
"Aku akan menjaga Sena dan tidak akan menyakitinya. Kau jangan khawatir!" ucap Devan.
Devan berdiri lalu menyodorkan tangannya untuk membantu Regan berdiri. Regan menerima tangannya, ia pun ikut berdiri. Sena lalu menelpon Bram untuk menjemput Regan. Regan menurut apa kata mereka untuk menunggu di sini. Devan menyuruh Sena untuk berangkat ke kantor dengan Anjas duluan, sedangkan Devan akan menemani Regan sampai Bram datang.
"Yasudah, aku berangkat dulu. Nanti kunci pintu ya, Kak Dev."
'Iya, sampai jumpa di kantor."
Biasanya Devan akan mengecup kening Sena namun sepertinya ia tak melakukannya karena menjaga perasaan Regan. Regan masih depresi dan kemungkinan akan kambuh lagi jika melihat keromantisan mereka.
Devan dan Regan duduk di teras, ia melihat kaki Regan yang tidak memakai alas kaki. Tak tega, Devan memberikan sepatu pantofelnya untuk Regan.
"Pakailah! Nanti kakimu kotor," ucap Devan.
"Tidak, kakiku sudah terlanjur kotor," jawab Regan.
Devan masuk ke dalam kamar Sena lalu mencari sandal yang bisa dipakai Regan. Dia menemukan sandalnya yang sempat tertinggal beberapa hari yang lalu. Devan lekas memberikannya pada Devan.
"Pakailah! Ini sandalku."
"Kau menginap di sini?"
Devan menggelengkan kepalanya. Dia menjelaskan jika waktu itu hujan, Devan tak ingin membuat sepatu Sena basah lalu memberinya sandal yang ada di dalam mobilnya namun Devan lupa membawa pulang kembali.
Devan melirik jam tangannya, ia sudah terlambat datang ke kantor sementara Bram belum datang. Regan memintanya untuk meninggalkannya saja sementara ia akan menunggu di sini. Devan tidak mau karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan Regan.
"Aku ingin sembuh, aku ingin melanjutkan S3 seperti yang kita impikan dulu," ucap Regan.
Devan menepuk bahu Regan sambil tersenyum kecil. "Aku bangga denganmu. Diatara kita berempat yang mencapai S2 hanya dirimu. Aku pun bahkan sudah tidak ada keinginan lagi untuk melanjutkannya. Regan, kau itu sangat pandai. IQ-mu diatas rata-rata. Kau jangan menyerah karena cinta. Cinta itu memang membutakan."
Regan menutup wajah dengan satu tangannya seolah sedang menangis bahkan dia benar-benar menangis. Masa lalunya dulu sangat kelam bahkan mempermainkan perasaan 3 wanita sekaligus namun yang terparah adalah Sena. Jadi, sebenarnya siapa yang dicintai Regan? Jawabannya adalah Sena. Namun semua itu sudah terlambat, Sena sudah memilih Devan.
__ADS_1
"Aku akan datang ke pernikahan kalian walau itu menyakitkan," ucap Regan.
"Tak perlu memaksakan diri. Kau tak perlu datang jika membuatmu terluka," jawab Devan.
Regan menggelengkan kepalanya, ia berjanji akan datang tepat waktu bahkan akan menjadi orang yang paling bahagia di sana. Devan memeluk mantan sahabatnya itu, ia harap bisa berteman lagi dengan Regan walau tak mungkin. Devan trauma akan pertemanan, ia takut dikhianati lagi.
Bram datang, ia sangat khawatir dengan keadaan putranya. Pihak rumah sakit sudah menelponnya mengenai Regan yang kabur subuh tadi. Bram langsung memeluk Regan, Regan adalah keluarga satu-satunya yang tersiksa.
"Terima kasih, Pak Devan."
"Tak masalah. Kurasa Regan hanya butuh rehabilitasi di rumah saja."
Bram menatap Regan, apapun itu yang membuat putranya senang akan dilakukan oleh Bram. Bram sangat sayang dengan Regan, pria yang berusia 35 tahun yang kini menjelma menjadi bocah.
"Papa, aku ingin makan sushi," ucap Regan merengek seperti anak kecil.
"Iya, nanti Papa akan belikan. Kita ke rumah sakit dulu ya. Kita pamitan dengan mereka dan mencari suster yang akan menjagamu," jawab Bram.
Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku sudah membuat Regan seperti ini. Dia temanku berubah menjadi seorang yang depresi. Aku tidak tega melihatnya namun aku sudah terlanjur menaruh hati pada Sena. Apakah aku jahat?
"Devan?"
Devan terkejut Regan memanggilnya. Mereka bertatapan lalu Regan tersenyum ke arahnya.
"Nanti malam main ke rumah ya? Ajak anakmu juga. Kita makan sushi bersama."
Devan mengangguk. Dia sangat senang sekali jika kini mereka mulai dekat. Akankah pertemanan mereka akan kembali lagi seperti dulu?
***
Di kantor.
__ADS_1
Ini adalah minggu-minggu terakhir Sena bekerja di kantor. Akhir bulan dia sudah menjadi Nyonya Devan dan menjadi ibu sambung untuk Kia. Sena bekerja sambil makan bakso aci yang ia beli di rekan kerjanya. Sena membawa mangkuk sendiri dari rumah lalu menyeduhnya menggunakan air panas.
Setelah matang, ia memakannya. Beginilah jika tidak ada Devan, ia bisa makan di dalam ruangan. Haha... bukan Sena namanya yang tidak membuat ulah.
"Pagi..."
"Uhuk..." Sena terbatuk saat Devan tiba-tiba masuk ke ruangannya.
Devan mendekatinya lalu menatap mangkuk yang ada di atas meja.
"Maaf, Pak. Aku laper."
Devan tersenyum lalu tiba-tiba memagut bibir Sena. Sena pun terlonjak kaget namun saat berusaha melepaskan ciumannya malah Devan memperdalam pagutannya.
"Mmmhh.."
Devan melepaskan pagutannya, ia melihat wajah Sena yang bersemu merah.
"Pak, ini kantor."
"Iya, siapa yang bilang jika ini adalah sekolahan?"
Sena cemberut membuat Devan semakin gemas. Pria itu lalu memberikan undangan pada Sena. Sena mendapat 50 undangan untuk teman terdekatnya. Ya, mereka akan mengadakan resepsi kecil-kecilan saja bahkan bagi Sena, 50 orang terlalu banyak.
"Kita mulai sebar undangan sekarang?" tanya Sena.
"Iya, biar mereka tidak kaget."
"Teman kantor juga?"
Devan menggelengkan kepalanya. "Orang kantor biar aku saja yang memberikan. Mereka bawahanku, kau undang saja teman-temanmu."
__ADS_1
Teman? Batin Sena.