
"Good morning."
Seorang pria menggunakan jas dengan dasi warna hitam masuk ke dalam toko bunga milik Sena. Sena Florist, itu adalah toko bunga miliknya.
Sudah satu tahun semenjak mereka menikah namun Sena belum dinyatakan hamil juga. Untuk menghilangkan rasa khawatirnya maka Sena memutuskan untuk membuka toko bunga tak jauh dari kantor milik Devan. Sena melakukan itu supaya tidak selalu kepikiran dengan program hamilnya.
"Morning too," ucap Sena.
Pria yang diketahui itu adalah Devan membuat Sena sangat senang. Dia memeluknya lalu mengajaknya untuk ke meja makan. Alasan utama Sena membuka toko bunga di dekat kantor Devan supaya jika jam makan siang mereka bisa makan bersama sembari dikelilingi berbagai jenis bunga yang sangat memanjakan mata.
"Ayo kita makan!"
Devan mengangguk. Dia melonggarkan dasinya, Sena mengambilkan berbagai lauk yang sudah ia masak di rumah.
"Oh ya, aku lupa memberi tanda 'Tutup'"
Sena lekas berdiri lalu memasang tanda supaya tidak ada calon pembeli yang mengganggu makan siang mereka.
Sena kembali duduk di sana sembari makan makanan yang dimasaknya. Mereka makan dengan lahap sampai habis tak tersisa.
"Sena, apa perlu kita mencari ****** pengganti?"
Sena tersedak, ia langsung meminum air putih yang ada di depannya. Semuanya membuat Sena sangat terkejut.
"Untuk apa? Mas, sudahlah! Kita nikmati prosesnya. Lagian kita baru satu tahun menikah."
Devan menghela nafas panjang, ia merasa seperti pria yang tak becus saja untuk memberi momongan. Sena berdiri lalu mengajaknya untuk berdansa sama seperti biasanya. Devan mau lalu mulai berdansa dengan Sena. Sesuai makan, mereka selalu berdansa sambil memutar lagu klasik. Betapa romantisnya mereka. Alunan lagu membuat mereka terbuai, mereka tak hentinya melangkah dan saling bertatapan. Semuanya membuat hati ini terasa lebih damai, mereka tahu caranya sedikit menghilangkan kekhawatiran mereka.
"Besok hari minggu, Kia ingin ke tempat wisata baru. Kau mau?" tanya Devan.
"Tentu saja, apapun demi putri kita aku mau," jawab Sena.
Devan mencium bibir Sena dan tak lupa memagutnya, sudah 1 tahun lebih mereka menikah dan belum dikaruniai momongan sendiri. Sesuai berciuman, Sena melepaskan tangannya dari leher Devan.
"Aku ingin membereskan piring dulu."
Devan mengangguk, ia melihat bunga-bunga di sekitarnya yang masih segar. Semua bunga ini didatangkan dari daerah pegunungan dan ditanam sendiri oleh Sena.
"Sena, tolong rangkaikan yang ini ya! Aku ingin memberikan pada Kia."
"Oh, bunga Lili. Nanti aku rangkaikan."
Sena mencuci piringnya di wastafel, tangannya begitu licin sampai membuat piring itu jatuh ke lantai di sertai bunyi yang nyaring.
__ADS_1
Pyaaar...
Devan terkejut, ia lekas membantu sang istri untuk membereskan pecahan itu.
"Hati-hati, Sayang!" pinta Devan.
Sena mengambil tempat sampah lalu membuang semua pecahan itu di tempat sampah. Untung saja tangan mereka tak terluka saat memegang pecahan itu.
"Sena, apa yang kau pikirkan sehingga sampai seperti ini?"
"Tidak ada. Aku hanya mengantuk saja, sepertinya aku akan menutup toko sampai besok."
Devan mengusap pipinya lalu mengecupnya dengan lembut. Devan berpamitan untuk kembali ke kantor karena jam makan siangnya sudah habis sementara Sena juga harus merapikan tempat ini. Setelah Devan pergi, Sena menyapu ruangan ini sampai bersih. Dia memang suka sekali dengan kebersihan bahkan setiap jam dia sapu jika memang tak ada pembeli yang datang ke toko bunganya.
Ceklek...
"Mas Devan? Ada yang ketinggalan?" tanya Sena.
Sena menatap seorang wanita yang membawa balita di gendongannya. Wanita itu seperti orang yang ia kenal.
"Kak Maya?"
Maya mendekat, ia langsung memeluk Sena dengan erat. Kesalahannya di masa lalu membuat Maya sadar jika dirinya menyesali semua perbuatannya.
"Kak Maya, semuanya sudah berlalu."
Maya menatap wajah cantik Sena, Sena memang semakin cantik saja. Dia lekas mengajak Maya untuk duduk lalu memberinya minum. Maya melihat toko Sena yang begitu tertata rapi, Sena sudah sangat sukses menurut Maya.
"Kapan keluar dari sana?" tanya Sena.
"Baru 2 minggu yang lalu. Aku dibebaskan dengan orang yang tak aku kenal."
Sena memandang balita yang dipangku Maya. Balita itu berjenis kelamin perempuan dan mirip dengan Maya. Jika Regan tahu pasti dia akan menyesal karena tidak menemani Maya sampai melahirkan.
"Namanya siapa?"
"Rani Mawar."
"Nama yang bagus."
Sena ingin menggendongnya namun balita yang bernama Rani itu tidak mau. Maya menjelaskan jika putrinya memang takut bertemu dengan orang baru.
"Kau tahu kabar Regan bagaimana?" tanya Maya.
__ADS_1
Sena pun menggelengkan kepalanya. Sejak saat itu dia tak berkomunikasi lagi dengan Regan. Regan juga tak mengabari sama sekali tentang kabarnya.
"Sena, aku ingin meminjam uang untuk beli susu anakku. Maaf jika kemunculanku tiba-tiba malah merepotkanmu."
Sena memandang dengan iba, ia juga mempunyai jiwa keibuan. Apalagi dia membayangkan jika anaknya yang dulu keguguran lahir pasti seumuran dengan anak dari Maya.
"Dia tidak minum ASI?"
Maya menggeleng, air ASI-nya tidak keluar mungkin karena stres yang berlebihan. Maya juga tak punya sanak saudara bahkan adiknya masih berada di penjara sampai saat ini.
Sena mengeluarkan sejumlah uang pada Maya. Walau wanita itu membuatnya sangat terluka di masa lalu namun yang berlalu biarlah berlalu. Mereka kini sudah tak memiliki konflik lagi karena tak ada yang mendapatkan Regan.
"Semoga ini cukup," ucap Sena.
"Terima kasih. Aku akan mengembalikannya jika sudah ada uang," jawab Maya.
Sena mengangguk, Maya lekas pulang dari tempat itu. Dia sangat berterima kasih dengan Sena. Mungkin dia hanya dianggap datang jika butuh saja namun dia hanya ingin membeli susu untuk putrinya.
Sena memandang kepergian Maya dengan iba, ia lekas menutup pintunya lagi dan menghela nafas panjang.
Niatku hanya membantunya. Batin Sena.
Sena mengemasi barangnya dan berencana untuk pulang lebih cepat. Dia juga harus menjemput Kia di sekolah.
Saat memasukan barang-barangnya di atas tas. Ada seseorang yang mengetuk pintu. Sena memperhatikan dari balik pintu tersebut.
"Siapa itu? Maaf, toko sudah tutup."
"Aku ingin beli bunga. Bisakah kau rangkaikan sebentar. Bunga Lili putih."
Sena membuka pintunya lalu melihat pria yang asing baginya. Pria itu mengenakan kemeja rapi dengan celana jeans dan berhidung mancung sekali.
Pria itu masuk, sedangkan Sena mulai merangkaikan bunga lili putih.
"Bukannya toko ini buka sampai jam 5 sore?"
"Iya, saya mengantuk jadi memutuskan untuk menutup cepat saja."
Sena merangkai dengan indah setiap helainya. Pria itu meminta untuk dirangkaikan 2 buah rangkaian. 10 menit kemudian, ia memberikannya pada pria tersebut dan pria itu memberikan uang padanya.
"Kembali 20 ribu. Tunggu sebentar!"
Pria itu tak memperdulikan dan langsung keluar begitu saja.
__ADS_1
****