Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 74 : Berpamitan


__ADS_3

Regan berniat menemui Maya yang ada di penjara. Dia ditemani Bram menuju ke sana. Di dalam mobil, Regan hanya diam sambil termenung. Mantan istrinya sudah mendapatkan kebahagiaan bersama pria yang notabenya adalah teman dekatnya dulu.


"Re, nanti sebentar saja ya di sana? Papa ada urusan," ucap Bram.


"Iya, Pah."


Ponsel Regan berbunyi dari notifikasi grup rekan-rekan dosennya yang memberi dukungan padanya. Mereka sudah tahu jika Regan depresi karena kehilangan Sena namun mereka belum tahu jika penyebab Regan bercerai dengan Sena adalah Maya, rekan sekerja mereka juga.


Anak-anak didiknya juga terus memberi dukungan bahkan meminta Regan untuk kembali mengajar di kampus itu namun dia tak mau kembali ke sana karena pernah melakukan hal yang bisa membuat nama baik kampus itu tercoreng.


"Sena hari ini berbulan madu dengan Devan padahal kami dulu tak pernah berbulan madu," gumam Regan namun di dengar oleh sang Papa.


"Besok jika kau punya istri lagi ajak dia berbulan madu dan untuk masa lalu tak usah dipikirkan. Orang yang kau sakiti sudah sangat bahagia."


Regan mengangguk, ia mencoba untuk menerima semua ini. Tak dapat dipungkiri jika nasibnya memang sangat buruk dan dia juga yang membuatnya seperti itu. Sesampainya di sana, ia menemui Maya seorang diri sementara Bram menunggunya di luar.


Maya semakin kurus dengan perut yang membuncit, ia juga memotong rambutnya sampai benar-benar pendek.


"Regan, kau tak berniat mengeluarkanku dari sini?" tanya Maya memelas.


"Maaf, kau memang pantas dipenjara karena sudah membuat kesalahan besar," jawab Regan.


Maya menangis pilu, ia menggenggam tangan Regan namun pria itu menepisnya. Sebenarnya Regan tidak tega namun apa boleh buat, mantan istrinya itu memang melakukan tindak pidana.


"Jika kau tidak mau, tolong hubungi Abi! Aku mau dia membebaskanku dan bilang aku dalam keadaan hamil anaknya." Maya tak kuasa membendung kesedihannya.


"Maya, cukup! Jangan mengharapkan untuk mendapat simpati dari pria lagi! Aku sudah menyiapkan rumah dan segalanya untukmu dan anakmu juga karena itu hakmu yang sempat menjadi istriku. Setelah keluar dari penjara, hiduplah dengan tenang tanpa mengusik pria lain lagi! Kau perempuan harusnya bisa menjaga diri dengan baik," jelas Regan.


Maya menggelengkan kepalanya. Dia menangis terisak di depan Regan, ia masih mengharapkan mantan suaminya itu membantunya. Regan berdiri, ia berpamitan untuk pulang. Urusannya dengan Maya sudah selesai dan kini ia harus menemui Zara. Regan memang sangat bersalah dengan Zara karena memberinya harapan palsu.


"Maya, jaga dirimu baik-baik! Sungguh! Aku minta maaf yang sebesar-besarnya dan aku mau berpamitan akan tinggal di Eropa."


Regan pergi meninggalkannya, ia masih mendengar tangisan Maya disetiap langkah kakinya. Tak tega, itulah yang sebenarnya terjadi namun siapa sangka jika kini sudah berubah tidak seperti dulu lagi. Dia tak ingin diperdaya oleh wanita, ia tak ingin terjebak dalam lubang yang sama.


Setelah dari Maya, Regan berencana untuk menemui Zara beserta anaknya. Tentu saja dia ingin meminta maaf dan memberikan sedikit kompensasi untuk Zara yang sudah ia rugikan.

__ADS_1


Bram mengantar Regan namun dia tak bisa menunggu putranya itu karena ada keperluan penting.


Di dalam mobil, ia harus menerima jika Zara memakinya. Sifat Zara memang keras dan selalu bertindak gegabah pada suatu masalah.


Regan terus menghela nafas, mungkin ini yang terbaik jika ia harus pergi dari negara ini. Dia juga harus bisa move on dari Sena yang kini sudah menemukan pasangan baru secepat kilat.


Sesampainya di cafe,


Regan berjumpa dengan Zara yang seorang diri. Wanita itu sudah menatap tajam pada Regan seolah ingin menerkamnya.


"Apa kabar?" tanya Regan.


"Ku pikir kau sudah mati," jawab Zara sangat sinis.


"Sayangnya tak semudah itu aku mati."


Regan memesan makanan favoritnya, lagi-lagi dia menemukan makanan favoritnya Sena dulu, stik kentang goreng yang bersaus keju lumer. Regan mencoba untuk menutup kembali buku menu tersebut lalu memandang Zara yang masih menatapnya sinis.


"Untuk apa kau mengajakku ke sini?" tanya Zara.


Regan memberikan cek yang sudah tertulis nominalnya. Zara menatapnya heran.


Zara langsung merobeknya. "Apa kau pikir dengan uang bisa menyelesaikan semuanya? Kau sudah banyak menyakitiku dan pantasnya kau menjadi gila."


Zara mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Regan. Regan paham, kesalahannya sangat fatal pada ketiga wanita itu namun dia sudah berusaha meminta maaf dengan tulus.


"Zara, aku mau berangkat ke Eropa."


Langkah Zara terhenti. "Pergilah sana! Aku tidak peduli." Zara kembali melangkah meninggalkan Regan.


Kini tinggal berpamitan dengan Sena, Regan bergegas ke hotel tempat Sena menginap. Untung saja wanita itu belum berangkat berbulan madu ke luar negeri. Regan ke hotel itu menggunakan taksi yang ada di sekitar saja. Sudah kewajibannya untuk berpamitan dengan mereka.


Sesampainya di sana.


Sena sudah menunggu di depan pintu hotel, ia mengenakan syal yang menutupi lehernya. Regan datang, ia langsung menyalami Sena.

__ADS_1


"Maaf menganggu," ucap Regan.


"Tidak apa. Ayo duduk di sana saja!" pinta Sena.


Mereka duduk di sofa dekat lobi. Sena memesan minuman untuk mereka. Regan memperhatikan Sena yang seolah tidak ada rasa benci para Regan.


"Sekali lagi selamat atas pernikahanmu," ucap Regan.


"Iya, kak. Terima kasih. Lalu untuk apa Kak Regan meminta bertemu?"


Regan menghela nafas panjang. "Haah... aku mau minta maaf padamu. Aku memang salah padamu dan sangat menyesalinya."


Sena tersenyum kecil. "Kak Regan 'kan sudah meminta maaf padaku?"


"Tapi aku masih merasa sangat bersalah padamu. Oh ya, aku juga akan berangkat ke Eropa minggu ini. Setidaknya aku ingin berpamitan denganmu supaya tidak ada hati yang mengganjal," jelas Regan.


Devan datang, ia baru saja mandi dengan rambut yang masih basah. Sena berdiri intuk menyambut sang suami begitu pula dengan Regan.


Regan menyalami Devan, Devan membalasnya dengan baik.


"Ada apa, Regan?" tanya Devan.


Regan memeluk Devan, ia meminta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahpahaman sewaktu dulu. Gara-gara itu juga pertemanan mereka menjadi renggang.


"Tak apa, Re. Aku juga minta maaf jika ada salah padamu," jawab Devan.


"Devan, aku mau pergi ke Eropa minggu ini."


"Kuliah?"


Regan menggelengkan kepalanya. "Tidak, beasiswaku sudah dicabut karena aku terlalu lama memberi jawaban. Kau tahu 'kan kondisiku akhir-akhir ini bagaimana?"


"Regan, aku akan selalu mendukung setiap keputusanmu karena kau adalah temanku."


Sena tersenyum melihat mantan suami dan suaminya kini akur. Rasanya lega sekali karena tidak ada beban yang menyiksa diri.

__ADS_1


"Devan, aku titip Sena! Kau harus menjaganya dengan baik. Tolong sayangi dia juga!" pinta Regan.


"Pasti, Re. Kau jangan khawatir! Aku akan menjaganya dengan baik. Oh ya, jangan lupa jika pulang ke sini bawa oleh-oleh alias calon istri untukmu," jawab Devan.


__ADS_2