Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai

Berbagi Cinta : Suami Yang Tak Tergapai
Bab 56 : Mental


__ADS_3

Davikah meyakinkan Sena jika perjodohan mereka tidak akan terjadi. Davikah juga tidak mungkin menikahi kakak sepupunya. Sena masih tidak yakin dengan ucapan model cantik itu apalagi Sena sudah terlalu banyak ditipu dalam rumah tangganya dulu. 


"Sena, Kak Devan sayang denganmu. Dia terus membicarakanmu di depan saudara kami yang lain."


"Tapi media sudah membicarakan pertunangan kalian." Sena membuka ponselnya dan membaca seluruh media yang memberitakan bahkan menjadi trending topik. 


Davikah memandang Devan, Devan pun hanya ada ide untuk mengadakan pers dengan media untuk menjelaskan kesalahpahaman ini namun jika melakukan itu yang paling dirugikan adalah Davikah, sebab dia berbohong pada media. 


"Sena, please! Jangan diambil hati omonganku, ya!" Davikah menggenggam tangan Sena dengan erat. 


Sena berpikir sejenak, ia mengangguk dan bisa bernafas lega jika memang sedari tadi hanya kesalahpahaman. Davikah tersenyum senang, ia memandang Devan. "Cieeee... dapat calon istri bucin parah sampai cemburu."


Sena mendengus kesal namun dia memang sangat malu saat bertindak kekanakan bahkan berencana membatalkan pernikahannya. Davikah terus  menyenggol lengan sepupunya. Devan berdehem lalu menyembunyikan rasa bahagianya. 


"Ehem... Sena, sudah percayakan?"


Sena mengangguk, dirinya juga meminta maaf dengan Devan. Karena rasa traumanya membuat Sena harus hati-hati untuk memilih calon suami. Davikah berdiri sambil memakai kacamata hitamnya, ia berpamitan untuk kembali ke agensinya karena ada urusan penting sedangkan kini Devan hanya berdua dengan Sena. 


"Rambutmu sudah selesai?" tanya Devan sambil memperhatikan rambut Sena yang masih basah. 


"Belum selesai, baru selesai keramas. Aku sudah gak mood lagi ke salon." Sena mengerucutkan bibirnya.


Devan sangat gemas ingin mencium kekasihnya itu, saat  bersamaan ia memandang cincin yang biasanya dipakai Sena namun sudah tidak ada. Sena menjelaskan jika sudah menyimpannya dan berencana akan menjualnya jika mereka benar-benar putus. Sungguh jiwa matre Sena keluar juga, dia tak ingin rugi. 


"Hahaha... ada-ada saja. Ya sudah, kita pulang yuk! Tapi aku antar pulang ya? Anjas sudah pulang duluan mengantar Kia."


Sena menaikan alisnya. "Pulang saja sendiri!"


Sena lekas meninggalkan Devan lalu menuju ke tempat parkir, Devan meninggalkan beberapa uang di meja untuk membayar makanan dan minuman yang ia pesan. Setelah itu menghampiri Sena, ia memohon untuk diantarkan pulang. 


"Ya sudah, Pak Devan yang di depan ya?"


"Beres..." 

__ADS_1


Untungnya Sena selalu membawa 2 helm dan ia simpan di bawah jok motor.  Sena memasangkan helm pada Devan dan mereka mulai meninggalkan cafe tersebut. Devan baru pertama kali mengendarai motor matic namun sudah terlihat sangat lihai. 


"Pegangan, Nana!"


"Apa sih?"


Sena tak mau berpegangan, ia terlihat masih cemberut saja. Devan ingin sedikit menggoda Sena, ia mencari jalan kampung yang banyak polisi tidurnya. Biasalah... modus laki-laki. Sena awalnya tak menggubris mau lewat mana yang terpenting bisa sampai rumah namun...


"Akhh..." Sena menjerit kesakitan tatkala ia hampir terlempar tinggi saat motornya melewati polisi tidur. 


"Pegangan!"


Sena tetap tidak mau. Devan tersenyum kecil, baru ini juga dia memboncengkan perempuan apalagi kini sudah menjadi kekasihnya. Di depan ada polisi tidur lagi, Devan meyeringai, ia dengan sengaja mempercepat laju kendaraannya tanpa mengerem.


Duaaak...


Dada Sena dengan tepat mengenai punggung Devan. Itu adalah kesempatan yang benar-benar empuk namun itu adalah rasa sakit yang diderita Sena. Sena yang kesal mencubit pinggang Devan. Duda itu memang sangat kekanakan sekali bahkan dia tidak tahu hal tersebut bisa membahayakan mereka. 


"Jangan kekanakan!" bentak Sena.


Sena menggeleng, ia pada akhirnya mau berpegangan dengan memeluk duda bucin itu dari belakang. Mereka menikmati kali ini dan rasanya seperti muda kembali, apalagi Devan yang sudah lama tidak merasakan debaran seperti ini sejak pernikahan dengan Winda terjadi. 


"Kau tahu? Aku membayangkan jika Kia di depanku sedangkan kau duduk dibelakangku sedang menggendong bayi," pungkas Devan, sungguh imajinasi yang menggelikan. 


"Lalu gunanya mobil untuk apa?"


"Ya, maksudku sekali-kali kita melakukan ini seperti orang-orang menengah ke bawah pada umumnya. Aku iri dengan mereka walau serba kekurangan namun pandai membuat dirinya bahagia seperti ini."


Sena semakin memeluk Devan, ia pun juga merasa terbuai. Tak dapat dipungkiri jika mereka sangat bahagia. Jalanan kampung sudah terlewati dan kini masuk ke jalan raya. Devan memfokuskan dirinya bahkan dia juga tidak punya SIM C. Sena memutuskan mengambil alih kemudinya dan Devan berada dibelakang. Kini Devan si duda bucin itu bergantian memeluk Sena dari belakang.


"Nana, aku sungguh bahagia. Aku mencintaimu."


"Iya, tapi jangan kenceng-kenceng juga pegangannya. Malu dilihat orang."

__ADS_1


Devan tertawa kecil, ia mengendorkan pegangannya dan memperhatikan jalanan yang ramai lancar. Saat  bersamaan, Regan yang diantar pihak kepolisian menuju ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan pada mentalnya. Dia melihat mantan istrinya sangat bahagia memboncengkan pria yang ada dibelakangnya, mereka mengobrol bersenda gurau bahkan saat berhenti dilampu merah mereka asyik tertawa.  Regan memalingkan wajahnya, dia sangat cemburu dengan Sena bahkan dulu saat mereka masih berumah tangga tidak pernah sedekat itu. 


"Itu mantan istriku," ucap Regan.


"Oh, kau masih mencintainya?"


"Iya, aku sangat mencintainya." Nada bicara Regan seperti orang linglung membuat mereka sebagai tim penyidik merasa sangat kasian dengan Regan. 


"Jika kau mencintainya kenapa bisa menyakitinya?"


Regan menghela nafas panjang. Dia memegangi kepalanya yang sangat sakit. "Apakah kita sudah sampai Oxford Univercity? Aku harus melanjutkan kuliah di sana. Aku harus lulus S3 lalu mengajak Senarita kembali padaku, pasti dia sangat bangga denganku. Benar 'kan Pak polisi?"


Sepertinya Regan mengalami gangguan mental yang sangat parah bahkan sedari tadi mendapat secercah pertanyaan dari tim penyidik hanya menjawab dengan tertawa, menangis bahkan diam saja. Polisi tak mungkin melanjutkan penyelidikan karena terdakwa mengalami gangguan pada mentalnya.  Sena juga sudah mendapatkan panggilan dari polisi dan esok hari dia harus datang untuk dimintai keterangan. 


***


Setelah menjalani tes pemeriksaan. Regan diperbolehkan untuk pulang ke rumah namun esok hari dia harus datang ke kantor polisi lagi. Bram menghela nafas panjang, ia sangat sedih karena Regan harus mengalami nasib ini bahkan lambaut laun Regan semakin parah saja. Dia terus meminta obat anti depresan dan menenggak sangat banyak, baru dia bisa normal kembali namun dokter tak membenarkan apa yang dilakukannya, Regan harus meminum obat sesuai yang diresepkan oleh dokter. 


"Papa, aku harus berangkat ke Oxford, aku dapat beasiswa," ucap Regan. 


"Re, sudahlah! S2 saja apa tidak cukup?" tanya Papa. 


Regan menggeleng. "Supaya Sena bangga padaku." 


"Sena sudah tidak bisa kembali padamu dan satu lagi, persidangan perceraianmu dengan Maya akan segera dilakukan. Kau belum resmi bercerai dengannya," ucap Bram. 


"Siapa Maya? Aku tidak punya istri."


Bram terdiam melihat Regan yang semakin mengkhawatirkan. 


Apa yang kau lakukan, Re? Sampai kau mendapat ganjaran seperti ini? Ini salah Papa juga yang tidak bisa mendidikmu dengan baik. Apa kau tertekan karena Papa juga? Papa selalu menyuruhmu menjadi yang terbaik bahkan selalu menekanmu berharap  masuk ke Oxford. Papa sangat salah. Batin Bram. 


##

__ADS_1


Tim Regan sabar ya....


Regan akan mendapatkan yang terbaik.


__ADS_2