Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 60 : Devan & Regan 3


__ADS_3

Sena keluar dari ruang penyidik, ia mendapat pertanyaan beberapa kali. Sena mengatakan jika Regan memang tak ada maksud untuk mendorong Sena. Semua itu memang murni kecelakaan bahkan Regan terlihat ingin menarik tangan Sena saat terjatuh.


Sena menghampiri Devan yang menunggu di ruang tunggu, mereka bisa pulang. Devan mengajak Sena untuk berunding tanggal terbaik untuk dilakukannya akad nikah dan juga akan dilakukan di kantor polisi mengingat Bapak dari Sena tidak bisa keluar dari sana.


Devan membuka pintu mobil, beberapa akhir ini memang ia sedikit meluangkan waktu untuk menemani Sena ke sana ke mari. Untung saja ada wakilnya yang bisa mengurus perusahaan selama sementara. Di dalam mobil, Sena merasa tubuhnya sangat lelah sekali, ia memejamkan mata dan membayangkan masa-masa sulit selama 2 tahun 2 bulan saat masih menikah dengan Regan.


Kala itu, Regan sedang mengecek tugas-tugas dari anak didiknya sampai tengah malam. Regan sudah kebiasaan begadang namun tetap bangun pagi-pagi,


Sena mencoba membuatkan kopi dan camilan untuk sang suami. Sena waktu itu hanya mengenakan baju tidur apa adanya dengan rambut keriwil yang dicepol tinggi.


Tok... tok... tok...


Sena masuk ke kamar Regan sambil melangkah dengan hati-hati, ia menaruh kopi itu di atas meja setelah itu berharap Regan menatapnya. Namun mata Sena melihat mainan anak kecil yang masih baru tergeletak di atas tempat tidur.


"Kak Re, apa itu?" tanya Sena.


Regan baru menyadari sang istri sudah masuk ke kamarnya. "Tolong bungkuskan mainan itu!"


Sena mengernyitkan dahi, Regan sudah menyodorinya kertas kado dengan motif kartun perempuan. Sena lekas mengambil mainan itu dan membungkus di atas lantai. Dia melakukannya dengan sangat rapi serta hati-hati, ia lalu sangat kepo sekali dengan hadiah itu mengingat Regan tidak memiliki keponakan perempuan.


"Kak Re, ini untuk siapa?" tanya Sena.


"Anak dari bos Papa ulang tahun dan kita diundang untuk datang," jawab Regan.


Sena tidak tahu jika anak dari bosnya sedang berulang tahun karena dulu Sena hanya karyawan biasa yang pasti tidak akan diundang. Regan menatap sekilas penampilan sang istri yang sangat dekil. Tak mungkin Regan membawa Sena ke acara tersebut mengingat banyak sekali orang penting di sana.


"Kau bisa berdandan?" tanya Regan.


"Berdandan? Sedikit," jawab Sena tidak yakin.


"Besok malam kita menghadiri acara ulang tahun dari bosmu. Aku ingin kau berdandan dan jangan dekil seperti ini," jelas Regan tanpa memandang Sena.


Sena berpikir sejenak, berdandan? Sena jarang sekali berdandan, ia bahkan hanya mengenakan bedak tipis dan lipstick saja jika berangkat bekerja. Regan menyodorkan sejumlah uang untuk Sena, ia menyuruh Sena untuk ke salon.

__ADS_1


"Ambillah!"


Sena dengan ragu mengambilnya, ke salon? Sena sama sekali tak pernah datang ke salon. Membayangkannya saja sudah bosan karena harus menunggu begitu lama.


"Jika sudah keluarlah!"


Sena terkejut, ia segera beranjak dari lantai lalu menyerahkan bungkusan kado yang sudah rapi. Regan menyuruh meletakan di atas meja setelah itu Sena keluar dari kamar Regan.


Malam besoknya...


Regan tercengang tatkala melihat Sena keluar dari salon, dia sangat cantik mengenakan gaun putih dengan renda di bawahnya. Rambut Sena juga dicatok membuatnya sangat cantik. Regan menggeleng-gelengkan kepala saat menatap Sena yang seolah berubah.


"Untuk apa meluruskan rambut? Rambutmu tetap jelek," ucap Regan.


Sena memegangi rambutnya, ia pun merasa sedih mendapat ejekan dari sang suami.


Regan masuk ke mobilnya sementara diikuti oleh Sena. Di dalam mobil Regan fokus menyetir mobil namun terkadang sesekali melirik Sena. Hari ini Sena memang sangat cantik tidak seperti biasanya yang begitu dekil tidak terawat. 


"Kadonya sudah dibawa?" tanya Sena.


Hanya itu yang dijawab Regan sekiranya malas menanggapi ucapan sang istri. Oh ya, tepat hari ini mereka sudah menikah selama 4 bulan. Bulan keempat ini memang tidak ada perubahan di rumah tangga mereka bahkan Regan masih sama seperti dulu yang cuek serta dingin tak berperasaan.  Regan tentunya tak ingin membuat Sena kepedean jika dia sering menanggapi ucapannya. 


"Di sana jangan membuat aku malu." 


"Baik, Kak." 


Sesampainya di tempat acara tersebut, Regan menggandeng Sena masuk ke dalam. Sena sempat terkejut namun ia tahu jika Regan tak ingin rekan-rekannya merasa aneh kalau mereka tak harmonis.


Sena mengenal beberapa orang karena pegawai penting di kantornya. Dia juga bertemu dengan Bram yang tentunya pasti diundang oleh Devan.


"Mama tidak ikut?" tanya Regan.


"Mama sakit kepala," jawab Bram.

__ADS_1


Regan mengangguk, ia lekas mendatangi si pemilik acara yaitu putra dari Devan. Sena memberikan kado itu pada Askia yang saat itu berumur 7 tahun. Askia sangat senang menerimanya, ia berterima kasih pada mereka.


Regan sama sekali tak menatap Devan, sama halnya dengan Devan. Dia tidak menggubris Regan.


"Regan, dia istrimu? Cantik sekali," tanya Winda.


"Biasa saja," jawab Regan.


Winda tersenyum kecil, Sena pun menjabat tangan Winda. Sena tahu jika Winda adalah istri dari atasannya.


Regan menghindari Devan dan lekas pergi dari sana sedangkan Winda masih asyik mengobrol dengan Sena. Devan mengikuti Regan sampai di teras hotel.


"Regan, terima kasih sudah datang," ucap Devan.


"Aku terpaksa datang karena tidak enak dengan Winda," jawab Regan.


Regan melirik sekilas Devan. Mereka dulu adalah sahabat namun kini seolah adalah musuh.


"Alden tidak datang?" tanya Regan.


"Akan kuusir jika dia datang," jawab Devan tak main-main.


Regan tersenyum kecil, mereka bertiga terjebak dalam lingkaran permusuhan. Satu sama lain memiliki dendam masing-masing hanya karena kesalahpahaman namun kasus Alden sudah tidak bisa dimaafkan oleh Devan karena sudah berani mengusik rumah tangganya.


Devan, Regan, Alden dulunya kuliah di universitas yang sama bahkan dengan jurusan yang sama sampai terjadilah suatu konflik yang memecahkan pertemanan mereka. Setelah lulus S1, mereka berpisah dan berpencar. Devan menjadi pemimpin dari perusahaan rintisan sang Papa. Regan melanjutkan S2 di Austria sedangkan Alden tak jelas apa yang dia lakukan.


Mereka bertiga dulunya sangat akrab bahkan sering bolos bersama untuk sekedar main game online namun lagi-lagi masalah wanita membuat mereka bertengkar bahkan sampai sekarang.


"Bagaimana dengan kabar Zara? Dia katanya sudah punya anak?" tanya Devan.


"Bukan urusanmu," jawab Regan.


Devan tersenyum kecil. Dia lalu melihat ke dalam ke arah Sena. Devan sudah tahu jika Sena adalah karyawan baru di perusahaannya.

__ADS_1


"Ku pikir kau akan menikah dengan Zara setelah kau memfitnahku seperi itu tapi istrimu juga tak kalah cantik dari Zara. Kau memang pandai memilih wanita," puji Devan.


Regan tersenyum kecut. "Ambillah sampah itu jika kau mau."


__ADS_2