
Pesta sudah selesai, Sena menyimpan makanan di dalam pendingin. Sebagian memang sudah dibawa oleh mereka yang mau membawanya. Devan sangat sedih tatkala Kia tidak datang, padahal dia sudah membelikan kalung yang sempat diinginkan Kia.
"Mas, mungkin Kia sedang jalan-jalan dengan Papa kandungnya. Mereka baru saja bertemu kan?"
"Mungkin saja, saat orang suruhanku datang ke apartemen Alden, tidak ada orang sama sekali."
Devan mengecup pipi Sena lalu mengelus pipinya, dia sangat berterima kasih hari ini karena berkat Sena acara makan-makan pun berjalan dengan lancar. Sena berpamitan ke kamar karena harus menunggui putrinya yang terlelap sejak pagi sedangkan Devan berbincang dengan orang tuanya di ruang tamu.
"Papa dan Mama menginap di sini saja," pinta Devan sambil duduk disebelah mereka.
"Kami sebentar lagi akan pulang karena pagi-pagi sekali kami harus ke luar kota untuk berjumpa dengan teman."
Devan tersenyum kecil, ia sekali lagi sangat berterima kasih dengan mereka yang sudah membantu mempersiapkan acara ini. Berselang menit kemudian mereka pulang ke rumah dan Devan tak lupa mengunci semua pintu dan jendela. Dia masuk ke kamarnya, ia melihat Sena sudah terlelap diambang mimpi. Wajah cantik dan tulus Sena tergambar dengan jelas. Devan sangat beruntung sekali telah mendapatkannya.
"Mas, tidurlah!"
"Loh, belum tidur?" tanya Devan.
Sena mengucek matanya, dia belum bisa tidur nyeyak jika Devan belum tidur juga.
"Sesayang apa dengan Kia?" tanya Sena sambil menepuk ranjang seolah mengajak Devan untuk duduk di sebelahnya.
"Tentunya sangat sayang sekali, aku tidak bisa melupakannya begitu saja. Dia anak pertamaku yang aku rawat dari istri pertamaku. Walau aku tahu jika dia bukan anak kandungku."
Sena tersenyum kecil, dia menghirup bau segar dari aroma Devan. Dia sangat senang sekali mempunyai suami yang penyayang seperti Devan. Dengan anak angkat saja sangat sayang apalagi dengan anak kandung? Devan berdiri lalu mengajak Sena untuk berdansa malam. Sena tersenyum kecil, sifat romantis Devan tak akan pernah hilang.
Devan menyetel lagu dari ponselnya dan mulai berdansa dengan alunan lagu romantis yang berjudul Bukti dari Last Child.
Memenangkan hatiku
Bukanlah satu hal yang mudah
Kau berhasil membuat
Ku tak bisa hidup tanpamu
Menjaga cinta itu
Bukanlah satu hal yang mudah
Namun sedetik pun tak pernah kau
Berpaling dariku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
__ADS_1
Kaulah bentuk terindah
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu
Kau wanita terhebat bagiku
Meruntuhkan egoku
Bukanlah satu hal yang mudah
Dengan kasih lembut kau pecahkan
Kerasnya hatiku
Beruntungnya aku
Dimiliki kamu (ku ingin engkau tahu)
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah (kaulah bentuk terindah)
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu (mengusaikan cantikmu)
Kau wanita terhebat bagiku
Semua yang jadi bukti tersimpan di dalam palung hati
Semua yang jadi bukti tersimpan di dalam palung hati
Kamu adalah bukti
Dari cantiknya paras dan hati
Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi
Tentang terang dan gelapnya hidup ini
Kaulah bentuk terindah (kaulah bentuk terindah)
Dari baiknya Tuhan padaku
Waktu tak mengusaikan cantikmu (mengusaikan cantikmu)
Kau wanita terhebat bagiku
__ADS_1
Lagu itu sangat mewakili perasaan Devan saat mendapatkan Sena. Rasa bersyukurnya sangat tinggi sekali. Setelah lagu itu habis, Devan memeluk Sena dengan erat. Sena adalah wanita yang lembut tidak seperti Winda yang selalu memakinya jika dia meminta berdansa. Winda mengatakan jika Devan sangat aneh dan tidak normal ketika meminta berdansa. Terkadang juga Devan berdansa dengan Kia untuk menenangkan suasana hatinya.
"Mas, tidur yuk!"
"Oke, terima kasih ratuku."
**
Keesokan harinya.
Devan sudah harus bekerja di pagi ini. Dia memakan sisa makanannya yang kemarin, Sena nampaknya tidak berselera makan dan sesekali mual.
"Sayang, jahenya diminum dulu biar mengurangi rasa mualnya," ucap Devan.
"Iya, Mas. Nanti dulu, aku mau menyuapi Serafina."
Devan mengangguk, dia mencium pipi Serafina serta Sena dan berpamitan untuk berangkat bekerja. Setelah Devan berangkat bekerja, Sena memandikan balita gembulnya. Cukup susah untuk memandikannya karena Sera tidak bisa duduk.
"Setelah ini kita buka kado ya? Sera banyak sekali mendapat kado. Nanti kita buka satu persatu," ucap Sena.
Sena memandikan dengan hati-hati, dia tak ingin putrinya terluka sedikitpun. Sena pun malah teringat dengan sang bapak yang tadi malam tidak bisa hadir di acaranya. Setelah ini Sena akan menelponnya dan menanyakan kenapa tidak hadir tanpa sepatah kata pun. Semenjak menikah dengan Devan, Bapak seolah menjauhi Sena tanpa alasan yang jelas. Sena pun mewajarkan hal itu karena sang bapak sedang sibuk dibengkel. Berkat Devan juga, bengkel milik bapaknya menjadi ramai sekali. Devan mempromosikan bengkel milik bapak mertuanya secara besar-besaran.
Setelah memandikan Serafina, Sena lekas memakaikannya baju dan hari ini akan ada dokter pribadi putrinya untuk memeriksanya.
"Sudah makan, sudah mandi saatnya buka kado," ucap Sena.
Sena menaruh Serafina di atas ranjang yang penuh dengan semua kado, padahal Devan tak menyuruh mereka untuk membawa kado namun mereka sangat berbaik hati dengan Serafina.
"Wah, ini kado dari Oma Sofia, apa ya isinya?"
Sena membukanya yang ternyata adalah beberapa baju balita yang sangat lucu dan tentunya bermerk.
"Wah, baju baru. Ini bagus sekali. Emh... lalu yang ini dari Re.... Ah.. Paman Regan."
Sena membukanya dengan hati-hati, dia terdiam sejenak melihat benda tersebut. Sebuah foto Regan dan Sena yang kala itu melakukan study tour ke Bali saat Sena masih kuliah. Sena lekas menyimpannya dan dia melihat dalam kardus itu masih ada sesuatu yaitu sebuah boneka kuda poni serta boneka angry bird. Sena tersenyum kecil.
"Yeeee, Sera dapat boneka lucu. Suka boneka?"
Sera tak merespon sama sekali membuat Sena sangat sedih.
"Sera, ini Mama. Coba bilang Mama!"
Tak ada respon. Sena mencoba menelpon Bram untuk bertanya sesuatu. Untung saja Bram langsung menjawabnya.
"Ada apa, Sena?" tanya Bram.
"Pah, aku mau tanya. Balita mulai berbicara itu umur berapa bulan?"
"Oh, setiap anak berbeda. Ada yang satu tahun baru bisa berbicara bahkan anak rekan Papa baru bisa berbicara lancar umur 3 tahun."
Sena baru paham. "Jadi Serafina masih wajar belum bisa merespon?"
"Dia umur 8 bulan biasanya mengoceh tidak jelas, coba lihat youtube saja."
"Oke, terima kasih, Pah. Papa jadi memintaku untuk ke rumah Kak Raisa dan membujuk Papanya?"
__ADS_1
"Iya, aku butuh bantuanmu. Arya si brengsek itu lebih mudah dibujuk jika dengan perempuan. Bujuklah si Arya supaya merestui Papa dengan Raisa. Jika kau berhasil membujuknya maka Papa akan memberikanmu apa yang kau mau," ucap Bram.