Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 70 : Mengembalikan


__ADS_3

Devan menemani Sena ke klinik terdekat, dia menunggu Sena yang sedang diobati lengannya. Sepertinya Sena setelah ini akan diantar jemput oleh Devan mau atau tidak mau. Berbahaya sekali bagi mereka yang akan menikah pada bulan ini. Devan juga sudah mendapatkan pengganti sekertaris baru. Dia tak ingin Sena masih memikirkan pekerjaan padahal pernikahan mereka sebentar lagi. 


Sena menahan rasa sakitnya, sudah beberapa kali dia jatuh dari motor namun tak membuat dirinya kapok bahkan sangat suka sekali mengendarai motor ketimbang mobil. Bukan Sena namanya jika bukan wanita yang keras kepala. Dia selalu susah untuk diberitahu dan selalu mengulangi lagi dan lagi. 


Devan memperhatikan dengan khawatir membuat Sena merasa senang, calon suaminya sangat perhatian apalagi jika sudah menikah nantinya. Sena tak bisa membayangkan semua itu. Suami pertamanya memang sudah tidak bisa ia gapai, ia berharap suami yang kedua bisa benar-benar dia gapai dengan cintanya. 


Setelah selesai diobati, Devan membantunya untuk berdiri. Kaki Sena ternyata juga lecet namun sedari tadi Devan tak memperhatikannya.


Devan membayar terlebih dahulu sementara Sena sudah masuk ke mobil bersama Kia.


"Tante tidak apa-apa?" tanya Kia.


"Tidak apa-apa. Kau jangan khawatir!" jawab Sena.


Devan masuk ke mobil, ia akan mengantar Sena terlebih dahulu ke kos. Sena tak bisa menolak kekasihnya itu apalagi Devan takut Sena jatuh lagi.


"Besok hari terakhirmu bekerja. Lusa tidak usah berangkat lagi," pinta Devan.


"Kenapa? Aku masih punya waktu seminggu lagi untuk pekerjaanku. Percuma aku mati-matian untuk menjadi sekertaris jika langsung diberhentikan seperti ini." Sena sangat cemberut sekali, ia padahal sudah belajar keras untuk menjadi Sekertaris.


Devan paham akan maksud Sena, namun dia tak ingin membuat sang calon istri kelelahan. Devan hanya ingin Sena fokus pada pernikahan mereka dan menyuruh Sena di kamar kos saja menghindari hal yang tidak diinginkan seperti tadi yang jatuh dari motor.

__ADS_1


"Jika kalian menikah jangan lupa permintaanku. Aku mau adek yang banyak," ucap Kia.


Devan dan Sena tersenyum. Tentu saja, mereka akan membuatkan adik yang banyak jika memang diizinkan oleh takdir.


Sesampainya di kos.


Devan mengantar Sena sampai depan pintu, Sena mencium tangannya dan mencecup pipinya.


"Setelah ini istirahat dan langsung tidur. Itu motormu juga sudah sampai di sini."


Sena mengangguk, saat hendak masuk ke kamar kost. Devan menarik tangannya lalu tubuh Sena tak sengaja menabrak dada Devan. Sena sangat canggung saat ditatap oleh Devan.


Sena mengangguk sambil tersenyum, ia lekas masuk dan menutup pintunya. Dia menghela nafas panjang, sebentar lagi dia akan memiliki keluarga baru.


Sena melempar tasnya di ranjang lalu lekas ke kamar mandi. Dia harus menahan perih padahal baru saja diobati. Tak mungkin juga ia pulang tanpa mandi. Rasa perih menyeruak, ia merasakan kaki dan lengannya sangat sakit. Bukan Sena jika tidak keras kepala.


Seusai mandi, dia segera mengelap seluruh tubuhnya menggunakan handuk kering. Semuanya sudah ia lap lalu memakai baju.


Saat bersamaan, ia mendengar suara pintu terketuk. Sena lekas membukanya dan sangat terkejut saat melihat Regan datang malam-malam begini apalagi sendirian.


"Kak Re dengan siapa?" tanya Sena.

__ADS_1


"Aku sendiri dan jangan bilang Papa!" pinta Regan.


Sena menyuruhnya untuk duduk di teras. Kini mereka duduk bersebelahan, mereka sangat canggung karena sudah lama tidak berduaan seperti ini. Regan mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Sena menatap lekat sebuah tugas yang sempat dia punya sewaktu masih kuliah dulu.


"Ini punyamu dulu yang sempat aku robek karena salah. Maafkan, aku! Waktu itu aku terlalu kasar padamu. Seharusnya aku tidak boleh melakukan hal seperti itu. Aku merasa sangat bersalah," ucap Regan.


Sena mengambil kliping itu lalu memperhatikannya dengan seksama. Sena tersenyum kecil, semuanya sudah berlalu dan ia juga tak sakit hati atas kejadian kurang menyenangkan itu.


"Aku merasa tidak apa-apa. Dulu memang kesalahanku yang membuatmu marah," jawab Sena.


Regan menatap wajah Sena, ia merasa bahagia jika Sena juga bahagia. Tak ada satupun dendam diantara mereka. Setelah urusannya selesai, Regan berdiri dan memutuskan untuk pulang ke rumahm. Dia tak ingin saat Bram terbangun bingung mencari keberadaannya.


"Kak Re, semangat!" ucap Sena.


"Terima kasih. Sekarang masuk dan tidurlah!" jawab Regan.


Sena masuk ke kamarnya, dari balik pintu ia masih memperhatikan Regan yang keluar dari sana. Air mata Sena pun menetes, mantan suaminya benar-benar sudah menyesali perbuatannya bahkan sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Andai saja Regan sudah berubah sejak dulu maka tidak mungkin Sena akan memilih Devan.


****


Besok siapkan amplop! Kita hadir di pernikahan Sena - Devan. :)

__ADS_1


__ADS_2