Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 82 : Adopsi


__ADS_3

Setelah menutup toko bunganya, Sena lekas pulang ke rumah menggunakan mobilnya. Devan memberinya mobil untuk transportasi pribadi Sena.


Kini Sena akan menuju ke sekolahan Kia. Dengan kecepatan sedang, ia menyetir sendiri.


Dalam perjalanan, bibir Sena bersiul mengikuti alunan lagu yang diputarnya. Inilah kehidupannya yang sangat damai setelah menikah dengan Devan.


Sesampainya di sana, Sena memarkirkan mobil tak jauh dari sekolahan. Seperti biasa ia akan menunggu Kia menghampirinya. Namun, setelah setengah jam gadis cantik itu tak kunjung datang membuat Sena cemas.


Sena mencoba menelpon wali kelasnya namun beliau mengatakan jika Kia sudah pulang satu jam yang lalu dijemput oleh mobil.


"Apa di jemput Mas Devan?" gumam Sena.


Sena lekas turun dari mobil, ia melihat sekelilingnya namun memang tak ada Kia di sana. Sena lantas memilih untuk pulang karena dia sangat mengantuk sekali.


Di sisi lain.


"Jadi kau Papa kandungku? Tolong jangan mengada! Papaku namanya Devan."


Alden, pria yang baru saja dari Los Angeles tersenyum kecil saat melihat putrinya sudah pandai membantah.


"Kau putriku. Devan hanya Papa sambungmu. Dia hanya memanfaatkanmu untuk menyakiti Mamamu."


Kia mendengus kecil. "Aku tak percaya."


Kia meminta diturunkan saja, ia tak mau mengikuti kehendak pria yang mengaku Papa kandungnya. Alden membawa Kia ke suatu tempat yang harusnya terjadi perseteruan yang seru. Dia akan menemui Devan di kantor lalu mengusirnya dari sana. Saham milik keluarga Devan anjlok dan kini keluarga Alden yang akan menguasai kantor itu.


Devan sedang mengerjakan pekerjaannya, mengecek satu persatu data yang harus diurus secepat mungkin. Sembari mengecek, ia melirik ponselnya yang terus bergetar yang ternyata dari Sena.


"Hallo, Sayang?"


"Ban ku bocor. Bisa panggil tukang bengkel? Aku lupa menyimpan nomornya."


"Baiklah, aku akan menelponkannya. Kau kirim alamatnya!"


Setelah menutup telponnya, ia kembali ke pekerjaannya sampai pintu di dobrak oleh Kia. Kia mengambil bantal sofa lalu melempar pada Devan. Untung saja Devan lekas menangkapnya.


"Kia, ada apa? Bukannya kau dengan Mama?" tanya Devan.


"Kau penipu besar! Aku benci denganmu. Aku ingin ikut Mama Winda saja," teriak Kia.


Winda datang dengan senyuman menyeringainya. Dia langsung mengelus kepala Kia, Kia memeluknya dengan erat.


"Aku ingin ikut Mama."


"Pasti."

__ADS_1


Devan masih tak paham akan situasinya sampai ia menyadari ada dalang dibalik semua ini yaitu Alden. Alden datang dengan angkuhnya, ia membawa beberapa keamanan untuk memindahkan barang-barangnya dan membuang barang Devan.


"Apa-apaan ini?" tanya Devan.


"Kau bukan pemimpin lagi di sini. Saham terbesar kini milik ayahku dan aku akan memimpin perusahaan ini," jawab Alden.


Devan masih terdiam membisu, ia menatap Kia yang enggan untuk melihatnya. Entah ucapan apa yang membuat Kia membenci Devan. Devan tak memperdulikan perusahaannya, ia hanya ingin Kia ikut bersamanya.


"Kia, ikut Papa ya."


"Kau bukan Papaku!"


Devan berjongkok di depan Kia sambil menggenggam tangannya. "Ya, aku memang bukan Papa kandungmu. Namun, siapa yang menjagamu sejak bayi? Siapa yang menggendongmu jika tidak bisa tidur? Siapa yang memberikanmu mainan baru setiap hari minggu?"


Kia mendorong Devan. "Papa palsu!"


Kia berlari keluar, Alden tersenyum picik. Dia merangkul Winda dan mencium bibirnya di depan Devan yang menatapnya datar.


"Winda, bukankah kau dengan pria bule itu? Kenapa sekarang dengan Alden lagi?" tanya Devan.


"Dia kere tapi lumayan juga karna tampan tapi kere ya tetap kere. Sama sepertimu, sudah kere dan mandul. Oh ya, istrimu itu belum hamil juga?"


Devan tersenyum kecil. Dia mengambil semua barang-barangnya lalu pergi dari sana sebelum kedua pasangan gila itu tambah membuatnya muak.


"Mas kok ke sini?" tanya Sena.


"Kita pulang naik mobilku saja."


Devan merangkulnya lalu membawa masuk ke mobil. Sena sangat heran, ia melihat mata Devan memerah. Sena mencari keberadaan Kia yang tak ada si mobil itu.


"Kia mana?"


"Dia tak akan bersama kita lagi. Alden kembali dan merebut jabatan dan juga Kia."


Sena mengusap bahunya, ia menyabarkan Devan dan menenangkannya. Mereka sama-sama rapuh dan saling menguatkan.


Sena melihat bunga lili putih yang belum sempat diberikan pada Kia.


"Mas, kita adopsi bayi yuk! Kita juga sudah satu tahun menikah."


"Kia bagaimana? Aku yang menjaganya sejak bayi. Aku sangat menyayanginya sampai dia sebesar ini tapi kini dia malah membenciku."


Sena terdiam, ia akan membujuk Kia untuk pulang. Walau bagaimanapun Kia hanyalah anak kecil yang gampang terpengaruh. Alden dan Winda pasti mengomporinya.


Devan tak mempedulikan perusahaan lagi, ia kini menuju ke panti asuhan. Mereka membawa banyak mainan dan makanan. Mereka memang sering datang ke tempat itu dan saat mereka datang anak-anak langsung menghambur memeluknya.

__ADS_1


"Om, Tante, kangen..."


"Kami juga rindu."


Sena membagikan makanan dan makanan untuk mereka. Mereka nampaknya senang sekali.


Ibu panti datang, Sena dan Devan mencium tangannya.


"Anak-anak selalu menanyakan kalian."


"Maaf, kami baru datang."


Ibu panti mengajak duduk mereka, mereka mengobrol ke sana ke mari. Devan juga penyumbang di panti asuhan ini sejak dulu, dia memang sangat suka anak kecil.


"Ibu, kedatangan kami di sini ingin mengadopsi bayi," ucap Devan.


"Bayi?"


Devan mengangguk.


"Kemarin ada 5 keluarga yang sudah mengadopsi bayi dari panti ini. Rata-rata usia 2 minggu - 1 bulan yang mereka adopsi."


"Semua bayi itu tak punya orang tua?" tanya Sena.


Ibu panti menggelengkan kepalanya, ia menjelaskan orang tuanya memang sengaja menitipkan ke panti asuhan dengan alasan ekonomi.


"Jadi tidak ada bayi yang tersisa lagi?" tanya Devan.


"Ada. Umur 8 bulan namun..." ucapan Ibu panti terhenti, ia menghela nafas berat seolah ada beban tersendiri. "Ayo ikut dengan ibu!"


Mereka masuk ke salah satu kamar. Di sana terdapat suster yang sedang mengganti popoknya. Bayi perempuan itu memiliki wajah kebulean dengan mata birunya, ia memandang kedatangan Devan dan Sena. Dia tersenyum kecil membuat Sena sangat gemas.


"Namanya Serafina, bayi berusia 8 bulan yang memiliki gangguan pada tulang belakangnya. Sampai umur 8 bulan ini dia hanya bisa berbaring dan belum bisa duduk bahkan divonis lumpuh oleh dokter."


Devan dan Sena mendekatinya, bayi bule itu mengulurkan tangan pada Sena. Sena menggenggamnya.


"Sudah banyak keluarga yang menolak untuk mengadopsinya."


Devan menyentuh bahu Sena, mereka bertatapan mata. Sena mengangguk pertanda mau.


"Ibu, kami ingin mengadopsinya," ucap Devan.


"Kalian yakin? Serafina akan terus berbaring sampai besar. Dia tak bisa berlarian seperti anak pada umumnya."


Devan menjawab dengan mantab. "Kami sangat yakin. Bagaimana kami akan dikaruniai seorang anak kandung jika kami saja pun pemilih? Semoga dengan hadirnya Serafina di keluarga kami bisa menjadi pelita hidup kami karena Askia kini sudah bertemu dengan Papa kandungnya sehingga sangat kecil untuk hidup dengan kami lagi."

__ADS_1


__ADS_2