Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 79 : Naughty Kiss


__ADS_3

"Re, untuk apa kau tetap ke Eropa padahal beasiswamu sudah dicabut?" tanya Bram.


Regan menghela nafas panjang. "Mungkin aku bisa membohongi orang lain namun aku tidak bisa berbohong pada Papa. Sebenarnya tujuanku bukan ke Eropa melainkan ke kota B. Di sana ada kampus yang membutuhkan dosen pengganti dan aku mau melamar di sana. Aku sudah mengirimkan CV lewat email dan mereka menerimaku."


Bram mengernyitkan dahi, kenapa Regan bisa menbohonginya?


"Aku ingin menata kehidupanku lagi tapi bukan di sini. Aku belum bisa melupakan Sena."


Bram menatap sendu pada Regan, ia memeluk putranya itu. Mereka hanya bisa saling menguatkan karena tidak memiliki keluarga lain. Bapak dan anak itu mengalami musibah yang memilukan hati.


"Papa sendiri di sini. Jangan pindah Regan! Universitas di kota ini juga banyak. Papa bisa membantumu mencari pekerjaan lagi," ucap Bram.


"Aku takut bertemu Sena, Pah," jawab Regan.


Bram menepuk bahu Regan, ia akan mendukung apa yang akan Regan lakukan. Setelah itu, Bram menyuruh Regan untuk merapikan diri supaya terlihat lebih segar karena akan bertemu dengan direksi penting perusahaan tempat beliau bekerja.


"Iya, Pah. Aku akan merapikan diri, potong rambut, mencukur bulu-bulu halus ini juga," jawab Regan sambil tersenyum.


Tiba-tiba pintu rumah terketuk, Bram lekas membukanya yang ternyata adalah seorang wanita cantik tetangga baru sebelah rumahnya. Wanita itu tersenyum pada Bram sambil malu-malu.


"Om, aku ada sedikit makanan. Tolong diterima ya!"


Perempuan yang diperkirakan seumuran Regan itu menyerahkan rantang pada Bram lalu pergi begitu saja. Sesekali perempuan itu melirik ekspresi Bram.

__ADS_1


Bram masuk sambil bingung, ia meletakan rantang yang ke tiga dari orang yang sama tersebut diatas meja.


"Re, sepertinya tetangga sebelah yang baru menyukaimu," ucap Bram.


Regan yang sedang mencukur brewok halusnya di depan kaca tersenyum kecil. "Dia menyukai Papa."


Bram langsung tersedak saat mendengar ucapan Regan. Suka dengannya? Pria duda 50 tahun lebih disukai wanita muda seumuran putranya.


"Tolong jangan mengatakan yang aneh-aneh, Regan!"


"Bukan aneh-aneh. Wanita yang bernama Raisa itu menyukai Papa. Dia bilang padaku saat itu."


Bram berdecih, ia langsung masuk ke kamar tanpa memperdulikan Regan tersenyum geli. Regan akan mendukung apapun jika memang Bram membuka hatinya lagi pada perempuan.


Air mata Bram menetes, jujur saja dia tak mampu hidup tanpa sang istri tapi tujuannya sekarang ini membuat Regan tidak merasa kesepian.


***


Sena sudah mandi dan wangi, dia mengenakan dress selutut berwarna ungu muda yang menggoda. Dia masih berada di hotel bersama Devan sedangkan Devan sedang mengenakan dasinya dengan rapi, Sena yang melihatnya lekas membantunya.


Devan menatap wajah sang istri dengan baik, ia sangat kagum dengan kecantikan Sena yang paripurna tak ada yang menandingi.


"Sudah selesai," ucap Sena sambil merapikan dasi supaya tidak miring.

__ADS_1


Devan masih menatap Sena, Sena segera mundur namun pria itu malah menarik tubuhnya dan mencium bibirnya. Sena sangat terkejut namun dia tak menolak ciuman itu. Mereka berciuman dengan mesra. Menikmati setiap lekukan lidah yang nikmat dan saling bertarung menentukan siapa pemenangnya. Tangan Devan mulai menyibak rok dan menjelajahinya namun Sena langsung menolaknya karena pasti ujung-ujung minta diperpanjang di atas ranjang.


"Ssstt... kita mau berangkat."


Devan tersenyum kecil saat Sena mendorongnya dan membuat bibir mereka yang semula bertaut kini terlepas begitu saja meninggalkan cairan yang masih menempel di sekeliling bibir.


Devan mengelapnya termasuk juga milik Sena.


"Baiklah, nanti malam kita bisa melanjutkannya," ucap Devan.


Sena mengangguk, mereka kini dengan cepat berangkat ke salah satu restoran yang terdapat danau buatannya. Rapat direksi sesekali memang diadakan bersama makan malam seperti ini sehingga mereka lebih leluasa untuk mengobrol.


Di dalam mobil, tangan mereka masih berpegangan. Sungguh, mereka menikmati pernikahan ini.


Badan Sena masih sedikit panas, namun dia yang memaksa untuk ikut karena tidak enak sebagai istri dari pemimpin perusahaan tidak hadir menemani sang suami.


"Rambutku mulai rusak karna sering dicatok," ucap Sena mengeluh.


"Perawatan di salon terbaik. Aku tahu di mana salon yang bagus."


"Salon Keke juga bagus namun rambutku saja yang terlalu jelek."


Devan mengusap rambut sang istri dengan lembut lalu menciuminya karena harum sampo yang menggoda.

__ADS_1


"Apapun penampilanmu, aku selalu suka. Jadi jangan merasa minder bahkan kau tak berdandan sedikitpun di depanku. Aku suka wajahmu yang ayu dan lugu, itu menandakan kau adalah perempuan yang anggun."


__ADS_2