
"Benar ucapan Pak Devan tadi jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk membicarakan itu," jawab Sena.
Devan tahu jawaban Sena itu adalah sebuah penolakan. Dia sudah merasakan feeling itu sejak tadi. Devan paham, ini terlalu cepat bahkan baru beberapa bulan yang lalu mereka bercerai dari pasangan masing-masing.
"Tapi ku pastikan jawaban itu adalah iya," sambung Sena membuat Devan mengernyitkan dahinya.
"Iya untuk apa?"
Pipi Sena memerah mendengar pertanyaan dari Devan. Devan terus menyelidik melihat Sena yang salah tingkah. Sorot mata Sena seolah malu-malu untuk menjelaskannya namun dengan sedikit keberanian membuat tak ada pilihan lain.
"Iya mau menjalin hubungan denganmu," jawab Sena.
Senyuman Devan mengembang, dia terus menatap lekat wajah Sena yang semakin merah padam. Baru pertama kali ini Sena mengutarakan hal seperti itu.
"Menjalin hubungan dalam seperti apa? Mau menikah denganku?" tanya Devan meyakinkan.
Jantung Devan berdegup dengan kencang, dirinya sudah tak merasakan hal ini sejak lama. Rasanya Devan seolah menuju di usia remaja lagi yang baru saja menyatakan perasaannya. Sena menggelengkan kepala membuat jantung Devan seolah terhenti, apa ini pertanda sebuah penolakan?
"Jika untuk menikah tidak dulu, aku masih butuh waktu namun jika menjalin hubungan layaknya kekasih aku mau."
Devan merasa bahagia, Sena sudah memberikan lampu hijau untuknya. Apakah ini pertanda mereka sudah berpacaran layaknya ABG? Devan kembali menjadi muda lagi, pacaran? Ini pertama kalinya bagi mereka pacaran. Devan di usia 36 tahun, duda anak satu sementara Sena 28 tahun, janda muda sedang segar-segarnya.
"Jadi sekarang ini kita pacaran?" tanya Devan.
Sena mengangguk. "Kelihatannya seperti anak kecil namun tidak mungkin juga disebut hanya teman."
Devan begitu bahagia, Sena sudah menjadi kekasihnya dan selangkah lagi mereka tentu saja bisa menikah. Tangannya mengambil sebuah kalung yang dulu sempat ia berikan pada Sena namun wanita itu dulu sempat menolaknya. Devan menunjukan kalung itu, Sena mengangguk. Tak banyak bicara, Devan segera memakaikan kalung itu di leher Sena.
"Kau adalah pacar pertamaku dan akan menjadi istri terakhirku suatu saat nanti," ucap Devan.
"Tapi aku tidak bisa memastikan untuk menikah kapan."
"Aku akan menunggu hingga kau siap. Kita jalani saja dulu seperti air yang mengalir, lagi pula masih ada Regan dan Winda di sekitar kita."
Sena melihat kalung indah yang sudah tergantung di lehernya. Tak dapat dipungkiri jika dia sangat bahagia walau sebenarnya dalam suasana duka. Apakah Sena kurang ajar bahagia diantara orang lain yang tengah berduka? Sudahlah... dia hanya ingin bahagia sebentar saja. Sena memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, ia tidak enak Bram karena di sana tidak ada yang membereskan gelas-gelas dan beberapa piring berisi makanan. Para tamu terus berdatangan dan Sena segera mengambil gelas bekas dari orang yang sudah pulang sedari tadi lalu sebentar lagi juga akan dilakukan doa bersama untuk mendiang Intan.
Sena mencuci gelas dan saat bersamaan Regan datang lagi, dia melihat kalung yang dikenakan oleh Sena padahal tadi dia tidak memakai kalung. Regan membuka kulkas, ia mengambil pepaya dan berusaha memotongnya, cara memotong Regan sangat salah membuat Sena begitu risih.
"Sini biar aku potongkan!"
__ADS_1
Regan hanya memandang cara Sena memotong.
"Kau kan tidak suka pepaya," ucap Sena.
"Ini untuk Maya, dia ingin makan pepaya," jawab Regan.
Sena tersenyum tipis, mereka adalah pasangan yang pas dan pantas untuk bersatu kembali.
"Nah, sudah..." Sena memberikan sepiring pepaya pada Regan yang sudah terpotong-potong.
Sena lekas meninggalkannya namun ucapan Regan menghentikan langkahnya.
"Aku buktikan kau akan menyesal," ucap Regan.
Sena menengok ke arah Regan lalu bibirnya tersungging tipis. "Kau yang akan menyesal." Setelah itu Sena meninggalkan Regan dari dapur dan membantu Bram untuk menggelar tikar. Bram memandang Sena yang sedari tadi banyak membantu, tanpa Sena pasti Bram sangat kerepotan.
"Sena, nanti malam menginap di sini saja," pinta Bram.
"Maaf, Pah. Aku tidak bisa. Besok aku harus bekerja juga," jawab Sena.
Bram mengambil beberapa lembar uang ratusan ribu untuk Sena. "Ini untukmu, simpanlah!"
Sena menolaknya dengan sopan. "Berikan pada Maya saja, Pah! Dia tidak punya suami dan tidak bekerja."
Di sisi lain.
Devan masih di dalam mobil, ia mengganti nama kontak Sena menjadi "Pacar". Terkesan lebay pria duda itu namun ini memang pertama kalinya dia melakukan pacaran seperti anak muda pada umumnya. Pria 36 tahun itu memang tak pernah merasakan namanya berpacaran, dia langsung menikahi Winda walau wanita itu janda.
Anjas datang masuk ke dalam mobil, ia melihat sang bos senyum-senyum sendiri sambil menatap layar ponsel.
"Pak Devan, kita mau pulang saja atau ikut acara tahlil?" tanya Anjas.
"Kita di sini sampai Sena-ku ikut pulang," jawab Devan yang masih menatap layar ponselnya.
Sena-ku? batin Anjas heran.
Anjas menggeleng-gelengkan kepalanya, duda bucin jika sedang jatuh memang tidak ada yang bisa menyainginya.
Devan lekas keluar dari mobil, ia berdebar saat akan bertemu Sena lagi. Tak seperti biasanya, kali ini debaran sangat hebat.
__ADS_1
Jika Sena adalah jodohku maka segerakan buka mata hatinya untuk mau menikah denganku.
***
Di kost...
Sena mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Dia lekas membuka mata dan membuat pintunya. Ia pikir Anjas namun adalah Devan yang langsung menjemputnya di depan kamar kost dengan membawa serangkai bunga mawar merah.
"Pagi..."
"Ah, Pak Devan? Tunggu sebentar ya! Aku belum mandi."
"Bunganya tidak mau di terima dulu?" tanya Devan.
Sena tersenyum kecil, ia mengambil bunga itu lalu segera menutup pintu. Tak enak hati kepada tetangga kost jika dia membawa masuk pria yang bukan suaminya.
Senyuman Sena terus mengembang, ia membawa bunga itu di atas ranjang.
"Dari Mas pacar," guman Sena.
15 menit kemudian.
Sena sudah mandi dan mengenakan pakaian formalnya. Rambutnya ia ikat tinggi ke atas sehingga menunjukan kesan seorang sekertaris yang anggun. Sena lekas keluar, ia memandang Devan masih setia berdiri di depan pintu.
"Loh, Pak Devan bisa menunggu di mobil," ucap Sena.
"Aku tidak mau pacarku berjalan sendirian menuju ke mobil," jawab Devan.
Devan lekas menggandeng Sena dengan erat, ini pertama kalinya mereka menuju ke kantor dengan status pacaran namun Sena tak ingin mendeklarasikan dulu, tunggu waktu yang sangat tepat.
10 menit yang lalu.
"Anjas, sapu yang bersih! Itu ada batu juga, aku tidak ingin pacarku tersandung saat berjalan," pinta Devan membuat penghuni kost yang lain heran.
"Pak Devan aneh-aneh saja! Ini sudah bersih," jawab Anjas sambil menyapu menggunakan sapu lidi.
"Itu di dekat pagar sapu juga. Banyak kerikil."
Anjas menghela nafas panjang. "Lah, namanya pun teras masih tanah pasti ada kerikil. Pak Devan tinggal suruh si pemilik untuk menyemen halamannya."
__ADS_1
"Oh benar juga, berikan mereka uang! Suruh untuk menyemen ini semua."
Jiaaah... Duda jika bucin ngelebihin ABG. Batin Anjas.