. Regan mencoba menggenggam tangan Sena lalu menciumnya, entah berapa dosa yang Regan buat setelah membuat anak piatu seperti Sena selalu bersedih. Regan mengakui kesalahannya dan berharap setelah ini dia bisa membahagiakan Sena walau tidak mungkin terjadi.
"Tidurlah! Aku akan menemanimu," pinta Regan.
Sena mengangguk, dia membaringkan dirinya sambil memunggungi Regan, dia langsung menumpahkan air matanya, begitu pilu, begitu menyayat hati jika di dengar. Regan pun berusaha membalikan tubuh Sena untuk menghadapnya, dia melihat Sena menangis tersedu-sedu.
"Maafkan aku, Sena! Aku pria yang sangat bodoh, aku mencelakai anak kita. Kau boleh memakiku." Regan memeluk Sena dengan erat.
Sena hanya bisa menangis, beban lukanya sangat dalam bahkan ini yang terparah. Dia harus kehilangan bayinya karena ulah sang ayah dari jabang bayi. Di sisi lain. Devan melihat mereka dari jendela pintu, dia berdecih melihat Regan yang seolah menyesal padahal tadi berharap Sena keguguran.
Regan belum pernah merasakan menjadi seorang ayah yang sebenarnya, anak sakit sedikit saja kami para orang tua sudah sangat khawatir. Dia memang bodoh sekali sampai ke ubun-ubun. Batin Devan muak melihat Regan.
Devan menguap, ia duduk di kursi panjang sambil melihat jam yang sudah menunjukan pukul 1 pagi lebih. Sesekali ia melihat pesan dari sang ayah yang menyuruhnya untuk pulang. Devan sebenarnya kurang nyaman saat orang tuanya tinggal bersamanya di rumah yang sama. Orang tuanya selalu ikut campur dengan masalah pribadinya.
Devan masuk ke ruangan, ia melihat Sena sudah tertidur dengan mata yang sembab. "Aku titip Sena. Besok pagi aku akan datang lagi, aku tidak bisa menemaninya karena anakku sedang demam."
__ADS_1
"Tidak ada yang menyuruhmu di sini! Silahkan pergi!" ucap Regan.