
#Sudah proses revisi, ingat jika Devan dan Sena tidak melakukan hal terlarang. Jadi sudah jelas jika bayi yang dikandungan Sena adalah anak dari Regan namun di dalam pikiran Regan tetap menganggap anak Devan karena menurut Regan, mereka sempat bermain dibelakangnya. Jadi tak perlu baca ulang lagi.#
*****
Kos Sena.
Keram diperutnya sudah hilang, ia juga sudah memeriksakan diri di dokter kandungan dan tidak ada masalah dalam janinnya. Setelah dari salon dan dokter kandungan, Sena memutuskan untuk pulang ke tempat kosnya.
Waktu sudah menunjukan pukul 5 sore, Sena lekas mandi menggunakan air hangat. Badannya sudah tidak tegang lagi karena baru saja mendapatkan creambath. Tubuhnya menjadi rileks seolah beban beratnya luntur, setelah 15 belas menit mandi, ia segera keluar dan memakai pakaiannya.
Tidak ada aktivitas setelah ini karena besok ia harus kembali bekerja lagi. Dia merasa tidak enak dengan Devan karena baru menjabat menjadi sekertaris namun sudah membolos beberapa hari. Sena kini memilih untuk menonton TV, acara TV membuatnya mengalihkan sebentar beban pikirannya. Tangan kanannya memindah siaran TV jika dirasa membosankan.
Klik...
Klik...
Klik...
Sena terhenti saat melihat seseorang yang dia kenal berada di acara televisi, pria itu menjawab pertanyaan demi pertanyaan dari sang pembawa acara. Kedua lesung pipinya terlihat saat dia tersenyum.
"Pak Devan, bagaimana cara anda menjadi pebisbis yang sukses? Mungkin anak muda atau orang lain yang akan membuka bisnis bisa terinspirasi anda."
Devan tersenyum lagi membuat siapapun akan oleng melihatnya. "Kuncinya adalah usaha dan niat saja. Yakin supaya bisa meraihnya dan kunci utama juga adalah orang dalam."
Orang-orang yang ada di video seolah tercengang mendengar ucapan Devan yang mengatakan kunci utama adalah orang dalam.
"Maksud Pak Devan apa?" tanya pembawa acara juga bingung.
"Haha... maksud saya orang dalam adalah orang yang bisa membuat kita bersemangat dalam setiap usaha kita, dia yang menemani kita dari awal sampai akhir," jelas Devan.
Semua yang ada di studio tepuk tangan sambil tertawa. Rupanya Devan tipe orang yang romantis dengan pasangan. Sena tersenyum kecil, Devan pasti membicarakan Winda, tentu saja Sena sangat meyakini hal itu bawasannya media seolah tidak tahu mengenai perselingkuhan Winda dan menganggap Winda masih menjadi istri dari Devan.
__ADS_1
"Namun terkadang semua itu hanya rencana saja, dia menemani di awal tapi tak bertahan sampai akhir," ucap Devan.
Sena memandang wajah Devan yang berada di televisi seakan pilu mendengarnya. Dia merasa tersindir karena suaminya tidak ada sampai akhir. Mereka berpisah karena alasan orang ketiga bahkan keempat. Begitu pilu sekali jika dibayangkan. Sena harus banyak belajar jika menjalin rumah tangga lagi, dia tak mau terjebak di lubang yang sama.
"Apakah Pak Devan baik-baik saja?" tanya pembawa acara.
"Ya, saya baik-baik saja dan sudah menemukan seseorang yang akan menemani saya sampai akhir," jawab Devan.
Deg!!
Sena lalu mematikan televisinya, entah mengapa dirinya takut jika Devan akan menyebut namanya. Sepertinya Sena hanya kepedean saja namun siapa tahu dugaannya benar. Seusai mematikan televisi, Sena memandang langit-langit kamarnya. Tangannya mengusap perutnya, ia tidak sabar untuk bertemu dengan bayinya.
Tok.. tok... tok...
Pintu kamar kosnya terbuka, ia melihat Devan sudah berdiri di sana. Sena refleks menutup pintu serta menguncinya. Sena tidak ingin dekat dengan Devan dulu setelah diberi kritikan oleh sang Bapak.
"Sena, buka pintunya!"
"Pergilah! Pak Devan 'kan ada di TV, kenapa tiba-tiba ada di sini?"
Devan terus mengetuk pintu namun Sena tak membukanya, dia malah duduk bersandar di pintu seolah mengganjal pintu tersebut. Devan yang berada di luar pun heran kenapa Sena mendadak seperti ini.
Tok... tok... tok...
"Sena, keluarlah! Kenapa kau tiba-tiba tidak mau bertemu denganku?" tanya Devan.
"Pergilah! Kita tidak boleh dekat lagi. Kita bagaikan langit dan bumi. Tolong Pak Devan paham! Lagipula aku sedang hamil anak mantan suami, tak pantas terus-terusan dekat dengan Pak Devan," jawab Sena.
Devan rupanya tak menyerah, ia terus mengetuk pintu bahkan berselang detik kemudian ikut duduk membelakangi pintu. Mereka kini hanya terpisahkan pintu kos dan duduk saling memunggungi.
"Kau tahu Sena, hujan tak selamanya turun dan bisa menghasilkan pelangi jika sudah reda. Apa kau masih berharap pada mantan suamimu itu dan berharap ada pelangi kembali di rumah tangga kalian?" tanya Devan sambil melihat mentari yang mulai tenggelam.
__ADS_1
Sena tak membalas, ini bukan masalah Regan lagi melainkan Devan ikut terlibat. Devan memang sangat baik namun kebaikannya seolah seperti lebih dari teman.
"Oke, kau diam dan artinya masih berharap pada Regan." Devan lalu berdiri sambil memandang pintu yang masih tertutup. "Artinya tak ada kesempatan untukku maupun Kia."
Devan dengan mantab melangkah meninggalkan kos Sena. Dia masuk ke mobilnya dan masih menatap pintu kamar kos lalu berharap segera terbuka namun sayang, menunggu sampai 15 menit pun tak membuat Sena membuka pintunya. Devan meminta Anjas untuk melajukan mobilnya meninggalkan lokasi itu.
Di dalam kamar kos.
Sena kembali ke atas tempat tidurnya, ia mengambil selimut dan memakainya sampai dia atas kepalanya. Mungkin menjauhi Devan adalah cara yang terbaik untuk kelangsungan hidupnya. Tak mungkin Sena mau menempel pada pria lain padahal dirinya baru saja bercerai.
***
Regan menggenggam tangan sang mama, beliau belum diperkenankan pulang. Sedari tadi Intan menanyakan Maya namun Regan beralasan jika Maya berada di rumah. Mama terus membuat Regan untuk mempertahankan Maya karena wanita itu adalah wanita yang baik, Regan dan Bram tak menceritakan perihal Maya pada Intan karena bisa membuat jantung Intan kambuh lagi.
"Pah, Mama ingin segera gendong cucu," ucap Intan.
Bram mengangguk. "Segera. Kita akan memiliki cucu."
Regan memandang Papanya dengan heran, Regan mengira jika sang Papa masih berharap juga dengan Maya.
Bram menyuruh sang istri untuk istirahat lalu ia mengajak Regan untuk mengobrol di luar. Mereka duduk di kursi panjang sembari bersedekap memikirkan masalah masing-masing.
"Maksud Papa apa tentang segera akan memiliki cucu? Anak Maya bukan anakku, dia mengandung dengan rekan kerjaku," ucap Regan.
"Lalu Sena mengandung anak siapa jika bukan anakmu?" tanya Bram.
Regan menghela nafas panjang, rasa sakit hati menyeruak saat Regan mengetahui jika Sena sedang hamil dengan pria lain.
"Itu anak Devan, mereka bermain dibelakangku. Sena juga sudah tidak perawan saat malam pertama kami. Dia beralasan jika darah perawannya hilang saat jatuh naik sepeda dan membuatnya robek lalu mendapat jahitan di bagian intimnya. Semua itu hanya alasan saja, dia sudah tidur dengan Devan."
Bram tersenyum kecil sambil menepuk bahu Regan. "Apa Sena juga menyuruhmu masih tetap perjaka? Tidak 'kan?"
__ADS_1
DEG!!!
Regan merasa tersindir dengan ucapan sang Papa.