Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Boncap : Nikahan mantan suami


__ADS_3

Tak mengapa jika punya masa lalu yang kelam asalkan masa kini dan seterusnya ada pelangi di depan mata ini. Tak apa dengan pernikahan pertama yang gagal membuat diri ini yakin jika kami saling memahami dan saling menguatkan. Sena Auradella.


"Morning, Mas."


Sena sudah sangat cantik sekali menggunakan baju batik senada dengan Devan maupun anak-anaknya.


"Mas Devan, sepertinya kebesaran ya bajuku?" Sena menatap postur tubuhnya yang sudah ramping karena diet yang ketat.


"Bagus kok, jangan aneh-aneh! Aku tidak suka pakaianmu terlalu ketat."


Sena memperhatikan baju batik yang dikenakan oleh Devan. Sangat pas sekali di tubuhnya. Wajah sang suami masih saja sangat tampan apalagi hidungnya yang mancung semakin membuat Sena mengaguminya.


"Anak-anak kita susah siap? Yakin ingin membawa kelima anak kita?" tanya Devan.


"Jika bisa aku bawa anak-anak panti juga. Memangnya kenapa sih, Mas? Malu punya 5 anak?"


"Hei, bukan begitu. Cuman lucu saja. Ah... sudahlah, nanti terlambat."


Devan menyudahi di depan cermin lalu menggandeng Sena untuk segera berangkat. Serafina dan ketiga adik kembarnya masing-masing membawa pengasuh sedangkan Kia masih asyik berdandan. Gadis remaja itu tak mau kalah untuk berdandan secantik mungkin.


"Papa, Mama, lihatlah lipglos yang aku pakai!" ucap Kia.


"Cantik," jawab Sena.


Sedangkan Devan tak menjawab karena merasa tidak menyukai Kia yang sedang berdandan. Namun dia bersyukur jika Sena dan Kia sangat akur seperti ibu dan anak pada umumnya.


"Ayo kita berangkat! Ini sudah jam 10."


Mereka menaiki dua mobil karena tak muat jika menaiki satu mobil, Devan menggunakan 4 pengasuh sekaligus untuk mengurus Serafina dan si kembar tiga. Devan tak mau sampai Sena kelelahan namun Sena tak angkat tangan begitu saja, para pengasuh akan pulang pada sore hari dan setelah itu Sena yang akan mengurus anak-anaknya.


Di dalam mobil.

__ADS_1


"Jadi Regan menikah dengan bocah?" tanya Devan.


"Mas nyindir aku? Dulu Mas Devan juga menikahi bocah."


Devan tertawa kecil, sangat lucu sekali ucapan Sena. Sena dan Devan terpaut 8 tahun namun bagi Devan, Sena adalah wanita dewasa yang paham akan masa lalu yang kelam dan kejadian yang tak mengenakan hati.


"Yang aku tahu, mereka sudah menikah dan ini adalah resepsinya tapi aku belum tahu wajah istri Kak Regan," ucap Sena.


"Kau cemburu?"


Sena mengernyitkan dahinya, ia tak merasa cemburu, justru malah sangat senang sekali karena Regan bisa mendapat pendamping hidup bukan dirinya dan bukan Maya. Masa lalu Regan juga sangat kelam sekali, mereka sama-sama belajar dari masa lalu.


"Andai saja waktu dulu kita tak bertemu dan saling kenal, aku yakin pasti kau sampai saat ini masih bertahan dengan Regan," ucap Devan.


Sena terdiam, takdir tidak ada yang tahu. Pernikahannya dengan Regan memang tak berjalan mulus bahkan terjadi perselingkuhan dibelakang Sena, namun ucapan Devan memang ada benarnya, hati Sena sebenarnya sangat lemah sekali dan jika tidak bertemu Devan pasti Sena akan bertahan dengan pria yang sangat egois.


"Bukan hanya kau saja, Sena. Jika aku tak bertemu denganmu pasti aku masih bersama dengan Winda," ucap Devan.


Devan tertawa kecil, pertanyaan macam apa itu? Mereka adalah orang-orang yang masih disayangi oleh Tuhan supaya mengakhiri rasa sakit akibat rumah tangga yang tidak sehat. Mereka bukan korban maupun pelaku sebab semua itu sudah terlupakan begitu saja bagi mereka.


Suara mobil menggema mengiringi perjalanan mereka, satu persatu masa lalu yang hilang kini semakin terkubur hidup-hidup. Masing-masing sudah memiliki masa depan sendiri termasuk Regan yang merupakan mantan suami.


Sena juga sudah membawa kado untuk mantan suaminya itu, jika waktu itu Regan membawakan kado pernikahan sebuah berlian mahal bahkan Devan sendiri pun tak tahu dan sekarang ini Sena membawakannya sebuah arloji mahal yang di desain oleh orang ternama di kota itu. Ketika Regan mengabarkan jika dirinya akan menikah, Sena menabung untuk memesan jam tersebut bahkan dia juga meminta pendapat Devan mengenai desain, warna dan coraknya.


Sesampainya di gedung besar itu, Sena masuk bersama Devan di sertai dengan anak-anaknya, keluarga Devan memang sangar ramai setelah kehadiran Serafina dan si kembar tiga. Devan dan Sena menyalami terlebih dahulu sang mempelai. Saat sudah di atas pelaminan, Sena memandang sang mempelai wanita yang tak asing dilihatnya. Wanita itu tak mau menatap Sena.


"Hai, selamat ya atas pernikahannya. Oh ya, apa kita sebelumnya pernah bertemu. Wajahmu sangat tidak asing," tanya Sena baik-baik.


"Sena, istriku memang pemalu. Maklum ya!" jawab Regan.


Wanita itu menginjak kaki Regan membuat kaki pria itu sangat kesakitan. Sena yang paham akan interaksi mereka segera turun dari pelaminan sambil berpikir siapa wanita tadi.

__ADS_1


Setelah sampai bawah, Devan menatap sang istri yang tengah melamun tidak jelas.


"Ciee... yang mantannya menikah lagi dan sepertinya istri Regan memang masih sangat muda, seperti umur 20 an," goda Devan.


"Apaan sih, Mas? Iya, sepertinya begitu. Selera Kak Regan memang masih sama seperti dulu," jawab Sena.


Mereka memutuskan untuk makan lebih dulu, Kia sudah menyantap bakso dan soto bersama Bram. Sedangkan si kembar tiga masih berada di kereta dorong masing-masing.


"Mbak, makan dulu gih! Si kembar dan Sera tidak rewel biar aku yang jaga," ucap Sena kepada keempat pengasuhnya itu.


"Tidak perlu, Bu. Nyonya Sena makan dulu!"


Sena menggelengkan kepalanya. "Aku diet. Sana makan atau minum yang kalian mau! Mumpung gratis."


Sena memaksa, pada akhirnya mereka tidak ada pilihan lain untuk makan. Sena menjaga mereka berempat dan menawari mereka makan es krim. Si kembar mau kecuali Serafina. Sena mengambilkannya sejenak lalu menyuapi mereka.


Devan sedang mengobrol dengan teman-temannya dulu. Sudah lama mereka tak berjumpa, terakhir kali saat masih kuliah. Tak berselang lama Regan turun dari pelaminan lalu menghampiri Sena. Mereka seolah mengobrol sesuatu membuat Devan merasa cemburu namun bukan itu yang membuatnya sakit hati melainkan ucapan salah satu temannya.


"Van, jahat banget sih kau ini. Kau rebut milik Regan."


"Kau ngomong apaan? Jangan fitnah!" jawab yang lainnya.


Devan hanya tersenyum kecil, orang yang tidak tahu maka akan berpikiran seperti itu.


"Tak apa, berpikirlah sesukamu!" Devan tersenyum lalu menghampiri Sena dan Regan yang tengah mengobrol.


"Sena." Devan memeluk Sena dari belakang membuat Sena sangat terkejut dan malu.


"Devan, maaf jika aku mengobrol dengan istrimu. Oh ya, aku ingin mengundang kalian ke acara makan malam besok. Kami merayakan syukuran karena istriku tengah hamil 3 bulan," ucap Regan.


Kisah Regan :

__ADS_1



__ADS_2