
Setelah dari cafe, Devan tak langsung mengajak Sena pulang. Sena pun menjadi bingung, di dalam mobil sorot cahaya kendaraan yang berlawanan arah dengan mereka menerpa dan membias di wajah. Sena sesekali memandang pemandangan luar. Devan mengusap punggung Sena seolah memberinya kenyamanan. Pasangan itu benar-benar sedang di mabuk asmara.
"Aku ingin pulang."
"Nanti dulu, malam ini ada jadwal air mancur pelangi di jembatan dekat pusat kota."
Sena mengernyitkan dahi? Jadi tujuannya hanya menonton itu saja? Huh... seperti anak kecil.
Sena tetap meminta pulang namun Devan tak mau, ia tetap bersikukuh membawa Sena untuk menonton acara yang diselenggarakan sebulan sekali itu. Devan tak ingin menyiakan kesempatan romantis ini. Biasanya ia akan mengajak Kia namun Kia kali ini membiarkan mereka berduaan. Bocah itu sadar jika sang Papa butuh privasi dengan calon istrinya.
"Oh ya, Kak. Kapan-kapan kita jenguk Kak Regan mau?"
Devan terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu. Sena mengira jika Devan tidak akan mau karena walau bagaimanapun Regan adalah mantan suami dari Sena.
"Gak mau ya, Kak?" tanya Sena.
"Boleh, besok juga oke sepulang dari kantor," jawab Devan sambil tersenyum.
"Benarkah? Kak Dev tidak cemburu?"
Devan mengusap kepala Sena, ia menggelengkan kepalanya. Untuk apa cemburu? Regan dulu juga adalah teman dekatnya. Membolos kuliah, tak mengerjakan tugas dari dosen bahkan nakal bersama-sama mereka lakukan tapi lagi-lagi karena kesalahpahaman membuat pertemanan mereka rusak.
"Apa Kak Devan bisa disebut teman makan teman?"
"Apa sih? Pertanyaanmu aneh-aneh. Kita ini memang berjodoh dan aku tidak merasa merebutmu dari Regan."
Sena meminta maaf karena sudah berspekulasi seperti itu. Devan tertawa kecil melihat wajah Sena yang lucu karena ketakutan. Devan menciumi pipi Sena membuat Anjas berdehem.
"Eheem... Nikahin dulu, Bos! Baru boleh uyel-uyel."
Devan langsung melepaskan rangkulannya, ia tersentil karena ucapan sang asisten yang menyindirnya. Dia melonggarkan dasinya yang membuatnya gerah. Jujur saja, ia sudah tak bisa menahan hasratnya untuk bercinta. Biasa, pria normal yang haus akan kasih sayang.
Sena juga bergeser seolah duduk menjauh, ia harusnya menjaga diri dulu sebelum dinikahi Devan. Anjas yang merasa ucapannya salah segera meminta maaf.
"Eh, kok gitu? Aku tidak bermaksud membuat kalian merasa sungkan. Aduh... mulutku ini," ucap Anjas sambil menepuk bibirnya.
"Tidak apa-apa. Terima kasih sudah mengingatkan kami. Mungkin jika tidak ada kau pasti kami sudah kebablasan," jawab Devan.
"Mobil goyang, Bos?"
Devan tertawa kecil. "Hahaha... Aku tak semiskin itu."
__ADS_1
"Ngomong apa sih kalian?" tanya Sena.
Anjas dan Devan tertawa bersama-sama, itu hanyalah pembicaraan pria yang tak bermutu. Sena yang merasa diabaikan memalingkan wajah, ia menatap kaca mobil yang dihiasi lampu jalanan yang seolah berjalan.
Sesampainya di jembatan besar pusat kota, Devan membukakan pintu mobil untuk Sena lalu menggandengnya seperti pasangan pada umumnya. Di sana sudah ada ramai orang bahkan juga banyak orang berjualan. Devan kini hanya mengenakan kemeja putihnya sementara jasnya ia tinggal di mobil.
Mereka berjalan bergandengan seperti sepasang kekasih. Walau usia Devan sudah 36 tahun namun pesonanya seperti berusia 25 tahun. Dia tampan, tinggi, putih, mempunyai dua lesung di kanan dan di kiri. Namun Devan menganggap dirinya tidak menarik karena memiliki penyakit Azoospermia.
Azoospermia adalah kondisi di mana jumlah sperma yang terdapat pada air mani yang diproduksi sangat sedikit. Bahkan, bisa jadi tidak ada satupun sel sperma yang berhasil diproduksi. Hal ini menjadi penyebab pria tidak subur dan tidak bisa memiliki keturunan. Dia selalu berkonsultasi pada rekannya yang seorang dokter dan ia melakukan tes laboratorium.
Masalah Kia? Devan sudah tahu jika saat itu Winda tidak hamil anaknya melainkan pria lain namun saat itu Winda mengaku sedang hamil anak Devan. Devan berpura-pura tidak tahu sampai sekarang mengenai Kia di depan Winda.
Devan juga saat ini memikirkan perasaan Sena, ia tak mampu membuat Sena hamil nantinya. Terlintas dipikiran Devan jika apa nanti dia mencarikan donor ****** untuk Sena? Semua membuatnya sangat pusing, sebagai pria ia merasa tidak berguna.
"Kak, aku ingin jagung bakar yang ada di sana," ucap Sena.
"Ayo beli!" jawab Devan.
Mereka menuju ke pedagang jagung bakar, Sena memandangi pedagang tua yang mengingatkannya pada sang Bapak.
"Pak, beli dua."
"Baik, Neng."
"Aku kangen Bapak," ucap Sena.
Devan melirik Sena, nampak air mata Sena menetes lalu segera diusapnya. Sena tak memiliki keluarga selain sang bapak namun kini beliau masih berada di penjara dan keluar masih lama.
Devan mengambil ponselnya, ia mengirimkan pesan pada Pras.
Devan.
Aku ingin kau mengurus pembebasan calon mertuaku. Aku akan menebusnya dari penjara. Jika bisa saat akad nikah beliau sudah bebas dari penjara.
Anjas.
Baik, Bos.
Devan menyimpan ponselnya, ia memperhatikan Sena lagi yang tersenyum saat pertunjukan air mancur pelangi dimulai.
"Aku ingin berfoto," ucap Sena.
__ADS_1
"Aku fotokan."
Devan mengambil ponsel Sena lalu memotret kekasihnya beberapa kali. Sena tak pernah merasakan sebahagia ini. Saat menikah dengan Regan hanya kepahitan yang dia dapatkan setiap harinya.
"Neng, jagung bakarnya sudah siap."
Devan mengeluarkan sejumlah uang lalu membayarkannya. Setelah itu mereka mencari tempat untuk duduk.
Di sana banyak sekali pasangan muda-mudi yang menonton. Sena pun tak mau kalah, ia makan jagung bakar sambil bersandar pada pundak Devan.
"Harusnya Kia ikut juga," ucap Sena.
"Dia sudah besar, sebentar lagi 9 tahun bahkan sudah tahu cinta-cintaan. Anak SD jaman sekarang memang up to date. Maka dari itu dia memang memberi waktu kita untuk mendekatkan diri," jawab Devan. Dia lalu menatap Sena dengan lekat. "Sena Sayang, aku berpikir sebaiknya jika kita sudah menikah lagi harus mencari donor ******," sambung Devan.
Sena tersedak, ia sampai terbatuk-batuk. Devan dengan cepat menuju ke tempat penjualan air minum dan membelinya untuk Sena. Setelah mendapatkannya, ia memberikan untuk Sena.
"Minum dulu!"
Glek... glek... glek...
"Kau gila!" bentak Sena. "Apa maksudmu donor ******?"
Rupanya ucapan Sena menjadi perhatian orang-orang sekitarnya. Devan lekas menutup mulut Sena menggunakan satu tangannya.
"Ssst... Pelan-pelan bicaranya!"
Devan melepaskan tangannya dari mulut Sena. "Donor ****** tak melulu hal yang negatif. Kita bisa melakukan bayi tabung namun harus menggunakan ****** yang bagus dan aku tak punya itu."
Sena sangat kesal, ia berlari menjauhi Devan. Devan mengejarnya dan menghentikannya.
"Lepaskan!" ucap Sena.
"Sena, ada apa?" tanya Devan panik.
"Aku tidak suka dengan pria yang gampang menyerah. Kita belum menikah dan belum melakukannya namun kau sudah menyerah sebelum berperang," ucap Sena.
Devan terdiam, ia menatap sorot mata kekesalan pada Sena. Dirinya sadar karena terlalu berlebihan namum ia melakukan itu karena suatu alasan.
"Sena, aku mandul. Aku bermasalah pada reproduksiku. Jika memang kau merasa aku berlebihan, kau bisa membatalkan pernikahan ini karena aku tidak bisa memberikanmu anak langsung," ucap Devan.
Devan mundur perlahan, ia lalu berjalan menjauhi Sena dengan keadaan tak karuan. Sena memandangnya dengan sedih, ia langsung mengejar Devan lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Maafkan, aku! Aku bukannya ingin menyakitimu. Kita bisa punya anak, kau pasti sembuh. Yakinlah! Jangan menyerah dulu!" ucap Sena.