
Devan mengajak Regan untuk makan bersama. Sena membiarkan mereka bersama untuk menikmati waktu berdua. Dia juga bersyukur karena Devan siang ini tak meminta ronde-ronde selanjutnya.
Devan memesan berbagai makanan dan minuman. Dia memperlakukan Regan dengan baik bahkan tak dendam sedikitpun dengannya.
"Nanti pulangmu akan aku suruh Anjas mengantarmu."
Regan mengangguk, dia sangat berterima kasih pada Devan. Mereka menghabiskan waktu bersama-sama sambil bercerita masa lalu. Tak ada keraguan bagi Regan, ia jelas-jelas menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam rumah tangganya dulu bahkan penyesalan saat ini menggerogoti jiwanya.
"Re, kau tak perlu sampai segitunya. Niatmu sudah mau meminta maaf sudah sangat bagus."
"Tapi aku seperti orang yang sangat brengsek karena sudah menyakiti banyak wanita."
"Semuanya sudah berlalu dan kini aku hanya mengenal Regan yang sudah berubah dan mengakui kesalahannya."
Regan tersenyum, ia akan mengambil minumannya namun malah matanya mendadak berkunang sehingga membuat tangannya menyenggol gelas yang akan ia ambil.
Pyaaar...
Devan sangat terkejut, ia melihat Regan memegangi kepalanya. Dia lekas menanyakan keadaan Devan.
"Ada apa?" tanya Devan.
"Tidak apa-apa, hanya mendadak pusing saja."
Devan mengajaknya untuk memeriksakan diri ke dokter namun Regan tidak mau, ia beralasan hanya pusing dan tidak ada masalah besar. Devan tentu saja tidak percaya, ia melihat gelagat Regan tidak seperti biasanya.
"Benar jika kau hanya depresi saja dan tidak ada penyakit lain?" tanya Devan.
"Iya, jangan khawatirkan aku!" jawab Regan.
Makanan pun datang, mereka mulai melahapnya. Devan memperhatikan saat Regan memegang sendok yang nampak bergetar. Apakah Regan yakin jika akan ke Eropa dengan kondisi seperti ini? Sepertinya Regan kurang sehat bahkan dia terlihat kurus dari biasanya.
"Van, fokus makanlah! Aku tidak apa-apa. Maaf malah membuatmu sangat khawatir karena melihat kondisiku yang sekarang namun aku tidak apa-apa," ucap Regan.
"Baiklah."
Mereka melanjutkan makannya, terlihat tangan Regan masih bergetar membuat Devan semakin khawatir. Suapan demi suapan sampis habis tak tersisa namun Regan merasa mual. Dia meminta ke kamar mandi lalu memuntahkan makanannya. Akhir-akhir ini dia selalu makan sampai habis namun pada akhirnya ia muntahkan juga. Perutnya seolah menolak untuk diberi makan.
Hueeek... hueeek...
__ADS_1
Setelah selesai muntah, ia lekas keluar dari kamar mandi namun dia sangat terkejut saat Sena sudah ada di depan pintu.
"Kak Regan kenapa?"
"Sena, kenapa kau ada di kamar mandi pria?"
Sena menarik tangan Regan, ia membawanya ke Devan. Sena menyuruh Devan untuk mengantarkan pulang karena kondisi Regan terlihat kurang sehat. Regan menolak, ia bisa pulang sendiri dan tidak mau merepotkan pengantin baru tersebut. Devan tetap memaksa dan menyuruh sang asisten untuk mengantar Regan, Regan tak bisa menolaknya. Dia lantas pulang dengan diantar oleh Anjas.
Sena dan Devan kembali ke kamar hotel mereka, Sena masih saja memikirkan Regan yang bergelagat aneh bahkan Devan sendiri pun menyadarinya. Sambil duduk di sofa ia termenung, ia sudah sangat bersalah membuat Regan seperti ini apalagi pria itu sudah banyak berubah.
"Sayang, mau jus jeruk?" tanya Devan.
Sena mengangguk, dia memberikan jus jeruk pada Sena. Sena meminumnya sedikit demi sedikit sambil melamun. "Kenapa aku merasa seolah menjadi pelaku? Aku membuat Kak Re menjadi seperti itu padahal yang salah adalah dia. Jika dulu aku memberinya kesempatan ketiga maka mungkin saja dia akan melakukan kesalahan yang sama,"
"Apa yang kau lakukan sudah benar, biarkan dia merenungi kesalahannya. Dia sebenarnya pria yang baik yang mau mengakui kesalahannya. Zara, teman kami dulu juga baru saja mengirim pesan jika Regan baru saja menemuinya untuk meminta maaf namun Zara sudah sangat sakit hati karena diperlakukan seperti itu."
Air mata Sena menetes, jemari Devan lekas mengusapnya. Sena memang orang yang baik, dia selalu merasa kasian dengan pelaku yang sudah bertobat. Devan mengambil gelas yang digenggam Sena, ia juga menarik tubuh Sena ke dalam pangkuannya. Tangan pria 36 tahun itu mengusap perut Sena dengan lembut.
"Aku akan segera hamil," ucap Sena.
"Semoga."
"Kia tidak mencarimu?" tanya Sena,
"Dia tahu Papanya sedang sibuk dengan istri barunya." Devan sudah mulai menyerang dengan sentuhan panas.
Sena merasakan jika detak jantung Devan seolah bergemuruh hebat. Devan sangat kuat dalam permainan ranjang namun kenapa mantan istrinya dulu menyebut jika Devan sang loyo? Bibi Devan menyentuh seluruh dari wajah Sena dan tidak ada yang terlewatkan. Sena sudah tidak tahan lagi dan sedikit mengeluarkan suara gejolak dari bibirnya.
"Mau lagi?" tanya Devan.
Sena mengangguk dan mereka melakukannya lagi entah ke berapa kali.
**
Malam hari, Devan sudah menggunakan pakaian rapinya. Dia akan mengajak Sena makan malam romantis. Lilin, bunga dan sebagainya sudah ada di atas meja. Sena tak kunjung keluar dari kamar mandi dan sekalinya keluar dalam keadaan panik.
"Kak Devan?" teriak Sena.
"Ada apa, Sayang?" tanya Devan.
__ADS_1
"Aku menstruasi."
Devan mengernyitkan dahi, hanya menstruasi? Dia tertawa kecil, ia pikir Sena kenapa-napa. Sena mengerucutkan bibirnya. Dia mencubit pinggang sang suami membuat Devan sangat kesakitan.
"Ih... kesel. Nanti malam sampai beberapa hari ke depan kita tidak bisa fokus membuat dedek bayi," ucap Sena.
Devan semakin tertawa, sepertinya Sena sudah merasakan kecanduan karena disentuhnya. Devan menarik tubuhnya lalu menciumi wajahnya. Sangat gemas sekali wanita yang umurnya 6 tahun di bawahnya itu.
"Masih ada hari-hari berikutnya jadi jangan khawatir!"
Devan mengangkat tubuh sang istri menuju ke balkon. Dia mendudukan Sena di sana, pemadangan malam hari diatas sana sangat bagus sekali seolah memanjakan mata bagi pasangan itu. Devan menyalakan semua lilin lalu memberikan hadiah untuk Sena, Devan memberikan saham untuk Sena sebesar 10 persen.
"Apa ini?"
"Ini untuk investasimu. Sewaktu-waktu kau bisa menjualnya dan membelikan saham yang lebih besar lagi."
Devan menuangkan segelas anggur merah untuk mereka minum, dia menjelaskan jika sewaktu-waktu bisa bergeser jabatan karena anak dari rekan sang Papa akan kembali. Devan juga sebenarnya sudah lelah untuk mengurus perusahaan tersebut namun sang Papa meminta agar sedikit bersabar karena sebentar lagi rekan sang Papa akan menjual sebagian saham dan beliau akan membelinya supaya perusahaan itu bisa diambil alih oleh keluarganya. Sena menolaknya dengan halus, dia tak paham mengenai hal tersebut. Dia mempercayakan semuanya pada Devan.
"Aku hanya ingin fokus dengan rumah tangga saja dan mengurus anak-anak kita nantinya," jelas Sena.
Di rumah Regan.
Regan sedang membaca buku untuk mengasah daya ingatnya lagi. Baru saja suster pulang setelah memberinya obat untuk Regan.
"Pak Regan...."
Di luar terdengar suara orang banyak yang memanggil namanya. Regan lekas membuka pintu dan terkejut saat anak-anak didiknya menemuinya.
"Kenapa kalian ke sini?"
Mereka langsung memeluk Regan entah itu pria atau wanita. Mereka sudah tahu jika Regan akan pergi ke Eropa.
"Jangan pergilah, Pak! Nanti kami tidak ada yang memarahi lagi, tugas kami juga tidak ada yang mencoret-coret lagi," ucap salah satu dari mereka.
"Iya, Pak. Balik lagi ngajar ke kampus ya, Pak Regan? Kami rindu."
Salah satu laki-laki menggunakan kacamata hanya bisa menunduk sedih, Regan diam-diam sering membantunya. Regan selalu memberikan uang jajan untuknya karena anak itu adalah yatim piatu. Bahkan semester lalu Regan juga membantu membayarkan uang kuliah pada anak itu.
"Tanpa saya pun kalian masih bisa kuliah dengan baik apalagi kini sudah ada pengganti saya 'kan?" tanya Regan.
__ADS_1
"Enggak, Pak. Pak Regan tetap yang terbaik."