
Regan membawa Maya ke rumah orang tuanya. Bram dan Intan tentunya sangat terkejut dengan pengakuan mereka jika memiliki hubungan apalagi Regan mengaku sudah menghamili Maya.
Sebagai orang tua, Bram sangat kecewa. Sena yang sebagai istri sah malah tak kunjung hamil.
"Sena bagaimana?" tanya Intan, ia pun sudah sangat syok.
"Jangan beritahu dia dulu! Dia pasti mengerti dengan keadaan ini," jawab Regan.
Pernikahan pun diadakan secara sederhana tanpa orang lain tahu. Namun keluarga besar mereka tetap tahu karena di undang untuk makan-makan. Sementara itu Sena tak tahu apa-apa dan berada di rumah saja, ia tahunya Regan sedang memeriksa tugas para mahasiswanya di minggu ini.
Sena pun yang bosan di rumah memutuskan untuk ke rumah Bram. Dia berdandan ala kadarnya dengan rambut kriwil yang tergerai.
Dia mengendarai motornya dengan kecepatan sedang dan setelah sampai, ia melihat banyak mobil dan motor terparkir di depan teras.
Bram yang melihat kedatangan Sena segera memberitahu Regan. Regan tentunya panik, ia menyuruh Maya masuk ke kamar untuk bersembunyi sedangkan Regan berganti pakaian biasa dan segera keluar.
Sena tentunya bingung, ada acara namun Intan tidak memberitahunya sedikitpun.
"Papa, Mama, ada acara kok tidak bilang? Aku 'kan bisa bantu."
"Eh... Nana, kau pasti capek karena kemarin lembur 'kan? Mama sengaja tidak mengundangmu supaya kau bisa istirahat di rumah," jawab Intan.
Sena pun merasa aneh bahkan kerabat Regan memandangnya. Mereka sebelumnya sudah di suruh Intan untuk berakting jika saat ini sedang arisan keluarga.
"Kak Re juga ada di sini? Katanya di kampus?" tanya Sena heran.
"Aku tidak bilang begitu. Kau salah dengar," jawab Regan.
Regan tak menghiraukan Sena lalu segera melanjutkan makannya yang sempat tertunda, bahkan Regan tak menawari Sena untuk makan. Intan mengajak Sena untuk makan. Kegelisahan Sena semakin bertambah saja.
"Nana, maaf ya! Mama tidak bermaksud untuk tidak mengundangmu. Kata Regan kemarin kau sempat sakit. Ini saja semua makanan pesan semua di catering."
Sena mengangguk, ia melirik Regan yang tetap tidak memperdulikannya. Ada rasa mengganjal di hatinya apalagi orang-orang di sana melirik Sena.
__ADS_1
"Pantas saja Regan memilih Maya. Sena dan Maya bagaimana bumi dan langit. Maya sangat cantik."
"Sena itu tidak bisa merawat diri. Jadi wanita kok begitu ya?"
'Tapi kasian juga. Sena tidak tahu suaminya menikah lagi."
**
Tak ku sangka saat itu adalah awal dari kehancuranku. Pernikahanku yang selama ini hanya ingin membalas dendam justru menghancurkanku sendiri. Ku pikir setelah pernikahanku dengan Maya terbongkar di depan Sena maka perempuan lemah itu tidak akan marah ataupun meminta cerai, justru dia langsung meminta perceraian padaku dan mengubah penampilannya, satu lagi, ia mengubah warna rambutnya menjadi ungu.
Dia menjadi semakin cantik dan mempesona, aku baru menyadari hal itu. Aku semakin tak ingin melepasnya dan ingin memilikinya. Aku memang merasa salah, aku menyesali perbuatanku.
Flashback selesai.
Bram menepuk bahu putranya yang terduduk di bawah. Regan terus saja menangis bahkan air matanya telah membasahi lengan kemejanya.
"Regan, sudahlah! Semuanya sudah berlalu. Kau tidak perlu menyesalinya, aku harap kau bisa memperbaiki diri," ucap Bram.
"Aku sudah tidak pantas mendapatkan kebahagiaan, aku sudah hancur sejak kehilangan Sena dan calon anakku. Aku telah membunuhnya, aku akan segera menyerahkan diri ke polisi," jawab Regan.
"Lalu Maya bagaimana? Dia dan adiknya terbukti memakai dan menggelapkan mobil rental untuk menabrak Sena. Walau bagaimanapun Maya tetap istrimu dan kalian baru saja menikah resmi tadi pagi."
Regan menggeleng, dia tak ingin memikirkan Maya dulu. Maya memang pantas berada di penjara karena sudah melakukan tindak kriminal apalagi dengan cara di sengaja.
Bram melihat obat yang tergeletak di lantai, sepertinya Regan memang sedang sakit terutama pada mentalnya. Bram mulai curiga saat tahu putranya terkadang tersenyum sendiri setelah bercerai dengan Sena. Kini Regan satu-satunya keluarga yang tersisa yang dimiliki Bram. Walaupun putranya sangat salah namun ia tak ingin membuat Regan semakin terpuruk.
Keesokan harinya.
Bram menemani Regan untuk menyerahkan diri ke kantor polisi tapi diam-diam Bram memberitahukan jika Regan sedang mengalami tekanan batin serta mengonsumsi obat anti depresan supaya pihak kepolisian meringankan hukumannya.
"Regan, kau sudah melakukan hal yang terbaik. Papa bangga padamu," ucap Bram.
Regan mengangguk, ia menghela nafas panjang. Dia mulai menjalani proses pemeriksaan dan tes kejiwaan. Jika memang Regan terbukti sedang sakit terutama pada mentalnya maka Regan tidak akan ditahan apalagi Bram melampirkan bukti rekaman CCTV saat kejadian Sena terjatuh dari tangga. Regan tak terlihat mendorong Sena malah berusaha memeganginya walau meleset.
__ADS_1
Sementara itu Sena memarkirkan motornya di tempat parkir dan melihat Bram keluar dari kantor polisi.
"Papa? Kak Regan mana? Dia sungguh menyerahkan diri?" tanya Sena.
"Iya, dia sedang dalam proses. Sena, Regan sudah mengakui kesalahannya. Papa harap kau bisa memaafkannya dan untuk Maya, dia dinyatakan bersalah. Papa kini mau mengurus surat perceraian mereka."
Sena meneteskan air mata, ia bisa melihat kesedihan Bram. Dia sudah kehilangan seluruh anggota keluarganya bahkan kini Regan juga. Sena memeluk Bram yang sudah ia anggap sebagai ayahnya sendiri. Bram menerima pelukannya.
"Sena, sekarang hiduplah bahagia! Kau berhak mendapat kebahagiaan. Maafkan putraku telah menyakitimu."
"Tidak apa-apa, Pah. Aku juga minta maaf."
Mereka melepaskan pelukannya, Bram pun tak sengaja melihat cincin yang di kenakan Sena. Sena yang sadar langsung menyembunyikan tangannya.
"Pak Devan itu baik. Papa juga setuju jika kau menikah dengannya. Oh ya, kalian akan menikah kapan?"
"Belum tahu, kami belum minta restu dari orang tua kami namun jika sudah ada hilalnya maka Papa akan aku undang."
Bram mengelus kepala Sena. "Papa akan mendukung keputusanmu. Semoga kau bahagia."
Bram tersenyum lalu masuk ke mobilnya. Sena memandangnya dengan kasian. Sebenarnya ia tak tega memberitahukan pernikahannya dengan Devan padahal Bram sedang berduka.
Papa Bram sangat baik, semoga dia bisa mendapat kebahagiaan juga.
Sena kembali ke motornya. Dia menghela nafas panjang, orang yang menyakitinya sudah mendapat balasan dan kini Sena hanya ingin fokus pada malam ini. Malam yang akan mendebarkan bagi Sena, pasalnya Devan akan memperkenalkan Sena di depan orang tuanya sebagai calon istri dan ibu Kia. Namun sebelumnya dia akan menjenguk sang bapak dulu untuk meminta restu dan hadirnya di akad pernikahannya nanti.
Saat bersamaan, mobil Devan datang. Dia baru saja melakukan suatu hal.
"Nana?"
"Kak?"
"Menunggu lama?"
__ADS_1
Sena menggeleng.
"Jika Bapak tidak setuju bagaimana?" tanya Devan sedikit grogi.