Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 63 : Mencoba ikhlas


__ADS_3

"Kami akan mencoba bertanya pada Om Irfan, Pah."


Sena begitu antusias mengetahui akan mengadopsi apalagi bayi kembar. Mengingat bayi, ia sudah kehilangan bayinya saat terjatuh di tangga. Itu semuanya membuat sangat sedih. Apakah itu bayi terakhirnya? Apakah Sena punya kesempatan untuk hamil lagi setelah ini? Semoga saja Devan tak benar-benar mandul seperti apa yang orang-orang katakan. Huh.... setelah pernikahan ini ia harus menjalani hidup dengan kesabaran lagi. Dia ikhlas jika tak bisa memiliki keturunan sendiri karena itu semua demi Devan.


Satu minggu kemudian.


Sena mengerjakan pekerjaannya di kantor, mungkin ini adalah minggu-minggu terakhirnya menjadi sekertaris dari Devan karena dia akan segera menikah dengan bosnya sendiri. Seperti sebuah mimpi, Devan yang menjadi pria yang dihormatinya tak disangka ternyata adalah jodoh keduanya dan juga terakhirnya.


Semua rumor pernikahannya sudah tersebar, ada omongan positif dan tentunya juga ada omongan negatif namun Sena tak menghiraukannya karena mau bagaimanapun dia akan menjadi istri sang bos di kantor itu. Hari ini Devan sedang sibuk menyiapkan beberapa rencana kedepannya untuk perusahaan ini. Perusahaan yang dirintis oleh sang Papa dan rekannya kini seolah menjadi tanggungan Devan. Sebenarnya Devan ingin sekali menjadi dosen seperti Regan namun orang tuanya tak mengizinkan. Rencananya jika ia sudah menikah dengan Sena, ia akan mendirikan yayasan sekolah untuk anak-anak yang tidak mampu termasuk anak yatim piatu. Devan memang sosok pria yang baik pantas saja ia mendapatkan jodoh yang baik seperti Sena.


Kling...


Devan : Nanti sore langsung datang ke butik yang aku kirimkan lokasinya padamu.


Sena : Baik, Sayang.


Devan : Aku tidak kembali ke kantor dan akan langsung ke sana. Kau naik motor hati-hati ya? Atau aku suruh Anjas menjemputmu?


Sena : Tidak usah, Sayang.

__ADS_1


Sena melanjutkan pekerjaannya, sebenarnya ia sangat menyukai pekerjaan ini apalagi dia mengikuti seleksi yang ketat dan mengalahkan kandidat yang lebih senior namun mau bagaimana lagi? Dia ingin menjadi istri yang baik yang bisa mengurus sang suami dan anak-anaknya kelak. Setelah selesai berkutat dengan pekerjaannya, Sena memutuskan untuk menulis buku diary-nya. Walau sudah 28 tahun, ia masih suka menulis isi hatinya di sebuah tulisan, dia tak mempunyai tempat curhatan lagi dan lebih baik dia menulis di sebuah buku.


Dear diary...


Terima kasih, terima kasih pada diriku sendiri karena kuat menghadapi semua ini. Satu persatu masalah terselesaikan bahkan sebentar lagi aku akan memiliki keluarga utuh. Terima kasih juga untuk Tuhan yang memberikanku kesabaran ini dan aku bisa melewatinya dengan mudah.


Mungkin masalah ke depannya bagi kami adalah momongan, walau bagaimanapun kami butuh seorang penerus bagi kami namun jika tidak bisa, maka aku bisa ikhlas, aku siap mengadopsi bayi dan aku tetap menjadi seorang ibu.


Dear diary... Semoga saja tidak ada penghalang bagi kami termasuk mantan-mantan kami sekalipun. Sudah cukup dengan penyiksaan ini.


Tok... tok... 


"Kabar Papa bagaimana?"


"Baik sekali. Oh ya, bulan ini jadi menikah?"


Sena mengangguk. "Maaf jika aku terkesan murahan karena baru beberapa bulan bercerai namun malah sudah ingin menikah lagi."


Bram tertawa kecil, menikah bukan sebuah hal yang dirahasiakan. Bram akan sangat senang sekali jika Sena sudah menemukan suami yang baru dan baik seperti Devan. Tak masalah jika baru bercerai sudah mendapat gandengan baru, tak ada larangan dalam hal itu apalagi selama pernikahan yang sebelumnya Sena tak pernah mendapat kebahagiaan. 

__ADS_1


"Sena, sekali lagi Papa minta maaf atas nama Regan. Dia terlalu bersalah telah menyakitimu." 


"Tak apa. Semua orang pasti punya kesalahan yang terpenting Papa harus tetap mendampingi Kak Regan."


Bram mengangguk, ia mengusap kepala Sena. Sena adalah wanita yang baik dan tidak pantas mendapatkan Regan. Kini Regan pun menjalani terapi pemulihan mentalnya yang terganggu, Bram harus merogoh kocek yang banyak untuk terapi tersebut. Setiap hari bahkan Regan mencari keberadaan Sena dan menyebut namanya. Regan terlalu terobsesi pada Sena bahkan meminta kembali pada Sena, wanita yang sudah disakitinya. 


"Aku tidak menyangka jika Regan akan seperti ini. Andai saja aku bisa membimbing Regan dengan benar," ucap Bram hampir menangis.


Orang tua mana yang tidak sedih melihat putra kebanggaannya mendadak gila karena wanita? Bahkan Regan saat ini kian parah saja, ia sering mengamuk pada dokter dan suster yang menanganinya. Dia juga meminta Sena untuk datang menemaninya. 


"Regan pria yang pandai, dia bahkan mendapat beasiswa di luar negeri namun nasibnya malah seperti ini." Bram mulai menangis membuat Sena tidak enak hati sebab Regan menjadi seperti ini karenanya. 


"Pah, jangan sedih! Kak Re pasti akan sembuh."


"Sena, Papa mohon untuk sekali-kali menjenguk Regan."


Sena tersenyum kecil, ia pasti akan menjenguk Regan namun dengan Devan. Sena tidak mau membuat calon suaminya salah paham. Bram mengusap air matanya, ia sangat malu tatkala harus menangis di depan Sena. Bram pasti sangat kesepian bahkan tubuhya bertambah kurus saja. 


"Jika perlu apa-apa bilang padaku, Pah. Jika curhat apa-apa datang padaku saja. Aku akan menjadi pendengar yang baik." 

__ADS_1


__ADS_2