
Devan mengernyitkan dahi tatkala mendengar ucapan dari Regan. Sampah? Apa maksud ucapan dari sampah? Regan lekas masuk ke dalam untuk menghampiri Sena. Sementara Devan tak mau memikirkan hal itu karena bukan urusannya.
Regan mengajak Sena untuk makan, Sena mengambilkan makanan untuk sang suami. Di depan orang lain mereka terlihat seperti pasangan pada umumnya namun ketika tidak ada orang lain, Regan tak akan pernah menganggap Sena.
"Kak Re mau kuenya juga?" tanya Sena.
"Nanti saja," jawab Regan.
Sena menyiapkan tisu untuk sang suami, ia juga memperhatikan wajah suaminya dengan seksama. Regan memang tampan jika dari dekat namun sepertinya pria itu risih ditatap oleh Sena.
"Kita memang dekat tapi untuk bertatapan wajah lebih baik dikurangi. Rasanya sesak sekali ketika melihat wajahmu."
Sena pun tak paham kenapa Regan bisa sangat membencinya namun Sena berpikir jika Regan sangat membencinya karena sewaktu kuliah ia sering membuat Regan kesal.
Sena menyuapkan es pada mulutnya namun tiba-tiba...
"Hueeeeek...." Sena seketika mual dan menjadi pusat perhatian di sana.
Regan pun bingung, ia lekas menaruh piringnya di atas meja lalu memandang wajah Sena dengan heran. Bram pun mendekati mereka dan mengira Sena sedang hamil.
"Sena hamil?" tanya Bram pada Regan.
"Hamil anak siapa?" Regan bingung.
Sena menggelengkan kepalanya lalu berusaha untuk berjalan keluar. Regan mengikutinya dan terlihat jelas ada rasa penasaran pada pria itu. Sena duduk di taman yang berada di halaman, perutnya tadi mual karena mencium aroma durian yang berada di es tersebut.
"Ada apa denganmu? Kau punya laki-laki lain?"
"Apa maksud Kak Re? Aku mual karena mencium bau durian."
"Mana ponselmu."
Sena mengernyitkan dahi seolah tak paham. Regan menggeledah tas Sena untuk mencari ponsel milik Sena dan ketika ketemu ia langsung mengecek isi dalam ponsel tersebut.
"Kau ternyata banyak memiliki kontak nomor pria. Yang mana simpananmu?"
"Apa maksud Kak Regan?"
Regan tak menjawab, ia memeriksa satu persatu nama yang ada di ponsel tersebut dan ia menemukan nama yang janggal yaitu Sweety. Regan mencoba menelpon ponsel tersebut namun ponsel miliknya malah berbunyi bahkan di ponsel Regan tertulis nama Iblis wanita.
"Kak Re menamai nomorku dengan itu?" tanya Sena sangat sedih.
"Lupakan! Oh ya, kita harus segera pulang. Aku lelah."
Sena menarik tangan Regan tatkala pria itu mau melangkah masuk ke dalam. Regan terhenti, ia menatap Sena yang menatapnya lekat.
"Kita sudah 4 bulan menikah namun tak ada perubahan mengenai hubungan ini. Apa maksud Kak Regan menikahiku namun tak mau menyentuhku?"
Regan melepaskan tangan Sena yang memegangi lengannya. "Karena aku tertarik denganmu."
__ADS_1
Regan lekas masuk meninggalkan Sena yang masih bertanya-tanya. Ada rasa kesal yang menjalar di perasaan Sena namun dia tak bisa melampiaskannya. Regan sosok suami yang misterius bahkan tak mungkin ia gapai semudah itu.
**
Keesokan harinya.
Di ruangan Devan.
Terdengar suara ketukan pintu, Devan menyuruhnya masuk ternyata adalah Sena. Sena tersenyum manis sambil membawa beberapa berkas dari Bram.
"Maaf, Pak. Saya di suruh mengantar berkas ini oleh Pak Bram."
Devan masih memperhatikan setiap langkah Sena namun pikirannya malah memikirkan ucapan Regan yang mengatai wanita itu sampah. Sena memiliki rambut panjang keriting dengan kulit yang tidak terlalu putih. Sena sudan dikategorikan wanita cantik menurut mata yang normal.
"Kau menantunya Pak Bram?" tanya Devan.
"Iya, Pak."
"Semoga betah bekerja di sini."
Sena tersenyum manis, ia membungkukkan badan pada untuk memberi hormat pada Devan lalu lekas keluar. Devan masih menggeleng-gelengkan kepalanya, wanita seramah Sena bisa dikatai sampah oleh suaminya sendiri.
Di sisi lain.
Regan merasa cemas karena anak Zara sedang demam tinggi. Dari kampus ia langsung menuju kontrakan Zara hanya untuk melihat keadaan bayi itu.
Sesampainya di sana, Regan melihat Zara sedang menenangkan anaknya dengan cara menimangnya.
"Regan, kau datang juga? Dia demam tinggi," jawab Zara.
Regan mengajak Zara masuk ke mobil dan menuju ke klinik terdekat. Bayi itu terus menangis membuat Zara semakin bingung.
Sesampainya di klinik, Regan menunggu di luar ruangan sementara Zara masuk bersama anaknya.
20 menit kemudian.
Zara keluar sendirian, Regan menghampirinya. Zara sangat sedih melihat bayinya sakit bahkan bidan pun menyarankan untuk dirujuk di rumah sakit.
"Dia terkena demam berdarah," ucap Zara lemas.
"Zara, kau cari kontrakan malah dekat got besar. Tak heran anakmu terkena demam berdarah. Lalu bagaimana?" tanya Regan.
Zara meneteskan air mata. "Aku tidak punya uang untuk biaya rumah sakit."
"Kemarin aku memberimu 2 juta uangnya mana?"
Zara menatap kesal pada Regan. "2 juta itu sedikit. Untuk bayar sewa rumah, popok, susu dan lain-lain saja masih kurang. Kau juga tidak mau menikahiku, tak apa menjadi istri kedua yang penting anakku punya ayah."
Regan menghela nafas panjang, ia pun juga tak punya uang karena baru saja dipinjam oleh Bram.
__ADS_1
"Gajianku juga masih lama. Jika pinjam Mama pun pasti dia bertanya untuk apa," ucap Regan sangat bingung.
Regan teringat dengan Sena, Sena baru saja dia beri uang belanja 5 juta dan Sena pasti punya uang lebih dari itu karena dia juga bekerja. Regan berdiri, ia mencoba mengirim pesan pada Sena.
Regan.
Sena, bisakah aku pinjam uang 5 juta?
Sena.
Untuk apa?
Regan.
Anak temanku sakit dan dia tidak punya uang. Uangku pun baru dipinjam Papa untuk beli tanah milik saudaranya.
Sena.
Sakit apa memangnya?
Regan.
Demam berdarah, dia masih bayi. Tolonglah, Sena! Kau juga akan menjadi seorang ibu suatu saat nanti. Dia masih bayi, apa kau tidak kasian?
Sena.
Bayi siapa itu? Teman Kakak yang mana?
Regan.
SENA, INI KEADAAN DARURAT. TOLONG JANGAN BANYAK TANYA!SEGERA TRANSFER KE REKENINGKU!!!!
Regan mendesah kesal tatkala mempunyai istri seperti Sena yang selalu banyak tanya. Beberapa menit kemudian, 5 juta masuk ke rekening Regan.
"Zara, ayo kita ke rumah sakit! Aku sudah ada uangnya."
"Katamu tidak ada uang?"
"Aku pinjam Sena."
Zara terdiam sejenak, ia merasa tak enak dengan Sena. Zara merasa wanita yang tak punya harga diri karena menjadi perusak rumah tangga orang lain, namun lagi-lagi Zara harus melakukan itu supaya dirinya dan bayinya tetap mendapat uang dari Regan.
Regan membawa mereka ke rumah sakit. Badan bayi itu sangat panas sekali, Zara sudah sangat sedih bahkan menangis.
"Setelah ini aku akan mencarikanmu rumah yang layak. Jangan tinggal di sana!"
"Re, aku gak enak dengan Sena. Dia istrimu."
"Mau bagaimana lagi? Kau mau hubungan kita berakhir? Lalu siapa yang akan membiayaimu dan anakmu. Pria yang harusnya bertanggung jawab dengan kalian saja tidak tahu ke mana," ucap Regan.
__ADS_1
"Re, tapi kau ada niat untuk menikahiku 'kan?"
Regan menghela nafas panjang. "Untuk saat ini tidak bisa. Maaf tapi aku akan tetap membiayai kalian."