
Devan menarik tangan Sena lalu memangkunya, dia mengusap perut Sena dengan heran. "Kau hamilkah? Baru sehari kita buat langsung jadi?"
Sena mengernyitkan dahinya, ia menggelengkan kepala seolah mengelak, tak mungkin secepat itu pasti ada masalah dalam masa reproduksinya. Memang benar jika bulan ini belum menstruasi dan menstruasinya tidak lancar.
"Periksa ke dokter yuk! Biar lega dan tahu apa penyebabnya," ajak Devan,
Sena berpikir sejenak, ia mengangguk namun dengan syarat jika mau dibelikan es krim rujak. Devan terheran, kenapa tingkah Sena seperti orang yang sedang hamil? Semua ini tidak mungkin jika hamil dalam waktu sehari saja.
"Tidak mau belikan?" tanya Sena.
"Eh... sebelum menikah tidak melakukan hubungan intim dengan siapapun 'kan?"
Sena menatap tajam Devan, ia langsung berdiri seolah sangat geram dengan pertanyaannya. Sena tak mau menjawab dan langsung menarik selimut sampai kepalanya.
"Sena?"
Sena tak menjawab, Devan meminta maaf jika pertanyaannya sangat salah. Dia tak bermaksud memfitnah Sena yang berhubungan dengan pria lain, Devan hanya memastikan saja karena dia trauma akan pengkhianatan.
"Nana sayang, aku minta maaf," ucap Devan.
"Aku paling benci dengan orang yang menganggap aku murahan mau berhubungan intim dengan orang lain. Bahkan selama 2 tahun aku tak disentuh Kak Regan namun aku masih bisa menjaganya dengan baik," jawab Sena.
Devan mendekatinya lalu meminta maaf yang sebesar-besarnya. Dia menarik selimut Sena yang menutupi seluruh tubuhya, ia melihat Sena sangat cemberut. "Maafkan, aku! Aku tak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu."
Sena mendorongnya, tatapan tajam menyertainya. Devan sudah merasa sangat bersalah, ia tak mau Sena tiba-tiba meminta bercerai darinya padahal baru menikah 2 hari ini. Namun semuanya berubah saat tiba-tiba Sena tertawa terbahak-bahak.
"Buahahahhah... lucu sekali wajah Kak Devan."
Dahi Devan berkerut, dia menatap heran istrinya itu.
"Aktingku bagus 'kan?" tanya Sena sambil menjulurkan lidah.
Devan tersenyum kecil, dia hampir terkena serangan jantung saat mengetahui Sena marah padanya. Devan menarik tubuh Sena lalu menggelitikinya, ia sangat kesal sekali saat Sena menipunya. Sena kegelian sambil tertawa, mereka saling menggelitiki sampai terjatuh dilantai. Untung saja tangan Devan memegang kepala Sena supaya tidak terbentur lantai.
__ADS_1
"Tidak apa-apa 'kan?" tanya Devan.
"Iya, sudah ah... aku pusing ingin istirahat." Sena bangun lalu merebahkan diri di atas ranjang empuk itu.
Devan menghela nafas panjang, Sena memang susah sekali untuk datang ke dokter. Dia memang tidak pernah belajar dari kesalahan saat dulu sempat terjatuh dari motor dalam keadaan hamil, bukannya ke dokter malah lanjut ke salon.
"Sena, nanti malam ada acara makan malam dengan dewan direksi. Papa menyuruhku untuk datang bersamamu."
"Iya, Kak."
"Bisakah kau mulai sekarang jangan memanggilku dengan sebutan Kak? Terdengar sangat aneh sekali."
Sena membuka matanya. "Oke, akan aku panggil Mas."
Devan tertawa kecil, benar saja jika dia lebih suka dipanggil Mas karena terlihat lebih seksi dan garang. Devan kembali merebahkan dirinya disamping Sena, dia tidak ada pekerjaan dan rasanya sangat bosan sekali. Tidak ada bulan madu hari ini dan hanya ada di kamar saja. Sena menutup matanya, ia terlelap seketika. Tangan Devan memegang kening Sena, ia merasakan tubuh sang istri masih panas lalu mengompresnya. Betapa sayangnya Devan dengan sang istri namun dulu Winda malah menyiakannya demi kesenangannya sendiri.
"Aku mencintaimu, Senarita," bisik Devan sembari memberikan kompres untuknya.
**
"Mau ke mana, Mas?"
"Kita ke dokter kandungan, aku kepikiran terus. Coba kau lihat dulu apakah masih keluar lagi darahnya?"
Sena berusaha untuk berdiri dan Devan membantunya masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Sena memplorotkan celananya di depan Devan. Darahnya keluar lagi setelah terhenti.
"Ada yang tidak beres, Sena. Ayo kita ke dokter kandungan!"
"Jangan menakutiku! Aku sangat takut sekali."
Devan menaikan celana Sena, tangannya juga mengusap rambutnya yang menutupi kening. Rona mata Sena menunjukan akan ketakutannya namun Devan meyakinkan jika semuanya baik-baik saja karena apapun yang terjadi mereka akan tetap bersama-sama. Pada akhirnya Sena mau, Devan merangkulnya untuk keluar dari kamar hotel. Anjas sudah ada ditempat parkir untuk menunggunya. Anjas membukakan pintu lalu sedikit menggoda sang bos.
"Cieee... ciee... pengantin baru baru saja keluar dari gua persembunyian."
__ADS_1
"Sstt... "Devan tersenyum kecil, ia sangat malu saatv Anjas menggodanya.
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Anjas melajukan mobilnya ke dokter kandungan terdekat. Sena sedari tadi merasa sangat ketakutan jika terjadi apa-apa dengan dirinya. Sesampainya di dokter kandungan, Sena melakukan USG untuk melakukan pemeriksaan. Dia menutup matanya karena trauma. Devan sebagai sang suami disampingnya dan menggenggam tangannya.
"Di bibir rahimnya luka dan mengeluarkan darah segar. Apa dulu Bu Sena pernah terjatuh?" tanya bidan.
"Ya, sudah lama sekali dan sempat dijahit juga."
"Oke, ini hanya luka ringan dan tidak memperngaruhi rahim anda. Mohon maaf sebelumnya. Apakah kalian pengantin baru?"
Devan dan Sena saling memandang. Bidan tersebut tersenyum kecil. "Tidak masalah, maklum saja pengantin baru tapi lain kali lebih berhati-hati saja."
Dokter meresepkan obat pereda nyeri dan penyembuh luka untuk Sena dan harus diminum setiap hari. Seusai memeriksakan diri mereka keluar dari ruangan itu, Sena merasa geli karena ini adalah ulah dari Devan yang liar.
"Kenapa Bu Winda dulu menyebutmu loyo? Padahal ganas begini."
"Winda pernah mengatakan seperti itu?"
Sena mengangguk, Devan tak menyangka jika Winda mengatakan hal bodoh tentangnya di depan Sena. Mereka keluar dari rumah sakit lalu menuju ke mobil. Devan cukup kecewa jika memang Sena bukan hamil. Huh... apa yang dia pikirkan? Baru saja menikah sudah berharap punya anak? Harusnya Devan senang karena Sena tidak hamil terlalu dini karena dia masih ingin menikmati proses pacaran setelah menikah.
"Aku ingin makan gulali," ucap Sena.
"Tadi rujak es krim, sekarang gulali," jawab Devan.
Sena merengut tatkala Devan mengatakan seperti itu. Devan mencubitnya dengan gemas. "Iya, kita mampir membelinya."
Sena sangat senang sekali, Devan masih menduga jika Sena sedang proses menuju kehamilan. Bisa dilihat dari perilakunya yang sangat manja dan pemarah.
**
Di sisi lain. Regan melamun tidak jelas sambil menatap kaca. Sudah beberapa hari dia tidak mencukur bulu-bulu halus yang tumbuh di wajahnya.
"Regan, nanti malam mau datang menemani Papa di makan malam dengan para direksi perusahaan? Mumpung kau belum berangkat ke Eropa."
__ADS_1
"Baiklah, tapi jika lama akan aku tinggal pulang."
Bram menghela nafas panjang, dia ingin sekali mencegah Regan untuk ke Eropa namun sayangnya Regan sangat keras kepala.